Naik 6 Persen Setahun, 5.000 Lebih Balita di Kabupaten Blitar Alami Stunting

BLITAR (Lenteratoday) – Selama setahun, angka kasus stunting di Kabupaten Blitar naik 6 persen dari 14,3 persen pada 2022 menjadi 20,3 persen pada akhir 2023. Angka 20,3 persen ini, jumlahnya mencapai 5.000 lebih balita yang mengalami stunting.

Disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati kalau angka kasus stunting naik 6 persen, dibandingkan pada 2022 lalu.

“Jadi angka stunting 20,3 persen itu angka pada 2023, naik dibanding 2022 yang hanya 14,3 persen,” ujar Christine, Sabtu(15/6/2024).

Christine menjelaskan saat ini, Dinkes terus berupaya menurunkan kembali angka kasus stunting di Kabupaten Blitar. Dinkes punya beberapa program aksi untuk mempercepat penurunan angka kasus stunting di Kabupaten Blitar, antar lain melakukan maping lokasi anak stunting.

“Kemudian Dinkes juga akan melakukan analisis kemungkinan penyebab stunting, dengan mengelompokkan tiga kemungkinan penyebab stunting, yaitu karena penyakit, kesalahan pola asuh dan ketiga karena akses gizi,” jelasnya.

Setelah menemukan kemungkinan penyebab stunting, Dinkes akan melakukan intervensi penanganannya.Untuk kemungkinan faktor penyebab stunting tersebut penyakit, akan dilakukan intervensi oleh Dinkes. Kemudian kesalahan pola asuh, akan ditangani secara bersama-sama.

Baca Juga :  Pemkab Blitar Lirik Potensi Jalur Pansela dan Bandara Dhoho Kediri

“Karena terkait edukasi kepada ibu balita dan keluarganya, karena kadang yang mengasuh bukan ibunya. Serta terakhi akses gizi atau kemiskinan, bukan dinkes tapi bersama OPD yang lain,” terangnya.

Dalam bulan ini diungkapkan Christine, Dinkes sedang mengejar tingkat kehadiran 100 persen di Posyandu untuk mengtahui angka riil kasus stunting.

Terkait kasus stunting bisa terjadi akibat kesehatan ibunya, tapi juga bisa dari anaknya. Menurut Christine tidak 100 persen dari ibunya, tapi ada banyak hal atau faktor.

“Fokus kita tetap mengintervensi pada ibu dan anak, secara spesifik memberikan susu, konsul ke dokter spesialis dan TMT lokal yang bergizi. Kemudian kepada ibu hamil, juga diberikan vitamin dan PMT untuk pemenuhan gizinya,” tandas Christine.

Ada satu lagi yang selama ini kurang diawasi, diungkapkan Christine setelah pemberian bantuan susu, telur dan makanan tambahan belum pernah diawasi apakah sampai ke balitanya.

“Kami dari Dinkes akan bekerja sama menggandeng ibu-ibu dari Fatayat, Muslimat dan Aisyiyah, membantu kami mengawasi apaka benar bantuan sampai ke balitanya,” ungkapnya.

Reporter:Arief Sukaputra/Editor:Ais

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini