Soal Masiku dan Nurhadi, Ketua KPK: Akan Kami Tangkap!

Surabaya – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mengejar dua buronan, Harun Masiku dan Nurhadi. Sayangnya, hingga saat ini pengajaran belum berbuah hasil. Keberadaan keduanya masih menjadi tanda tanya.

Ketua KPK Firli Bahuri pun tidak mau banyak menanggapi perihal penanganan kasus kedua buronan ini. Jenderal polisi aktif ini menegaskan, KPK hanya ingin bekerja saja dulu untuk menangkap keduanya.

“Seluruh para pelaku tindak korupsi kalau ada perkembangan lebih lanjut kami akan sampaikan dan kami akan bertekad untuk melakukan penangkapan terhadap DPO-DPO,” tegasnya saat ditemui dalam acara Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan Regional I, di Hotel Shangri-La Surabaya, Rabu (4/3/2020).

Sebelumnya, Firli menuturkan bahwa pihaknya telah menelusuri jejak Harun Masiku dan Nurhadi ke puluhan lokasi. Namun, penelusuran lembaga antirasuah itu belum ada hasilnya. Jejak kedua buronan masih belum bisa dilacak.

“KPK sudah melakukan upaya pencarian di puluhan lokasi, tetapi keberadaan yang bersangkutan tidak ada,” katanya di Hotel Sultan, Jakarta, kemarin Selasa (3/3/2020).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lili Pintauli Siregar memastikan proses hukum terhadap politikus PDIP Harun Masiku (HAR) tetap berjalan, meskipun lembaganya sampai saat belum berhasil menangkapnya.

Dia mengklaim pihaknya telah menyisir seluruh lokasi yang diberikan masyarakat untuk mencari keberadaan. “(Kami mencari) Di semua titik yang disebutkan oleh masyarakat, dan kemudian pencarian sendiri oleh pimpinan KPK sendiri dan dengan teman penyidikan sudah dilakukan,” ujarnya.

 Kendati demikian, KPK masih belum berhasil menemukan tersangka kasus suap pergantian antar-waktu tersebut. “Saya juga tidak tahu persis berada di mana dianya. Tetapi, semua titik yang disebutkan masyarakat telah dilakukan pencarian oleh KPK,” ujar dia.

Baca Juga :  KPK Singgung Fenomena Pamer Harta, Jokowi Diminta Tegur Pejabatnya

Lagi dan lagi, ia hanya bisa mengimbau agar Harun dan pihak-pihak yang diduga menyembunyikan Harun agar menyerahkan diri ke KPK. “Jangan dikira dengan hilangnya dia tidak diproses secara hukum, proses penyidikan tetap dilakukan,” ujarnya.

Harun diduga telah menyuap eks Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan untuk menjabat sebagai anggota legislator. KPK menduga, uang suap yang dijanjikan Harun kepada Wahyu mencapai Rp900 juta. Hanya saja, eks kader PDI-P itu baru merealisasikan uang sebesar Rp600 juta. Belakangan, KPK telah mengendus salah satu sumber aliran uang yang diterima eks Wahyu dikirim melalui sebuah bank di Papua Barat.

Uang yang dikirim itu mencapai Rp600 juta, dengan pecahan dolar Singapura. Uang tersebut, merupakan salah satu barang bukti yang diamankan saat operasi senyap KPK berlangsung pada Rabu (8/1/2020). Namun penyidik masih mendalami asal-usul sumber uang tersebut. Proses penelusuran dilakukan melalui pemeriksaan dua orang teller Bank Mandiri cabang Manokwari yang diperiksa pada Senin (2/3/2020).

Keduanya bernama Patrisius Hitong dan Irmawaty. Wahyu disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan Harun selaku pemberi, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.(ufi,ist)

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini