Yang (Tak Pernah) Hilang, Film Pemantik Generasi Muda Agar Melek Soal Perjuangan

SURABAYA (Lenteratoday) – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, bersama Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), GMNI Unitomo Surabaya, ADREENA Media dan Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) baru saja menggelar grand launching film “Yang (Tak Pernah) Hilang” pada Rabu (6/3/2024) malam.

Yang (Tak Pernah) Hilang merupakan film dokumenter yang secara substantif menceritakan tentang perjuangan, pengorbanan hingga penculikan dua aktivis mahasiswa asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, yakni Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugerah. 

Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., dalam sambutannya mengatakan,   bahwa Untag Surabaya sebagai Kampus Merah Putih sudah selayaknya melahirkan generasi penerus bangsa yang patriotik dan peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. 

“Dengan hadirnya film ini semoga mahasiswa Untag Surabaya terus menjadi pelopor agent of change dalam konteks penegakan HAM dan kemanusiaan,” ucapnya. 

Sementara itu, produser film sekaligus Koordinator IKOHI Jatim Dandik Katjasungkana, menuturkan, bahwa film Yang (Tak Pernah) Hilang sudah digagas mulai tahun 2019. Namun, karena kendala pandemi Covid-19 serta kekurangan dana, proses awalnya mengalami stagnasi. 

“Produksi film ini membutuhkan biaya besar, terutama untuk biaya perjalanan dan wawancara para narasumber di lima kota, yakni Surabaya, Malang, Jakarta, Jogjakarta dan yang paling jauh di Pangkal Pinang, Pulau Bangka, tempat lahir Herman,” tutur Dandik.

Baca Juga :  Sebanyak 1.124 Mahasiswa Untag Surabaya Mengabdi di Kabupaten Mojokerto

Persoalan makin bertambah dan membuat seluruh crew film mengalami kesedihan mendalam, ketika sang penggagas film, Hari Nugroho, meninggal dunia pada tahun 2020.

Di tengah berbagai kesulitan dan kebuntuan yang dihadapi, pada 2022, Dandik bertemu dengan Muni Moon dan Anton Subandrio yang berprofesi sebagai videomaker. Dari pertemuan itulah, produksi film tersebut mulai dijalankan lagi. 

“Dalam hal pembiayaan, sejak awal, kami mengupayakan kemandirian. Kami patungan, memproduksi kaos #KawanHermanBimo sebagai fundraising dan menerima sumbangan dari berbagai pihak yang peduli pada advokasi kasus penghilangan paksa aktivis pro-demokrasi 1998,” sambung Dandik. 

Film Yang (Tak Pernah) Hilang tidak hanya berkisah tentang kasus penculikan Herman dan Bima, namun juga merekonstruksi kisah hidup mereka sejak kecil di mata keluarga, orang tua, kerabat, kawan sekolah dan masa kuliah, kawan sesama aktivis, dosen, hingga aktivis partai politik. 

“Film ini diharapkan menjadi pemantik khalayak, khususnya generasi muda agar mempunyai referensi historis tentang otoritarianisme Orde Baru. Selain itu, sebagai upaya advokasi agar pemerintah segera menyelesaikan seadil-adilnya kasus penghilangan paksa aktivis pro-demokrasi pada 1998,” harapnya. 

Reporter: Amanah Nur Asiah (mg)/Editor:widyawati


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini