Gubernur Khofifah Berharap EJITF 2023 Tingkatkan Desa Devisa Sebagai Eksportir Komiditi Lokal

SURABAYA (Lenteratoday) – Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, berupaya meningkatkan Desa Devisa sebagai eksportir komoditi lokal melalui peningkatan nilai ekspor dan neraca perdagangan. Upaya tersebut tertuang dalam East Java International Trade Festival (EJITF) 2023 di Grand City Surabaya, Selasa (30/5/2023).

EJITF 2023 bertujuan untuk membangkitkan semangat dan optimisme pelaku usaha serta mempererat kombinasi antar instansi penyedia layanan perdagangan luar negeri. “Kegiatan itu, juga bertujuan meningkatkan nilai ekspor dan neraca perdagangan. Termasuk memperkuat peran Desa Devisa sebagai eksportir komoditi lokal,” ujarnya kepada wartawan usai pembukaan East Java International Trade Festival.

Khofifah memastikan akan memberikan respon cepat untuk memperluas Desa Devisa sesuai target LPEI (Lembaga Pembiyaan Ekspor Indonesia). Saat ini di Jatim ada 102 Desa Devisa. “Maka dari itu, East Java International Trade Festival sekaligus menjadi ajang peresmian Desa Devisa baru di Madura bekerjasama dengan LPEI,” tegasnya.

Desa Devisa tersebut adalah Pasar Batik Aromatik di Kabupaten Bangkalan dengan total jumlah 11 desa. Kemudian Pasar Daun Kelor dan Rumput Laut di Kabupaten Sumenep total 27 desa. Sementara Desa Devisa yang bekerja sama dengan Bank Jatim adalah PT Kampung Cokelat Kabupaten Blitar.

Lalu komoditi jahe milik PT Enha Sentosa serta PT Astana Shoga Asia. Khofifah menjelaskan, program ekspor Desa Devisa sejalan dengan LPEI. “LPEI bersambung dengan program kita lewat Desa Devisa,” ucapnya.

Ia menyebut, Jatim kali pertama membangun Desa Devisa dengan komoditi rumput laut di Sidoarjo dan terus meluas hingga kini. Berapa Desa Devisa baru telah lolos verifikasi. Hanya tinggal menunggu SK. “Karena masih ada yang sudah ditinjau dan kita menunggu SK,” tandasnya.

Kemudian juga ada pendulum Desa Devisa sebagai penguat pengembangan. Sebagai contoh, Khofifah mengapresiasi Desa Devisa Batik Aromatik dan Rumput Laut di Madura yang sudah memiliki pasar ekspor di Jerman. Peran ekspor Desa Devisa dinilai seperti itu dinilai dapat menguatkan perekonomian desa dan berdampak pada penurunan angka kemiskinan.

“Kita berharap penguatan ekonomi di desa berseiring dengan penurunan kemiskinan di desa, karena asumsi kita pasti akan terjadi pertumbuhan lebih inklusif di desa, makin banyak kesejahteraan yang menetes di desa dan makin banyak inovasi-inovasi dan kreativitas berbasis desa,” tuturnya.

Khofifah berharap mulai Juli 2021 sudah tidak ada desa tertinggal di Jatim. Bahkan, sebaliknya. Ada 1.492 desa mandiri di Jatim. Jumlah itu merupakan tertinggi di antara provinsi di seluruh Indonesia. “Itu artinya bahwa kemandirian berseiring dengan pertumbuhan-pertumbuhan kreativitas inovasi dan ekonomi di desa,” tegasnya.

Lebih lanjut Gubernur Khofifah mengatakan, Pemprov Jatim ingin membangun penguatan ekonomi berbasis desa dengan market global. Oleh karenanya, East Java International Trade Festival juga melibatkan stakeholder perdagangan luar negeri.

Baca Juga :  Gubernur Khofifah Berharap Kampoeng Kreasi Jadi Embrio Pengembangan Desa Devisa

Tak lupa, Gubernur Khofifah juga memberikan apresiasi kepada para pelaku usaha ekspor impor produk Jatim, serta instansi, lembaga yang mendorong pelaku usaha di Jatim untuk dapat menembus pasar luar negeri pada festival ini.

Perwakilan Anggota Dewan Direktur LPEI, Kasan, mengungkapkan LPEI atau Indonesia Exim Bank mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak. Terutama upaya mereka dalam pengembangan dan fasilitasi UMKM untuk go ekspor. Karena, UMKM di Jatim memiliki potensi ekspor yang cukup besar.

“Kami berharap East Java International Trade Festival dapat mendorong pelaku UKM di Jatim untuk menjadi eksportir sebagai kontributor terutama pendongkrak sektor perdagangan luar negeri,” ucapnya.

LPEI sendiri merupakan lembaga khusus milik pemerintah  berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2009. LPEI memiliki mandat untuk memberikan dan memfasilitasi pembiayaan ekspor nasional dalam bentuk pembiayaan ekspor, penjaminan ekspor, asuransi ekspor dan jasa konsultan. Kegiatan pada hari ini di dalamnya adalah program Desa Devisa merupakan salah satu fokus LPEI.

Sementara dalam rangka mendukung pertumbuhan ekspor di Jatim, LPEI mencatat jika sampai Mei 2023 telah memberikan pembiayaan kepada 65 eksportir dengan outstanding sebesar Rp2,98 triliun. “Mudah-mudahan tahun ini akan terus meningkat dan juga tahun depan lebih dari capaian pada saat ini sampai dengan Bulan Mei,” ujarnya.

Selain itu, LPEI juga telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 351 UKM di Jatim dan 102 Desa Devisa yang berdampak pada 11.746 petani dan telah menciptakan sebanyak 77 eksportir baru pada sektor UKM.

Dalam East Java International Trade Festival, LPEI bahkan secara khusus menampilkan tujuh klaster Desa Devisa. “Kami berharap seluruh tujuh Desa Devisa menjadi bagian dari binaan LPEI dan seluruh pihak termasuk Pemprov Jatim bisa menjadikan Desa Devisa ini bagian dari kontributor ekonomi di Jatim dan juga nasional,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah melepas ekspor produk milik enam perusahaan asal Jatim di Grand City Surabaya. Keenam perusahaan tersebut adalah PT Mitra Saruta Indonesia (Benang Warna Recycle), PT Indo Rasa Utama (Keripik Singkong), PT Pei Hai International Wiratama Indonesia (Alas Kaki), PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (Frozen Shrimp), PT Smoore Technology Indonesia (Vuse Alto Pod) dan PT Asal Jaya (Robusta Coffee Grade).

Total nilai ekspor keenam perusahaan ini mencapai USD 18,80 juta atau Rp282 miliar. Dengan negara tujuan ekspor Taiwan, Amerika Serikat, Italia dan Spanyol.

Antara lain pelepasan ekspor komoditi kopi robusta 20 ton senilai USD 150 ke Taiwan. Kemudian ekspor udang beku perdana ke Amerika Serikat sebesar 15,24 ton atau USD 126,23 dan ekspor alas kaki 12,5 ton dengan nilai ekspor USD 99,9 juta tujuan Spanyol. (*)

Reporter : Lutfi | Editor : Lutfiyu Handi

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini