Petualangan Epic Secangkir Kopi Jatiarjo

Ngopi memang telah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat. Tapi, pernahkah Anda membayangkan menyeruput secangkir kopi di tengah susana asri sekaligus magis lereng Gunung Arjuno? Itulah petualangan epic yang menjadi andalan pengelola Kampung Kopi Jatiarjo, Pasuruan.

Saat menyebut Prigen, Taman Safari II tentu saja menjadi ikon wisata yang hingga saat ini mendominasi. Sayangnya multyplier effect, terutama di sektor perekonomian dinilai belum menyentuh semua warga Desa Jatiarjo, lokasi dimana objek wisata itu berada.

Sekelompok pemuda inspiratif pun membuat gebrakan dengan menciptakan paket wisata yang menggabungkan berbagai potensi wilayahnya. Kampung Kopi Jatiarjo begitu mereka menamakannya.

“Sekitar tahun 2014, pemuda-pemuda di Desa Jatiarjo yang sering berkumpul bersama memiliki ide untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Sebab, selama Taman Safari II ada, kami merasa belum ada dampak signifikan terutama secara ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat,” ujar Koordinator Kampung Kopi, Imam Bukhori.

Mereka pun membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Bersama pemerintah desa setempat Pokdarwis ini melakukan pemetaan potensi di wilayahnya. Setelah dua tahun dilaksanakan perencanaan, data yang ada menyebutkan bahwa kopi menjadi komoditas andalan Desa Jatiarjo.

Menurut data desa, perkebunan kopi milik warga Desa Jatiarjo memiliki luas total sekitar 380 hektar. Dengan komposisi 360 hektar adalah lahan hutan yang menjadi hak milik warga Desa Jatiarjo, sedangkan 20 hektar selebihnya merupakan lahan kebun milik warga yang  tersebar di tiga dusun. Untuk varietas kopi yang di tanam adalah kopi Robusta, Arabika dan sebagian kecil kopi Liberrica (kopi nangka).

“Dari situ mengerucut pada satu kesimpulan yaitu mengembangkan wisata berbasis kopi. Tapi kalau cuma ngopi saja kan tidak ada bedanyan dengan caffe ataupun warkop. Jadi kami menggabungkan unsur petualangan ke kebun kopi milik warga hingga ke lereng Gunung Arjuno. Di sini kami menjual sensasi itu,” katanya. Kampung Kopi Jatiarjo ini sendiri secara resmi dibuka pada Juli 2017 lalu berada di ketinggian 800 mdpl, tepatnya di RT 39, RW 20, Dusun Tonggowa, Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen.

Dengan paket wisata andalan ‘Petualangan Secangkir Kopi’, fasilitator/guide akan mengajak wisatawan berkunjung ke kebun kopi. Karena area perkebunan lereng Gunung Arjuno, untuk menuju ke lokasi tamu diantar menggunakan jeep. Setelah sampai di perkebunan, wisatawan diajak tracking dengan berjalan kaki sambil dijelaskan tentang cara merawat kopi sehingga menghasilkan buah kopi yang sempurna.”Tentu saja wisatawan bisa petik kopi, dengan catatan harus petik merah alias matang karena mempengaruhi kualitas,”tuturnya.

Setelah puas diajak menjelajahi kebun kopi sambil tak lupa selfi, selanjutnya wisatawan dipandu untuk ‘ngereweng’ kopi atau sangrai kopi secara tradisional menggunakan  anglo atau tungku dengan bahan bakar kayu.  Petualangan diakhiri dengan menikmati kopi di tengah susana asri perkebunan. Pemandanganya pun sangat menakjubkan, karena wisawatan bak dinaungi dua gunung yaitu Arjuno dan Ringgit. Bagi yang ingin berkemah, Kampung Kopi Jatiarjo juga menfasilitasi wisatawan untuk bermalam di Gumantar Camp yang berada di gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini.

Diakuinya, sejak launching Kampung Kopi warga Desa Jatiarjo makin merasakan imbas dari kunjungan wisata. Saat ini sudah ada 100 rumah warga yang siap menerima tamu live in. “Semuanya sudah berstandard mulai tempat tidur hingga makanan yang disajikan,” katanya. Pihaknya juga menawarkan pertunjukan seni budaya kepada wisatawan yang live in dengan pertunjukan pencak silat maupun bantengan.

Menurut Imam, untuk tingkat kunjungan wisatawan di Kampung Kopi, yang sekadar ingin minum kopi sambil bersantai sekitar 70 orang tiap malam. Sementara untuk grup yang mengambil paket outbond rata-rata tiap weekend ada yang memesan atau 4 gelombang dalam satu bulan.

“Paket kami minimal satu grup ada 8 orang, tapi sejak Kampung Kopi berdiri rata-rata yang booking untuk kegiatan di sini di atas 100 orang per grup. Tahun lalu terbesar kami melayani 1.600 orang dari sebuah perusahaan untuk outbond di sini,” katanya.Terkait tarif paket wisatanya, diakuinya relatif murah hanya Rp 200.000/pax untuk petualangan. Sementara untuk paket live in seharga Rp 150.000/pax sudah mendapatkan 2 kali makan.

Selain paket wisata, berbagai produk olahan rumahan juga dijajakan di Kampung Kopi yang dilengkapi sekitar 10 unit toko ini. Oleh-oleh tersebut diantaranya keripik nangka, keripik pisang dan keripik Ketela. Sementara, untuk kopi olahan yang siap konsumsi juga dapat dinikmati di area Kampung Kopi dengan harga mulai Rp 5.000/cangkir. “Jangan salah, kami juga memiliki barista andal yang bisa menyajikan kopi ala-ala caffe lho,” katanya.

Kualitas SDM Naik

Dijelaskan Khoiri, Koordinator Program Kampung Kopi, selain terus memperbaiki dan menambah paket dan fasilitas wisatanya pihaknya juga berupaya mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). “ Kami setiap minggu membuka kelas wisata bagi pemuda-pemuda di sini. Mulai belajar menjadi guide yang baik sampai menjadi barista juga,” katanya.

Dari 35 pemuda yang menjadi anggota Pokdarwis Kampung Kopi, ada beberapa yang memiliki latar belakang di bidang pariwisata. Jadi, saat ada kelas wisata semua pihak bisa memberi masukan dan saling berdiskusi.

Ahmad Humaidi, salah seorang barista Kampung Kopi mengaku belajar meracik kopi secara otodidak. “Kemampuan saya berkembang seiring dengan seringnya diskusi dengan teman-teman,” ujarnya. Dari berbagai produk yang ditawarkan Kampung Kopi, jenis Arabika paling banyak di pesan oleh para tamu.

Pihaknya juga menyediakan kopi kemasan yang bisa dibawa pulang untuk dinimati di rumah masing-masing. Ada sekitar 5 merek lokal, merupakan produksi masyarakat Pasuruan yang ditawarkan. Diantaranya, Goat Coffe, Kopi Dewe, Kopine Wong Jatiarjo, Lesung dan Kopi Jatiarjo.”Ada juga Kopi Jaran, merek ini sudah ekspor ke Korea dan Australia,” katanya.

Tak hanya sisi skill di bidang pariwisata yang terasah, pemuda-pemuda Jatiarjo juga merasakan manfaat positif lain dari kehadiran Kampung Kopi. Menurut Khoiri dengan kegiatan positif mengembangkan wisata desa, generasi muda desanya makin jauh dari bahaya narkoba. Selain itu, pertemuan rutin mingguan juga diadakan pengajian bersama. Hal ini secara otomatis juga meningkatkan sisi religi/keagamaan pemuda Jatiarjo.

Sementara itu, dari segi fasilitas pihaknya juga terus melakukan pembenahan. Di tahun 2020 nanti ditargetkan rumah bibit, gazebo/dapur kopi, kebun kopi mini dan hall pertemuan dengan kapasitas 100 orang sudah siap digunakan.

“Tahun ini mulai pembangunan. Jadi tamu yang tidak sempat atau enggan untuk naik ke kebun kopi di atas, bisa menikmati paket petik kopi sampai proses membuat kopi sendiri di sini,” kata Imam. Apalagi, bulan Oktober tahun ini ada rencana dari Kodim setempat untuk membuat akses jalan tembus dari jalan sekitar area Kampung Kopi ke Taman Dayu.

Sementara dari segi promosi, pihaknya memiliki event tahunan Festival Kopi. Tahun lalu dilakukan pada bulan November, sementara tahun 2019 ini agenda tersebut maju di bulan Juli nanti. “Kami optimistis Kampung Kopi berkembang. Sebab ini ada karena greget dari pemudanya sendiri,” tuturnya. Tak ketinggalan, berbagai media sosial juga menjadi senjata kalangan muda Jatiarjo mempromosikan Kampung Kopi ini.

Terkait dukungan pemerintah setempat, Imam menegaskan bila dukungan yang diberikan sangat besar. “Pak Lurah mendukung penuh. Mulai dari pembangunan toko-toko ini di tanah desa hingga berbagai kegiatan san kunjungan yang digelar di sini,” katanya.(*)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini