Pakar Psikolog Ungkap Tips Cegah Caleg Stres Pasca Pemilu

SURABAYA (Lenteratoday) – Pemilihan Umum (Pemilu) memang telah usai. Namun, ketika pemungutan suara berakhir banyak calon legislatif (caleg) yang menghadapi tantangan baru.Salah satunya yakni mengalami gejala stres pasca pemilu.  

Guna mencegah hal tersebut, Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana MSc MPsi mengatakan, stres merupakan persepsi ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dianggapnya tidak dapat diatasi dengan sumber daya yang dimilikinya.

“Tekanan dan rasa malu itu muncul karena tidak terpenuhinya ekspektasi yang dimiliki sebelumnya,” kata Atika, Jumat (1/03/2024).

Atika menyebut, perasaan gagal dan penurunan harga diri sering kali dapat diatribusikan kepada persepsi individu tentang karakter pribadinya sendiri.

Menurutnya, caleg yang gagal cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri, seperti merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup kapabilitas atau kompetensi untuk berhasil dalam politik. Belum lagi validasi lingkungan, kolom komentar netizen yang dikhawatirkan memberikan komentar negatif atau bullying.

“Seseorang yang sedang mengalami stres biasanya menunjukkan gejala seperti perubahan pola makan, gangguan pola tidur, menarik diri dari lingkungan, perubahan perasaan sedih cemas yang signifikan dan respons fisik seperti gangguan pencernaan. Selain itu, gejala kognitif cenderung pelupa banyak yang dipikirkan dalam satu waktu, sulit berkonsentrasi, dan kurangnya fokus,” sebutnya.

Baca Juga :  Wali Kota Eri Targetkan 85 persen Warga Nyoblos di Setiap TPS

Untuk itu, Atika menekankan pentingnya dukungan sosial bagi kesehatan mental dalam keadaan buruk.

Menurutnya, strategi menjaga kesehatan mental dan fisik kurang lebih sama. Misalnya pola makan sehat, tidur yang cukup, latihan fisik olahraga, mengenal diri sendiri dengan lebih baik dapat membantu memahami kebutuhan, sadari batasan dalam diri, dan dukungan sosial yang tepat.

“Merawat diri dan menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat penting untuk kesejahteraan kita. Jika belum bisa memulihkan diri, sangat disarankan meminta bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Tidak tinggal diam dalam keterpurukan, karena itu bentuk wujud mencintai diri sendiri,” tukasnya. (*)

Reporter: Amanah Nur Asiah (mg) | Editor : Lutfiyu Handi

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini