YDSF Pamerkan 30 Karikatur Kartun Terbaik Karya Anak Bangsa

Surabaya – Melengkapi rangkaian peringatan Hari Anak se-dunia, Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya dan Komunitas Kartun Indonesia (Kartunesia) menggelar Pameran Kartun Opini di Galeri Prabangkara, Jalan Genteng Kali 85, Surabaya, Jawa Timur.

Sebelumnya, sejak akhir Oktober 2019 lalu, YDSF dan Kartunesia menggelar Kontes Kartun Opini ‘Anak Indonesia: Generasi Kreatif dan Optimis’. Karya yang dipamerkan adalah kartun-kartun terbaik yang dikirim peserta dari seluruh Indonesia. Ada yang dari Denpasar, Medan, Jambi, Yogyakarta, Semarang, dan dari kota-kota di Jawa Timur.

Setelah melewati proses penilaian yang cukup ketat, juri akhirnya bersepakat untuk memenangkan lima kartunis dengan karya terbaik. Masing-masing, Juara 1, Joko Luwarso dari Jakarta Selatan, dan Juara 2, Agus Harsanta, dari Denpasar. Sementara Juara Harapan untuk tiga pemenang masing-masing Agus Widodo, warga Kendal, Jawa Tengah, Dien Yodha, warga Banyumas, Jawa Tengah, dan Wahyu Siswanto, warga Lumajang, Jawa Timur. “Mewakili YDSF, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi istimewa untuk kawan-kawan kartunis Indonesia,” kata Anam, ketika ditemui di lokasi.

Melengkapi pernyataan ini, Hendro D. Laksono, pendiri Komunitas Kartunesia mengatakan, hingga batas terakhir pengiriman (24/11), tak kurang dari 90 karya telah diterima oleh panitia. Untuk pelaksanaan tahun ini, kata Hendro, kontes masih didominasi karya-karya kartunis senior tanah air. Sebagian peserta bahkan dikenal sebagai kartunis yang sudah pernah menjuarai berbagai kontes baik nasional maupun internasional.

“Tapi tahun ini nama-nama baru juga muncul. Gaya kartunnya beberapa menggunakan tradisi kartun Jepang atau manga. Tentu ini jadi sesuatu hal yang menarik. Karena regenerasi kartunis secara alamiah terus berjalan,” jelasnya.

Di sisi lain, gaya kartun editorial klasik seperti yang banyak muncul di media massa juga terjaga. Bahkan diperkaya dengan sentuhan simbol kearifan lokal di beberapa karya. “Ini ditandai dengan penggunaan simbol sarung, kopiah, kardus bekas, hingga kuda lumping, yang cita rasanya sangat khas Indonesia,” jelasnya. (sur)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini