Inilah Kata Para Pakar Tentang Fintech

Surabaya – Merebaknya Penggunaan Financial Technology (Fintech) di era Revolusi Industri 4.0 seakan tak terbendung. Merespon hal tersebut, Fakultas Bisnis Manajemen dan Teknologi (FBMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menekankan pentingnya memperdalam ilmu Fintech lewat Focussed Group Discussion (FGD), Senin (16/12), di Ruang Sidang Rektorat ITS.

Dekan FBMT ITS Prof Dr Ir Udisubakti Ciptomulyono MEngSc memaparkan, saat ini, khususnya mahasiswa yang memiliki minat bisnis, penting untuk mengenal Fintech lebih dalam. Baik dari sisi perkembangan, prospek, hingga tantangan ke depannya. Dosen yang kerap disapa Udi ini menuturkan, hal tersebut penting agar kesempatan berwirausaha, khususnya bagi mahasiswa dapat lebih besar dan siap bersaing di level nasional.

Udi melanjutkan, Fintech sendiri ialah inovasi dari bidang jasa keuangan yang sedang tren di Indonesia. Fintech memberikan pengaruh kepada masyarakat secara luas dengan memberikan akses terhadap produk keuangan, sehingga transaksi menjadi lebih praktis dan efektif.

“Fintech sendiri dikategorikan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi jembatan antara investor dan pencari modal, pembanding berbagai produk keuangan, perencana keuangan digital, serta sebagai dompet elektronik,” papar dosen Manajemen Teknik ini.

Dr Ir Boedi Armanto MSc selaku pembicara FGD ini mengatakan bahwa gencarnya penggunaan Fintech akan memberikan ragam manfaat. Di antaranya proses bisnis lebih akurat, jangkauan bisnis lebih luas, durasi penyampaian informasi lebih cepat dan efisien. “Hadirnya Fintech juga mampu mendorong ekonomi masyarakat hingga memperluas akses modal bagi para wirausahawan,” ungkap Boedi.

Staf Ahli Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini melanjutkan, Indonesia sudah memiliki modal yang sangat besar untuk mendukung perkembangan Fintech. Menurut Boedi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 45 juta orang Indonesia dikategorikan sebagai konsumen aktif dan akan menikmati bonus demografi 2030.

Ditambah lagi, lanjut Boedi, pengguna internet sudah mencapai 150 juta jiwa (tumbuh 13 persen setiap tahun). Dengan rata-rata menghabiskan waktu 8,5 jam lebih untuk mengakses internet. “Hal ini tentu akan menjadi modal besar bagi wirausahawan manapun, dan peluang besar bagi penyedia jasa Fintech,” ujarnya antusias.

Jika melihat situasi saat ini, maka masih terdapat 70 persen dari 50 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak memiliki akses pembiayaan ke bank. Di era teknologi ini, Boedi berpendapat bahwa teknologi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. “Oleh karena itu pemerintah harus mendorong UMKM untuk menjadi digital, sehingga mendapatkan akses pembiayaan,” tandasnya menyarankan.

Saat ini terdapat 144 perusahaan Fintech yang resmi terdaftar di OJK. Pada Oktober 2019 meningkat lebih dari 100 persen dalam aktivitas pinjam-meminjam melalui Fintech. “Perkembangan aktivitasnya (Fintech) sangat pesat, jika wirausahawan khususnya dari generasi muda tidak mengikuti perkembangan ini, maka akan tertinggal dan lebih sulit bersaing,” tutur Boedi mengingatkan.

Salah satu dosen Manajemen Bisnis Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng, sepakat jika mahasiswa harus lebih dalam memperhatikan Fintech . Mahasiswa dapat mengembangkan Fintech telah ada dan memberi inovasi sesuai kondisi sekitar. “Jika konsumen atau pengguna dapat lebih mudah dipertemukan dengan kebutuhan mereka, maka Fintech rancangan mahasiswa akan memiliki nilai lebih dibanding yang lain,” harap Kepala Subdirektorat Kerjasama dan Kealumnian ITS ini yakin. (ufi)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini