Dosen Ekonomi Syariah Unair Bagikan Tips Menabung Haji Secara Efisien 

SURABAYA (Lenteratoday)- Dapat menunaikan ibadah haji merupakan impian seluruh umat Muslim di dunia. Sayangnya, biaya untuk menunaikan ibadah haji tidaklah kecil. Untuk itu, banyak calon jamaah harus mempersiapkan dana yang cukup besar dalam jangka waktu yang panjang.

Dosen Pengajar Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Dr Imron Mawardi SP MSi menyampaikan beberapa pertimbangan penting dalam menabung untuk haji.

Menurutnya, hal pertama yang harus diperhatikan adalah mengetahui berapa lama waktu antrean saat ini.

“Di Jawa Timur, jika mendaftar sekarang, perjalanan haji kemungkinan baru bisa dilakukan 32 tahun kemudian. Meski terlihat lama, calon jamaah berusia 50 tahun ke atas tidak perlu khawatir karena pemerintah memprioritaskan lansia,” ucapnya, Selasa (11/6/2024).

Selanjutnya, dalam mempersiapkan tabungan haji, Imron menjelaskan bahwa calon jemaah perlu menghitung biaya yang harus ditanggung, yang saat ini sekitar 56 juta rupiah dari BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji). Total biayanya mencapai sekitar 96 juta rupiah. 

“Calon jemaah harus membayar 60 persen dari biaya tersebut, yaitu sekitar 56 juta rupiah. Ketika mendaftar, dibutuhkan biaya awal 25 juta rupiah sehingga untuk berangkat haji diperlukan tambahan sekitar 31 juta rupiah,” jelasnya.

Melihat biaya berhaji yang tak kecil, Imron mengatakan jika menabung untuk haji dimulai dengan merencanakan kapan bisa mengumpulkan uang 25 juta rupiah untuk pendaftaran.

Jika targetnya adalah tiga tahun, maka harus dihitung berapa yang perlu ditabung setiap bulan untuk mencapai 25 juta rupiah dalam tiga tahun.

“Hal ini memerlukan pengaturan konsumsi dan pendapatan. Jika pendapatan bulanan adalah 5 juta rupiah dan ingin menabung 800 ribu rupiah per bulan, maka perlu anggaran konsumsi yang dibatasi,” tuturnya.

Ia menambahkan untuk mengelola keuangan sehari-hari agar bisa menabung tanpa mengorbankan kebutuhan harian, perlu mengatur anggaran rumah tangga dengan baik. Idealnya, sepertiga pendapatan digunakan untuk konsumsi rutin, sepertiga untuk cadangan atau kebutuhan tidak rutin, dan sepertiga untuk tabungan.

“Jika pendapatan cukup kecil, tetap perlu menetapkan target berapa yang akan disisihkan untuk tabungan, baik untuk pendidikan, pendaftaran haji, atau membeli rumah. Semua harus direncanakan dengan batasan yang jelas pada konsumsi,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia juga berpesan kepada calon jamaah untuk mempertimbangkan investasi yang stabil, seperti emas, sebagai langkah menghadapi inflasi dan kenaikan biaya haji setiap tahun. 

Menurutnya, sekitar 60% biaya haji saat ini dibayar oleh jemaah, sementara 40% berasal dari nilai manfaat.

“Dengan biaya haji yang terus meningkat, Imron mendorong calon jemaah untuk memiliki investasi yang stabil,” tukasnya. 

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini