
JAKARTA (Lenteratoday) - Kapal riset OceanXplorer milik OceanX bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara usai merampungkan tahap ketiga misi eksplorasi laut Indonesia rute perairan Padang-Jakarta.
Kesempatan ini dimanfaatkan OceanX dengan mengundang sejumlah media termasuk Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, untuk berkenalan dan melihat langsung kecanggihan kapal ini.
"Kami menerima undangan dari organisasi OceanX di vessel atau kapal Ocean Explorer, tadi sempat berkeliling dan dijelaskan oleh kaptennya dan juga krunya yang total katanya berjumlah antara 32 dan 72 awak," kata Wakil BKSAP DPR RI, Putu Supadma Rudana dalam keterangannya, Kamis(11/7/2024).
Ia mengungkapkan OceanX adalah sebuah vessel yang bisa digunakan, untuk melakukan kajian studi dan melihat berbagai potensi kelautan. OceanX dapat membantu Indonesia memetakan potensi lautnya, melalui eksplorasi 'Misi Indonesia 2024' yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manajemen perikanan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.
Menurutnya pemerintah saat ini sedang melakukan kajian, terhadap laut dan pihaknya melihat hal ini adalah kegiatan yang positif. Sebab Indonesia merupakan negara maritim dengan 2/3 dari negara Indonesia adalah laut, sehingga mau tidak mau harus menjaga keberadaan laut nasional.
"Kapal ini bisa kita lihat mereka bisa sampai turun, mereka punya kapal selam, itu ada dua kapal selam itu bisa turun sampai cukup dalam dan melihat marine biodiversity yang ada di lautan Indonesia," ucap Legislator Dapil Bali ini.
Dalam kesempatan yang sama, Co-CEO and Chief Science Officer OceanX, Vincent Pieribone menjelaskan semua penelitian dilakukan berdasarkan usulan dari ilmuwan Indonesia. Karenanya, OceanX tidak melakukan eksplorasi laut Indonesia berdasarkan kepentingan asing.
"Ada 72 awak, 32 kru, dan ada tim khusus. Ada dua helikopter, empat submersible, tiga ROV, empat kru sains, tiga ilmuwan post doktoral, selebihnya adalah ilmuwan-ilmuwan dari Indonesia dan mereka diseleksi berdasarkan proposal riset mereka yang dikolaborasikan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)," pungkasnya.
Reporter: Sumitro/Editor: Ais