WBAE, Jujugan Edukreasi Sawah di Lamongan

Desa wisata makin menjamur di Jawa Timur. Salah satu yang viral adalah Wisata Besur Agro Edukasi (WBAE) di Desa Besur, Kec. Sekaran, Lamongan. Tak hanya memiliki spot selfi instagramable, destinasi ini juga menjadi jujugan edukasi budidaya padi dengan sistem MTS (Manajemen Tanaman Sehat).

Liburan kok ke sawah! Eits jangan salah, sawah di Kabupaten Lamongan  ini dikemas kekinian. Namanya adalah Wisata Besur Agro Edukasi. Saat mengunjungi kawasan ini, Anda dapat dengan sempurna menikmati semilir angin serta alam yang masih sangat asri.

Gubuk di tengah hamparan tanaman padi yang dipagari bunga warna-warni menciptakan atmosfer khas pedesaan. Sementara, spot-spot foto serta green house tanaman labu memberikan sentuhan modern. Cukup merogoh kocek Rp 2.000/orang, objek wisata yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ini bisa dinikmati oleh masyarakat. 

“Areal wisata ini sebenarnya tanah desa yang sebelumnya adalah sekolah pertanian, karena memang mayoritas dari kami adalah petani,” ujar Kepala Desa Besur, Abd. Harissuhud. “Dari sekolah pertanian kemudian muncul ide untuk menjadikannya wisata berbasis pertanian, sekalian untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang pertanian,” lanjutnya.

Keberadaan WBAE memang masih seumur jagung, meski demikian pemerintah Provinsi Jatim telah melaksanakan acara  Gelar Teknologi Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultural tingkat nasional pada 30 Oktober 2018 di sini.

Pemilihan Desa Belur dikarenakan wilayah ini mampu menggenjot produksi padi petani dengan sistem Manajemen Tanaman Sehat (MTS) alias non-kimia. “Jadi awal pembangunan infrastruktur desa wisata dan edukasi di Belur karena akan ada event nasional di sini. Kemudian berlanjut kami kembangkan untuk wisata edukasi bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Untuk diketahui, sejak tahun 2016 petani Desa Belur mulai melakukan reformasi sistem penanaman padi. Bila awalnya menggunakan bahan-bahan kimia untuk pupuknya, dengan sistem MTS maka petani didorong menggunakan bahan non-kimia. 

“MTS yang diterapkan petani di sini dalam membasmi hama dan penyakit tumbuhan tak menggunakan pestisida. Petani hanya memanfaatkan agen hayati. Bahkan, pupuk kimia yang digunakan pun takarannya sudah dikurangi. Petani lebih banyak menggunakan pupuk organik,” katanya.

Menurut Haris–begitu sapaannya–, petani yang mengaplikasi MTS di lahan 100 ha terbukti produktivitas padinya cukup tinggi, dari 5-6 ton/ ha saat belum menggunakan MTS, bisa menjadi 7-8 ton/ha saat ini. Menariknya, Desa Besur yang semula endemi wereng batang coklat (WBC), setelah menerapkan MTS hama WBC berkurang. Bahkan, pihaknya berhasil mengembangkan beras premium dari jepang, Japonicum Koshihikari dengan sistem ini.

Japonicum Koshihikari adalah salah satu jenis beras dari Jepang yang sangat populer di Negara Sakura. Karakter berasnya yang manis dan lengket, sehingga menjadi pilihan favorit untuk membuat sushi.

“Petani juga memanfaatkan tanaman refugia sebagai tempat musuh alami WBC. Petani juga memanfaatkan burung hantu untuk mengatasi hama tikus,” ujarnya.

MTS yang dikembangkann 3 Poktan di Desa Besur sejak pertengahan 2016 lalu, kata Haris sudah diaplikasi di sejumlah desa di Kec. Sekaran. Ia juga berharap, MTS di Desa Besur ini bisa diaplikasi petani lainnya di tanah air. Petani yang mengaplikasi MTS juga diharapkan bisa mandiri benih dan pupuk (kompos).

“Nah tanah kas desa yang awalnya digunakan sebagai demontration plot (demplot) sawah penerapan MTS inilah yang dijadikan kawasan wisata edukatif bagi anak-anak sekolah dan tentunya spot selfi di era digital ini,” jelasnya.

Saat ini dari 4 Ha lahan yang ada baru sekitar 2 Ha yang dikembangan. Fasilitas yang ada saat ini selain taman bunga, sawah dan beberapa spot foto juga ada mushola, pendopo pertemuan, beberapa gubug/saung, toilet, areal tanam padi  dan green house untuk pengembangan labu madu.

“Sudah banyak sekolah di Lamongan yang melakukan edukasi di sini. Kalau wisatawan individu tak hanya dari Lamongan, tapi banyak juga dari kota sekitarnya seperti Tuban dan Bojonegoro. Bahkan ada study banding dari Jambi dan Kendari,” katanya. Di akuinya di era digital saat ini pengenalan objek wisata baru relatif lebih mudah karena foto/video yang diunggah di media sosial menjadi sarana promosi yang cepat dan tepat. “Untuk itu kami juga memiliki petugas khusus yang mengelola media sosial kami,” katanya. Secara total ada 15 orang pemuda Desa Besun yang merawat lokasi wisata ini.

Tahun ini dari dana desa pihaknya mengalokasikan anggaran khusus untuk terus mengembangkan WBAE. Fasilitas yang akan dibangun adalah Warung LA, lapangan futsal dan kolam edukasi. “Selain dana desa, kami juga dibantu oleh Pemkab Lamongan untuk fasilitas parkir dan lain-lain,” jelasnya.

Catur Pesona Sekaran

Terpisah, Camat Sekaran, Yuli Wahyuono, SH, MM mengatakan desa wisata di Besur adalah salah satu andalan wilayahnya dalam menggerakkan ekonomi kemasyarakatan. “Dengan adanya objek wisata itu, pedagang mulai bermunculan di sekitar lokasi. Tak hanya itu, pengelolaannya melibatkan pemuda desa. Sehingga otomatis membuka lapangan pekerjaan baru,” katanya.

Desa Wisata berbasis sawah ini juga mengubah stigma masyarakat terkait pertanian tradisonal. Dimana petani hanya menanami sawah dan menghasilkan gabah. Dengan sedikit sentuhan, menambah bunga-bunga dan spot foto, ternyata sawah juga bisa menjadi lokasi wisata yang diminati. “Produk warga pun akhirnya bisa mendapatkan pasar. Di Besur produk yang dihasilkan antara lain pupuk organik cair, kompos dan dodol labu madu serta beras sehat,” katanya. Untuk beras sehat pihaknya sedang mengurus perijinan dengan label LA Rice.

Dijelaskan Yuli, sebenarnya di Kecamatan Sekaran yang memiliki 21 desa ada 4 desa wisata yang masuk dalam Catur Pesona Desa Wisata Sekaran. Pertama adalah Desa Besur yang memiliki WBAE, wisata edukasi berbasis sawah.

Selain itu ada juga ada Taman Ekspresi di Desa Kendal yang dilengkapi taman bermain, arena outbond, arena motor cross, lapangan bola dan taman baca. Ada juga Sanggar Seni Desa Jugo yang memiliki lokasi workshop batik dan melukis. Dan terakhir Desa Sekaran yang mengembangkan wisata berbasis air yang diberi nama WIEKES (Wisata Edukasi Kali Embung Sekaran).

“Untuk wisata air dilengkapi perahu-perahu manual yang dipedal, perahu naga dan tentunya ada gazebo, pendopo pertemuan dan sentra kuliner,” katanya. Bahkan rencana juga akan ada kolam renangnya.

Berbagai desa wisata ini tak lengkap tanpa didukung oleh-oleh khas Lamongan. Selain wingko yang sudah terkenal, di Kec. Sekaran ada Ikan Togek Asap, Mie Lidi dan  dodol labu madu. Ke depan juga akan dikembangkan gipang dari beras merah dan hitam yang menjadi andalan Desa Besur. (*)

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini