Pelaku Ekraf Kabupaten Mojokerto Terobos Pasar dengan Perkuat Inovasi

MOJOKERTO (Lenteratoday) – Kondisi pandemi Covid-19 membuat berbagai sektor ekonomi melemah. Akibatnya, para pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) dan UMKM pun terdampak termasuk di Kabupaten Mojokerto. Untuk bisa menerobos pasar dan bangkit dari keterpurukan, mereka harus memutar otak untuk melakukan inovasi para produk-produk yang mereka hasilkan.

Ini pun dilakukan oleh beberapa pelaku ekraf yang ditemui Lentertoday.com bersama rombongan Press Tour IV oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mojokerto, Kamis (28/7/2022). Pelaku ekraf yang ditemui pertama adalah Masrukhan, pengrajin bambu bernama “R Khan Art Studio” di Desa Ngares Kidul, Kecamatan Gedeg. Di tempat ini, bambu diolah menjadi set teko, tumbler, muk, botol wine, tas wanita, termos serta barang lain yang bernilai seni tinggi.

Masrukhan mampu menyulap sampah bambu menjadi produk yang diminati oleh konsumen hampir di berbagai kalangan seperti BUMN, Pemerintah, Perusahaan swasta juga masyarakat lainnya. “Produk ini sangat diminati oleh masyarakat khususnya untuk souvenir di berbagai acara,” tandasnya.

Untuk menerobos pasar yang lebih luas, Masrukhan berinovasi dengan menciptakan rumah yang ramah lingkungan dari bahan bambu. Kemudian juga membuat konstruksi bangunan dari bahan dasar bambu hasil laminasi yang akan di-mix dengan resin untuk memperkuat bangunan.

Pengrajin Enceng Gondok di Desa Jerukseger, Kecamatan Gedeg, Suliadi, juga mengaku berupaya melakukan inovasi supaya mampu menembus pasar. Pemilik usaha bernama “Banyu Putih Art” ini melakukan inovasi dengan membuat berbagai kerajinan dari enceng gondok. Mulai dari Fas Bunga, bantal sintetis, tatakan piring dan gelas, sandal, topi dan tas wanita, keranjang, hingga kotak tisu. Ia memberdayakan ibu – ibu sekitar rumahnya untuk memproduksi. Selain membuka peluang kerja, memberikan keterampilan juga mampu meningkatkan ekonomi di sekitar lingkungannya.

Dari olahan enceng gondok ini, Suladi mampu menjual produknya hingga ke berbagai daerah, tidak hanya di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Penjualan juga ditunjang dari pesanan berbagai instansi Pemerintah, Perusahaan swasta hingga instansi lain sebagai hampers.

Meski demikian, tetap saja ada kendala yang dialami saat ini yaitu ketersediaan bahan baku serta naikknya harga bahan enceng gondok. “Namun hal tersebut tidak membuat kreativitas dan produksi terhambat, kami berinovasi dengan membuat produk baru yakni anyaman kursi yang juga berbahan enceng gondok,” paparnya.

Pengrajin Batik Tulis “Galeri Rasu’an Lampahan” di Desa/Kecamatan Sooko, Lina Desriana, juga mengaku selalu berinovasi. Salah satunya adalah dengan membuat batik tulis khas Mojokerto menggunakan pewarna alami. Tak hanya dari bahan, dia juga berusaha menciptakan motif unik yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan Majapahit, kemudian mengadaptasi elemen-elemen yang ada dalam Kerajaan Majapahit.

Baca Juga :  Expo Produk UMKM, Semarakkan HPN PWI Jatim di Kediri

“Beberapa corak atau motif yang digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi,” ceritanya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan ukel. Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai identitas atau ciri khas dari Kabupaten Mojokerto Beberapa nama motif batik Mojokerto

Sementara, Lia Nirawati, berhasil mendaur ulang bahan jeans menjadi sepatu dan tas. Dari olahan tersebut, tempat usaha bernama “Upject” di Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Menghasilkan ini mampu meningkatkan ekonomi dan kreatifitas warga sekitar tempat tinggalnya.

“Berbekal bahan jeans bekas, kami berinovasi untuk menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi. Ke depan kami berharap, tidak hanya produk yang ada di store ini saja namun ada kolaborasi juga dari instansi terkait untuk bisa bersinergi bersama dalam memasarkan produk kami,” tandasya.

Sebagai lokasi terakhir yang dikunjungi rombongan press tour mendatangi pengrajin kostum karnaval bernama “Trawas Trashion Carnival” di Desa/Kecamatan Trawas. Pemilik usaha, Trimulyono, menceritakan bahwa usahanya ini berawal dari membuat kostum berbahan daur ulang sampah pada tahun 2014 hingga saat ini mampu membuat kostum carnaval full, aksesoris berbahan matras. Selain lebih ringan saat digunakan juga lebih mudah memperolehnya. Tri dan tim hingga saat ini menjuarai berbagai event dari tingkat Kabupaten Kota hingga Tingkat Nasional.

Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati, menjelaskan dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Kabupaten Mojokerto, para pelaku ekonomi kreatif juga harus mampu membaca peluang kebutuhan pasar. Ia berharap mampu menghasilkan para pelaku ekonomi kreatif yang inovatif guna mengembangkan usahanya, sehingga dapat membuka lapangan kerja dan peningkatan ekonomi di lingkungannya.

“Inovasi dari para pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Mojokerto sangat dibutuhkan. Selain membuka peluang kerja baru, juga mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi dan sosial daerah. Tak hanya itu sektor pariwisata juga pasti akan meningkat beriringan dengan pertumbuhan ekonomi tentunya juga para pelaku juga perlu membaca potensi pasar. Saat ini eranya customize, jadi perlu analisa pasar dan apa yang menjadi kebutuhan konsumen.Berkolaborasi dengan berbagai instansi serta bersinergi bersama membangkitkan ekonomi Kabupaten Mojokerto tentunya,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Lutfiyu Handi


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini