Obituari Dyah Wahyu Winarti (2-habis) : Tak Pernah Redup, Selalu ‘Urup’

Urip iku Urup yang berarti ketika hidup kita mampu menjadi cahaya atau terang bagi sesama, cocok menggambarkan sosok Dyah Wahyu Winarti.

Kala sakit, Wiwin pun tak pernah berhenti menyebarkan ide dan semangat menjaga serta mensejahteran rakyat Indonesia. Ini tampak dari berbagai postingannya yang sangat mengugah berbagai kalangan di media sosial. Salah satunya tertulis, “Entah apa yang dipikirkan yang jelas adalah kesetiaan di garis rakyat…harapan kesejahteraan akan terus digaungkan demi cita-cita republik yang seutuhnya… entah kapan dan bagaimana kami selalu mencari jalan keluar dengan sedemikian ilmu pengetahuan,sain atau apapun segalanya. Kami didik tak mengenal tempo… kami selalu setia terhadap proklamasi di mana gaung seluruh rakyat berkumandang dengan kemenangan. Rakyat menang dan kebahagiaan bagi umat manusia adalah cita-cinta sanubari rakyat. Salam merdeka untuk Indonesia yang lebih baik. Seni adalah harmoni, menyelaraskan rasa dan karsa. Puisi adalah dendang, bagi perlawanan melalui kata.”

Salah satu tokop PDIP, Firman Jaya Daeli mengatakan Wiwin merupakan sosok aktifis murni dan sejati sejak mahasiswa. “Saya menyaksikan perjuangan dan pergerakan sejak Wiwin mahasiswa, seorang aktifis berat mahasiswa, terlibat aktif menggerakkan demonstrasi mahasiswa dan aktifis sebagai pejuang di garis terdepan terutama 98-an, amat berani dalam semangat kemurnian dan kejernihan. Sering diintetogasi dan dintimidasi aparat sepanjang perjuangan menjatuhkan rezim otoriter soeharto dan struktur politik orba,” katanya.

Wiwin melanjutkan perjuangan tulus dan pengabdian sepenuhnya di PDI Perjuangan. Dia mengaku sering berkomunikasi dan berdiskusi jelang dan saat Pileg.”Wiwin ini aktifis pemberani tetapi senantiasa supel dan sopan dalam pergaulan. Sakitnya berat, kankernya sudah ganas tetapi tak mengeluh saat Pemilu. Saya turut berduka cita mendalam,” katanya.

Wiwin (kanan bawah) semasa menjadi TA DPR RI

Terpisah, mendengar kabar duka tersebut, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono mengaku ikut berduka cita sedalam- dalamnya.”Tadi sore, saya mendapatkan kabar duka itu. Teman lama, aktivis perempuan yang berani, dan militan, telah pergi untuk selamanya. Wiwin telah menghadap Tuhan, Sang Pencipta-nya. Selamat jalan, Wiwin. Damai kekal menyertaimu,”katanya.

Awi–begitu sapaanya– mengenal Wiwin sejak lama. “Saya kenal Wiwin ketika gelora demonstrasi mahasiswa tahun 1998, saat kekuatan kampus dan rakyat gigih melawan rezim Orde Baru. Saat itu saya bekerja menjadi wartawan sebuah surat kabar, yang kerap meliput aksi unjuk rasa kaum terpelajar,” kenang Awi.

Saat itu, lanjutnya, Wiwin tercatat sebagai mahasiswa Universitas Dr. Soetomo. Dia muncul menonjol, berorasi sambil memegang mega phone. Wiwin kerap memberi semangat teman-temannya. “Satu komando, satu perlawanan,” ujar Awi menirukan teriakan Wiwin saat melakukan orasi.

Seringkali aksi Wiwin dan teman-temannya berlangsung di bawah terik panas matahari. Awi sebagai wartawan sering berbaur dengan Wiwin dan teman-temannga.

“Mereka memang anak-anak muda yang militan. Entah dari mana mereka menimba spirit seperti itu. Yang pasti, Wiwin sering tampil di muka, membela rakyat!” tegasnya.

Menurut Awi, Wiwin bahkan, meninggalkan kuliahnya. “Dan, anak-anak muda di generasi 98 ini terus bergerak, sampai rezim Orde Baru tumbang,” tuturnya.

Belakangan Awi bertemu kembali dengan Wiwin saat wanita itu aktif di PDI Perjuangan. “Saya beberapa kali ketemu di Jakarta, termasuk di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jl. Diponegoro. Suatu ketika dia menjelaskan, setelah selesai kuliah, dia menyalurkan gairah sebagai aktivis. Gairah berjuang di garis massa. “Saya menemukan wadah yang tepat di PDI Perjuangan,” jelas Wiwin saat itu dikutip Awi.

Wiwin tidak hanya bertugas di Jakarta. Ia sering menerima penugasan dari PDI Perjuangan ke berbagai daerah. Termasuk di pelosok dan luar Jawa. Ia merasa menemukan Indonesia lewat PDI Perjuangan. “Saya semakin mengenal Indonesia, negeri yang kaya-raya. Termasuk di dalamnya, manusia Indonesia di berbagai tempat di Nusantara,” kata Wiwin saat itu.

Hal senada diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono. “Mbak Wiwin pernah berjuang bersama sama kami di era tahun 1996 dan seterusnya sampai akhirnya Tuhan memanggilnya. Walaupun saat itu dia masih wanita berusia muda tapi sudah sangat berani menentang Penguasa Orde Baru yang korup, otoriter dan ant-demokrasi,” katanya.

Menurut Baktiono, Wiwin muda sekitar 25 tahun yang lalu adalah sosok luar biasa, yang selalu ada di barisan depan dalam menyuarakan dan memperjuangkan demokrasi dan kebebasan pendapat. “Setiap pertemuan, baik dalam diskusi-diskusi internal maupun dalam skala besar, termasuk demonstrasi, Mbak Wiwin selalu kebagian untuk orasi,” katanya.

Luar biasanya bukan hanya suaranya yang mantap membakar semangat, tapi isi orasi yang disampaikan sangat tajam dan tanpa ada rasa takut kepada penguasa otoriter. Ditegaskannnya, Wiwin dan semua para pejuang Demokrasi di era 1990-an tahu dan paham risikonya melakukan pergerakan. Tak hanya ditahan, diinterogasi bahkan bisa tidak pulang selamanya. “Bisa saja kami diculik, seperti rekan kami Herman dari Unair Surabaya yang sampai saat ini tidak pernah diketahui hidup atau sudah di Surga bersama Mbak Wiwin,” katanya.

Baktiono menegaskan, warga sudah bisa merasakan kondisi yang penuh kemudahan seperti saat ini, salah satunya berkat perjuangan Wiwin. “Maka kita harus bisa menjaga roh api perjungannya agar tetap membara. Bagi para penurus  jangan sampai yang merasa hebat karena kita bisa seperti saat ini adalah hasil perjuangan rekan-rekan yang lebih dulu berjuang seperti Mbak Wiwin. Bahkan ada puluhan bahkan ratusan pejuang yang hilang tidak kembali,” katanya.

Baktiono sendiri memiliki satu pesan dari Wiwin yang sering disampaikan dan selalu akan diingat. “…..bagi mereka yang tidak pernah berjuang dalam menegakkan demokrasi  tetapi menjadi pejabat (penikmat perjuangan)….Jangan sombong dan jangan arogan, karena masih banyak para pejuang demokrasi dan pejuang reformasi hidupnya tetap sederhana dan hidup apa ada,” kata Baktiono mengutip pesan Wiwin.

Terpisah, Abdul Ghoni Mukhlas Ni’am, politisi muda dari PDIP mengaku sangat bangga sempat mengenal sosok Dyah Wahyu Winarti.”Beliau adalah sosok yg tegas lugas dan pekerja keras, dan beliau sangat humble, sebagai juniornya patutlah meneladani sifat-sifat baik beliau,” ujar anggota DPRD Surabaya periode 2019-2024.

Banyak perjuangan Wiwin yang terus diceritakan ke generasi-generasi muda PDIP. Tentang semangatnya, tentang ketulusannya. “Selamat jalan Mbk Wiwin. Kami akan selalu menjadikan perjuanganmu sebagai salah satu pelecut semangat menciptakan kesejahteraan masyarakat,” tutup Ghoni.(dya,ard)

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini