Kontradiksi Kebijakan Impor Jagung

KOLOM (Lenteratoday) – Dibandingkan dengan gandum dan beras, jagung merupakan tanaman serbaguna yang lebih banyak digunakan di negara-negara maju, jagung utamanya digunakan sebagai pakan ternak dengan peran yang beragam sebagai tanaman industri dan energi.

Dengan perkembangan ekonomi (termasuk pertumbuhan pendapatan dan urbanisasi), konsumsi produk hewani semakin meningkat dan mendorong permintaan jagung sebagai pakan, khususnya di Asia (Erenstein, 2010).

Oleh karena itu, jagung memiliki peran yang beragam dan dinamis dalam sistem agri-pangan global. Secara global, delapan negara – Amerika Serikat, Tiongkok, Brasil, Argentina, Ukraina, Indonesia, India, dan Meksiko – menghasilkan lebih dari 25 juta ton per tahun masing-masing, dan bersama-sama menyumbang 881 juta ton atau tiga perempat dari produksi jagung global.

Meski demikian dari sisi pasokan, produksi dan produktivitas jagung di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara produsen jagung lainnya. Pada tahun 2017/2018, produksi jagung di Indonesia hanya mencapai 11,35 juta ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara produsen utama seperti Brasil (94,50 juta ton), Cina (215,89 juta ton), dan Amerika Serikat (376,61 juta ton).

Dalam hal produktivitas, Indonesia hanya menghasilkan 3,24 ton jagung per hektar, dibandingkan dengan negara Thailand yang menghasilkan 4,45 ton per hektar dan produsen yang lebih besar seperti Brasil (5,37 ton/hektar), Tiongkok (6,09 ton/hektar), dan Amerika Serikat (11,38 ton/Hektar) (Center for Indonesian Policy Studies,2018).

Berdasarkan data prognosa Kementrian Pertanian dan BPS tahun 2023, Luas panen jagung pipilan Januari hingga Desember 2023 diperkirakan sebesar 2,49 juta hektar, atau mengalami penurunan sebesar 10,03 persen dibanding tahun 2022 yang sebesar 2,76 juta hektar. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% pada tahun 2023 berjumlah sekitar 14,77 juta ton, mengalami penurunan sebesar 1,75 juta ton atau 10,61 persen dibandingkan tahun 2022 sebesar 16,53 juta ton.

Penurunan ini terjadi meskipun ada berbagai upaya peningkatan produksi yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, seperti peningkatan produksi domestik melalui perluasan lahan tanam baru dan penggunaan varietas benih unggul serta penanaman di lahan non-produktif​.

Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan komoditas jagung dengan menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024. Defisit jagung ini juga mendorong pemerintah untuk mengambil langkah impor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk pakan ternak.

Pemerintah mengimpor 500.000 ton jagung untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan pakan ternak yang mencukupi​​. Kebijakan ini relevan mengingat kebutuhan jagung yang tinggi untuk pakan ternak dan penurunan produksi dalam negeri yang signifikan.

Pemerintah memainkan peran penting dalam sistem pemasaran jagung melalui kebijakan perdagangan, subsidi, dan program penyerapan hasil panen. Salah satunya, pemerintah dapat membuka keran impor untuk mengatasi kekurangan pasokan atau menetapkan harga acuan untuk melindungi petani dari fluktuasi harga yang ekstrem.

Harga pakan ternak di Indonesia pada tahun 2023 mengalami kenaikan signifikan. Harga pakan unggas, misalnya, mencapai rata-rata Rp 9.000 per kg pada November 2023, naik sekitar 70% dari beberapa bulan sebelumnya​ (Republika Online)​. Di beberapa daerah, harga jagung pakan bahkan lebih tinggi, mencapai Rp 9.500 per kg di Pulau Jawa pada Januari 2024​ (KBR ID)​. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh harga jagung yang melambung akibat berbagai faktor termasuk kondisi cuaca El Niño​​.

Jagung merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia dan termasuk salah satu komoditas penting yang diunggulkan oleh pemerintah. Selama tahun 1999-2019 Indonesia rata-rata memproduksi jagung sebesar 16,08 juta ton per tahun dengan permintaan jagung Indonesia rata-rata adalah 8,26 juta ton per tahun. Produksi jagung Indonesia yang lebih tinggi (surplus produksi jagung) dari tingkat permintaan nyatanya tidak membuat Indonesia dapat secara sepenuhnya memenuhi permintaan tersebut dari produksi jagung dalam negeri.

Periode panen yang berbeda, ketidaksesuaian data produksi jagung, kualitas jagung yang tidak sesuai standar ditambah dengan harga jagung dalam negeri yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga jagung impor, membuat impor jagung masih diperlukan. Impor jagung yang terus meningkat tinggi akan berdampak buruk pada perekonomian ataupun bagi petani jagung dalam negeri itu sendiri.

Pada tahun 2023 dan 2024, harga jagung di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan antara jagung impor dan domestic. Pada awal tahun 2024, harga jagung domestik di beberapa daerah sentra produksi seperti Lampung dan Sulawesi Selatan berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 3.500 per kilogram, terutama saat panen raya yang menyebabkan surplus produksi​. Namun, harga bisa mencapai Rp 5.000 per kilogram pada waktu-waktu tertentu sebelum panen raya​.

Sedangkan harga jagung impor yang masuk ke Indonesia, terutama yang berasal dari negara-negara seperti Argentina dan Brasil, biasanya lebih tinggi. Misalnya, pada akhir 2023, harga jagung impor tercatat sekitar Rp 4.835 per kilogram​​. Pada awal 2016, Kementrian Perdagangan (Kemendag) memberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 20/2016, yang menetapkan bahwa jagung pakan ternak hanya dapat diimpor oleh Badan Urusan Logistik (BULOG) (Fredy & Gupta, 2018, hlm.7).

Kebijakan pembatasan impor jagung oleh pemerintah ini bertujuan untuk mendukung swasembada jagung dan mendukung petani lokal.
Namun, GPMT berpendapat bahwa produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan industri pakan ternak, sehingga pembatasan impor hanya memperburuk situasi​. Kebijakan tersebut dinilai menciptakan ketidakpastian pasokan jagung, karena semua produsen pakan ternak di Indonesia harus bergantung pada satu perusahaan untuk memasokpeternak dengan jagung impor.

Desianto Budi Utomo, Ketua Umum GPMT, menjelaskan bahwa sekitar 85 persen dari biaya produksi pakan ternak tergantung pada harga bahan baku, termasuk jagung. Kenaikan harga jagung yang signifikan dari harga acuan yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional membuat biaya produksi pakan meningkat tajam.

“Pada situasi terakhir harga jagung di Pulau Jawa pada Januari sudah mencapai angka Rp9.500 per kilogram, setelah jauh melebihi dari harga acuan yang ditetapkan Badan Pangan Nasional yaitu sekitar Rp5.000 per kilogram jagung. Dengan meningkatnya harga bahan pakan tentu akan berpengaruh terhadap cost produksi pakan itu sendiri,” ujar Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo kepada KBR, Kamis(18/1/2024).

Data situs Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 19 Mei 2024, jagung menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan di atas 10 % dari harga eceran tertinggi (HET) atau harga acuan penjualan (HAP). HAP jagung di petani Rp4.280 per kg, sedangkan di peternak Rp5.620 per kg. Hingga akhir tahun 2023, harga jagung di tingkat peternak 49,96 % lebih tinggi dari HAP. Harga jagung di Indonesia merespons kenaikan harga jagung di pasar internasional, namun Ketika harga jagung di pasar internasional turun, harga jagung di Indonesia tidak serta merta mengikuti.

Pada paruh kedua tahun 2014 (Bank Dunia, 2015) Ketika harga jagung turun 6,09% dari RP.2.066 per kilogram di Agustus 2014 menjadi salah satu harga terendah dalam Sejarah, yaitu Rp. 1.940 per kilogram di September 2014. Harga jagung di Indonesia meningkat 1,19% pada periode yang sama, dari Rp. 6.201 per kilogram menjadi Rp. 6.275 per kilogram.

Pada tahun 2023 dan 2024, harga jagung di pasar internasional bervariasi akibat berbagai faktor seperti permintaan dari China dan produksi yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta logistik. Pada April 2024, harga jagung global tercatat sekitar 190,9 USD per metrik ton, turun dari 207,4 USD per metrik ton pada Desember 2023​ (FRED)​​ (SP Global)​.

Secara umum, harga jagung di pasar internasional pada tahun 2023-2024 berkisar antara 255 hingga 265 USD per metrik ton di Asia Timur Laut pada akhir 2023​ (SP Global)​. Harga domestik jagung di Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan harga jagung impor, yang sering kali disebabkan oleh perbedaan biaya produksi dan logistik​ (markets.businessinsider.com)​​ (Barchart.com)​.

Permintaan jagung yang kuat dari sektor pakan ternak di Indonesia serta kebutuhan industri pengolahan jagung turut mempengaruhi kebijakan impor dan harga domestik. Meskipun produksi domestik meningkat, ketidakstabilan harga dan ketergantungan pada impor tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi pemerintah​ (SP Global)​.

Pada tahun 2024, kebijakan impor jagung di Indonesia mengalami beberapa perubahan penting. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Permendag No. 7/2024 sebagai revisi dari Permendag No. 36/2023 untuk mengatur kebijakan impor. Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah untuk menjaga keseimbangan antara produksi domestik dan kebutuhan impor.

Pada tahun 2024, Kementerian Pertanian telah meminta Perum Bulog untuk menyerap setidaknya 500 ribu ton jagung dari petani lokal, guna mendukung produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor​. Upaya lain yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan harga jual jagung domestik meliputi program penyerapan jagung oleh Bulog dan peningkatan efisiensi produksi melalui berbagai program dukungan kepada petani melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 03/2015 yang berfokus pada peningkatan produktifitas jagung dengan memberikan jagung hibrida kepada para petani yang dikenal sebagai UPSUS (Upaya Khusus).

Pada tahun 2024, akan ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga jagung di Asia, yang didorong oleh permintaan dan kebijakan China serta dinamika pasokan di negara-negara produsen utama. Volatilitas harga akan terus berlanjut karena pengaruh cuaca dan Ukraina yang masih dalam keadaan perang, sementara pengangkutan akan memiliki dampak yang lebih besar pada volatilitas dibandingkan dengan tahun 2023 (SP Global).

Skenario rekomendasi kebijakan perdagangan jagung salah satunya ialah menjernihkan Kontradiksi Impor, dan Mengurangi Pembatasan Impor. Persaingan yang sehat antara jagung domestic dan impor, serta antara para importir jagung yang lebih kompetitif, sehingga menguntungkan para produsen pakan ternak. Industri pakan ternak dan peternak akan mendapatkan lebih banyak pilihan dengan bertambahnya jumlah importir jagung. Pakan ternak akan lebih terjangkau sehingga dapat menurunkan harga konsumen untuk makanan kaya protein hewani.

Selanjutnya kebijakan jangka panjang untuk perdagangan jagung ialah mengurangi Program Benih Hibrida UPSUS. Kebijakan subsidi benih jagung hibrida di Indonesia telah menimbulkan perdebatan mengenai efektivitasnya dalam mencapai kedaulatan pangan. Meskipun tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas jagung nasional, ada beberapa alasan mengapa kebijakan tersebut bisa dianggap menjauhkan cita-cita Indonesia untuk berdaulat pangan:
– Ketergantungan pada Benih Impor
Subsidi benih hibrida sering kali berarti penggunaan benih yang diimpor atau diproduksi oleh perusahaan multinasional. Ini meningkatkan ketergantungan petani pada benih impor yang tidak dapat diproduksi secara mandiri oleh petani lokal, sehingga merusak prinsip kedaulatan pangan yang menekankan pada kemandirian produksi .

– Dampak Ekonomi bagi Petani Kecil
Harga benih hibrida biasanya lebih mahal dibandingkan dengan benih lokal. Meskipun subsidi mengurangi biaya ini, petani tetap menghadapi biaya tambahan untuk pembelian benih di musim tanam berikutnya, karena benih hibrida tidak bisa ditanam ulang dengan hasil yang sama seperti benih lokal. Ini dapat menambah beban ekonomi bagi petani kecil dan mengurangi kemampuan mereka untuk mengelola produksi secara mandiri.

– Diversifikasi dan Ketahanan Pangan
Penggunaan benih hibrida yang didorong oleh subsidi pemerintah cenderung mengarah pada monokultur. Ketergantungan pada satu jenis tanaman atau varietas dapat mengurangi keragaman tanaman yang penting untuk ketahanan pangan. Jika terjadi gagal panen atau serangan hama/penyakit yang spesifik terhadap varietas tersebut, seluruh produksi bisa terancam .

– Perlindungan Varietas Lokal
Penggunaan benih hibrida yang didorong oleh subsidi pemerintah dapat mengurangi minat dan upaya untuk melestarikan dan mengembangkan varietas lokal. Varietas lokal biasanya lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat dan memiliki nilai budaya serta ketahanan yang tinggi terhadap hama dan penyakit tertentu.

– Penghentian program benih hibrida UPSUS untuk daerah-daerah yang memiliki pasar yang kuat, dan mengizinkan benih komersial non subsidi yang memiliki kualitas lebih tinggi untuk menggantikan benih UPSUS di daerah-daerah tersebut.

Pemerintah harus mendukung petani untuk lebih fokus pada pengembangan dan penyebaran benih lokal yang berkualitas tinggi, serta mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan berbasis pada kearifan local dengan membangun kerja sama dengan sektor swasta untuk meningkatkan proses pasca panen.

Ketika petani jagung dalam negeri meningkatkan produktifitas dan kualitas jagung, petani akan memiliki posisi yang lebih baik untuk bersaing dengan jagung impor. Dengan demikian, kebijakan subsidi benih jagung hibrida bisa diimbangi dengan upaya yang lebih besar untuk mencapai kedaulatan pangan yang sejati.

Reference :
Erenstein, Olaf. The Evolving Maize Sector in Asia: Challenges and Opportunities. March 2010Journal of New Seeds 11(1):1-15 March 201011(1):1-15 DOI:10.1080/15228860903517770. https://www.researchgate.net/publication/238396772_The_Evolving_Maize_Sector_in_Asia_Challenges_and_Opportunities
CIPS, 2018. Reforming Trade Policy to Lower Maize Price in Indonesia. https://repository.cips-indonesia.org/media/publications/270483-reforming-trade-policy-to-lower-maize-pr-961ef828.pdf
Bapanas, 2024. https://panelharga.badanpangan.go.id/
BPS, 2024. https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2024/03/01/2377/shelled-maize-harvested-area-in-2023-is-around-2-48-million-hectares–dry-shelled-maize-production-with-a-14-percent-moisture-content-in-2023-is-approximately-14-77-million-tons-.html
FRED, 2024. https://fred.stlouisfed.org/series/PMAIZMTUSDM
S&P Global. https://www.spglobal.com/commodityinsights/en/market-insights/latest-news/agriculture/010324-chinas-demand-to-drive-asian-corn-market-in-2024

Penulis : Abdullah Mujahid – Mahasiswa Magister Agribisnis UMM/Editor:Ais


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini