DPRD Surabaya Soroti Kebutuhan Transportasi Massal

SURABAYA (Lenteratoday) – Moda transportasi massal di Kota Surabaya sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Kepemerintahan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Bukhori Imron, pun memandang Risma gagal dalam bidang yang satu ini.

Bukhori menilai, meski sudah sepuluh tahun Risma menjabat, sepertinya masih belum bisa menjawab tantangan kebutuhan alat mobilitas massa tersebut. Tak terselesaikannya persoalan ini pun berdampak terhadap kemacetan yang sudah menjadi pemandangan umum di Kota Pahlawan.

Bukhori Imron menyebut, sampai saat ini Risma hanya bisa memberikan janji manis tanpa ada bukti konkret. Anggota Dewan dari Partai PPP ini pun menyindir rencana Risma membangun tranportasi trem. Trem ini rencananya akan menjawab kebutuhan warga Surabaya tentang alat tranportasi dan menyelesaikan problem kemacetan.

Lebih jauh, Risma sudah melakukan penandatanganan kerja sama antara PT. KAI dan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan terkait realisasi kereta listrik itu. Tapi rencana ini sampai sekarang masih belum jelas buntutnya. 

“Risma memang spesialis janji. Dulu konsepnya trem, tapi sampai sekarang tidak dikerjakan. Contohnya transportasi massal trem yang kesepakatan kerjasamanya sudah diteken bersama Menteri Jonan,” kata Bukhori imron, Sabtu (7/11/2020).

Baca Juga :  DPRD Minta Pemkot Surabaya Tangguhkan Pembelajaran Tatap Muka

Meski kepemimpinan Risma sudah memasuki masa senja, Bukhori tetap berharap pemkot periode ini dapat memenuhi janjinya untuk membangun transportasi massal di Surabaya. 

“Bagaimana caranya tranportasi itu bisa mengakomodir masyarakat, yang bisa dijangkau dalam waktu pendek. Seperti di Jakarta dengan busway-nya” paparnya.

Seperti diketahui, sejauh ini hanya ada satu alat transportasi massal yang sudah ditelurkan oleh Risma, yakni Suroboyo Bus.

Meski sudah dilengkapi dengan sensasi mewahnya karena dilengkapi tempat duduk yang nyaman, kaca bus yang lebih lebar, sehingga memungkinkan penumpang menikmati pemandangan kota, namun keberadaan Suroboyo Bus belum maksimal.

Bukhori mengatakan, Suroboyo Bus masih belum bisa menjawab kebutuhan mode transportasi massal yang bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hal itu dikarenakan jumlah bus yang terbatas, juga koridor yang masih belum mampu menjangkau ke pelosok sudut kota. Sehingga kemacetan tak bisa terurai dengan baik.

“Untuk koridor yang masuk, mestinya harus disambung dengan tranportasi massal, atau angkutan kota yang lebih kecil. Sebagai kota metropolitan, di sini seharusnya angkutan kotanya harus beda dengan yang lain. Jangan hanya mengandalkan transportasi pribadi,” papar Bukhori. (Adv/Ard)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini