Angkringan Merah Putih, Suguhkan Rekam Sejarah RI

Ngopi, kongkow plus mengenal sejarah, itulah yang ingin disajikan Angkringan Merah Putih (AMP) yang berlokasi di Jl. Kenjeran, Surabaya. Bahkan menu-menunya juga mengingatkan pengunjung terhadap perjuangan pahlwan mengamankan berbagai kekayaan alam Indonesia.

Berawal dari keinginan untuk membuat rumah rakyat yang dapat didatangi oleh masyarakat, Gesang  akhirnya mempunyai keinginan membuka angkringan sendiri layaknya di Jogjakarta. Kedai yang awalnya hanya dilengkapi meja kecil ia rintis sejak 2009, kini sudah memiliki gerobak guna menyuguhkan dagangannya. Angkringan yang berlokasi di Jalan Kenjeran No.519  Gading – Surabaya ini, ia beri nama

Tak sekadar nama, saat melihat sisi depan angkringan, kita akan disuguhkan dengan deretan bendera merah putih. Ditambah lagi, pada bagian depan angkringan juga terdapat gambar presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Konsep yang diberikan di tempat ini sangatlah unik, layaknya angkringan tempo dulu. Dinding-dindingnya terpampang gambar dengan unsur Indonesia, dinding-dindingnya berupa batu bata, dilengkapi lukisan bergambar Bali.

Di bagian kiri setelah pintu masuk, pengunjung akan disuguhkan dengan deretan camilan beraneka ragam. Kesan tempo dulu juga tampak dari menu-menu yang disuguhkan. Seperti tahu isi, pisang goreng, ote-ote (weci), tempe tepung tahu bacem, tempe bacem, dan masih banyak lagi.

Angkringan yang buka pada pukul 4 sore hingga pukul 1 malam ini, juga menjual wedang uwuh serta kopi joss sebagai minuman pendamping kudapan yang ada disini.

Wedang uwuh yang berasal dari campuran rempah-rempah sengaja dipilih karena Gesang ingin melestarikan warisan leluhur. “Awake dewe biyen diidek-idek penjajah iku gara-gara rebutan rempah kok, saiki awakdewe tinggal nerusno sebagai penikmat kemerdekaan” ujar Gesang.( Jawa: kita dulu diinjak penjajah itu gara-gara berebut rempah, sekarang kita tinggal meneruskan sebagai penikmat kemerdekaan,red).

Untuk wedang uwuh sendiri, dibuat dari beberapa rempah didalamnya, seperti daun cengkeh, daun kayu manis, kulit pohon kayu manis, kapulaga, cengkeh, batang cengkeh, jahe emprit, kayu secang, dan daun pandan. Dan hingga sekarang wedang uwuh masih menjadi primadona di AMP ini.

Dengan mengusung konsep bangunan yang sederhana namun menyimpan banyak cerita, Gesang tidak mau mengikuti arus konsep angkringan seperti sekarang, ia masih tetap berpegang teguh pada unsur angkringan Jogjanya itu.

“Konsep saya menjalani sesuatu dengan natural dan apa adanya. Seperti halnya tembok-tombok yang pecah-pecah, kayu yang keropos, saya tidak mau membenarkan. Biar alam yang berbicara,” tutur Alumni Psikologi Untag itu.

Saat kita memasuki ruang inti dari AMP ini, kita akan disuguhkan dengan banyaknya potret sang proklamator, Ir. Soekarno yang terpajang rapi di dinding. Lebih kurang terdapat 100 foto Presiden pertama RI itu, namun ada satu foto presiden yang menjadi foto favorit Gesang. Memiliki ukuran besar, foto itu bingkai dengan kayu.

“Jadi ini foto yang paling favorit, bukan karena besar ukurannya, tetapi pada bagian belakang foto ini terdapat tanda tangan Pak Karno,” jelasnya.

Alasan Gesang memilih Soekarno sebagai ikon pada angkringannya ialah baginya Soekarno merupakan tokoh pertama yang berani memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Gesang yang berlatar belakang anak dari seorang Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ini menginginkan agar sejarah Indonesia agar terus tetap dijaga serta tetap menjaga kekayaan Indonesia.

Tak hanya itu, menarik lagi para pekerja AMP berasal dari Indonesia bagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT). Gesang sengaja mengambil pekerja yang berasal dari luar pulau, karena lagi-lagi ia tidak ingin melupakan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia bagian timur tersebut. 

“Pegawai dari NTT sengaja dipilih berdasarkan kisah bung Karno yang dulu merenungkan Pancasila di pulau Ende, Flores NTT.” Tutupnya. ( Sas/Ace)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini