
SURABAYA (Lenteratoday) -Ada dua kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT dalam berhaji: kesempatan umur dan kesempatan harta (biaya). Keduanya harus seiring. Umur ada, tetapi biaya tidak ada, maka tidak bisa berangkat. Biaya ada, umur tidak ada, juga tidak mungkin berangkat.
Keinginan untuk menyaksikan dan merasakan sendiri ibadah haji merupakan suatu tantangan yang menggelitik. Apalagi dikuatkan oleh kesadaran tinggi, di kala usia masih muda, untuk segera melaksanakan salah satu perintah Allah SWT itu.
Salah seorang jamaah haji dari Surabaya, berada dalam kategori usia muda dan mampu. Tetapi dia berkebutuhan khusus. Berikut kisahnya:
***
WAJAH bahagia terpancar dari Rahmad Widayat (41th), warga Rungkut Barata, Surabaya. Mimpi pria yang kesehariannya berjualan 'Sosis Solo' itu berangkat haji akhirnya terwujud tahun ini.
"Saya berangkat haji. Saya berangkat haji..." teriak Rahmat, setiap berjumpa dengan tetangga sekitar perumahan.
"Saya berangkat 20 Juni. Gelombang kedua," tambahnya.
Sebagian besar warga di sekitar perumahan awalnya terkejut. Tidak menyangka Rahmat bisa berangkat haji.
Mamad -sapaan akrabnya, jarang bicara soal agama. Sehinga keberangkatan dia ke Tanah Suci sangat menyita perhatian.
Cara Mamad berkomunikasi dengan warga setempat otomatis memiliki jarak. Selama ini, antara Mamad dengan warga saling beradaptasi. Mamad punya kebiasaan bicara apa adanya. Bahkan semasa anak-anak Mamad disebut anak mbeling (Jawa: nakal). Suka usil menggoda teman seusianya.
Lelaki kelahiran 14 April 1981 ini menyelesaikan pendidikan sekolah luar biasa. Awalnya Sekolah Dasar hingga SMP SLB Among Asih. Kemudian masuk SLB tingkat Menengah Atas di YPAC Semolo Waru dan Pendidikan Keterampilan -diatas SMA, di tempat yang sama.
Selepas itu Mamad bekerja di perusahaan jasa. Tiga tahun setelah itu, Mamad mengundurkan diri, dan mulai wiraswasta. Tahun 2010 dia berjualan aneka minuman. Mulai beras kencur, sinom, kunir asem dan sambel pecel.
Mamad mendapat skil keterampilan membuat aneka minuman itu ketika berada di sekolah luar biasa. Mamad menuangkan semua ilmunya. Dia meracik sendiri minuman-minuman yang dijualnya.
Mamad keliling menjajakan barang dagangannya. Tak hanya di kawasan Rungkut, dia berjalan ke wilayah cukup jauh. Menjangkau lebih 20 Km dari radius tempat tinggalnya. Namun Mamad tak pernah melupakan ibadahnya. Dia berhenti di masjid terdekat jika waktu shalat tiba.
Mamad, punya kemauan sangat tinggi. Kalau dagangan belum habis dia tak akan pulang, meskipun sudah siang.
Tahun 2011 Mamat menikah dengan Endah Suciati. Pasangan ini tekun dan saling mengisi. Endah Suciati ahli membuat sosis solo. Sejak itu Mamad mulai jualan sosis solo.
Menurut Dr.Sri Wiryanti Budi Utami, Dra., M.Si, ibu kandung Mamad, pada tahun 2011 itulah mulai muncul keinginan menunaikan ibadah haji. Mamad dan istri mendaftarkan sebagai calon jemaah haji.
Masih menurut Sri Wiryanti, kegiatan ibadah Mamad terbilang tekun. Shalat lima waktu tak pernah bolong. Puasa wajib di bulan Ramadan juga senantiasa penuh.
Atas dasar itu, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda, Sri Wiryanti memenuhi kehendak Mamad. Ibunda Mamad bahkan ikut membantu mendaftarkan haji ke salah satu bank.
Mamad dan istrinya mengumpulkan hasil keuntungan jualan sosis solo. Lalu Sri Wiryanti yang mengelola uang tabungan mereka untuk dimasukkan ke rekening tabungan haji.

Mamad berhasil pergi beribadah ke Tanah Suci setelah 11 tahun menabung. Namun di tengah kegembiraan, ada satu ganjalan. Karena aturan kuota yang masih terbatas, istri Mamad, belum bisa berangkat pada tahun ini. Menurut informasi dari Departemen Agama, Endah Suciati mendapat porsi tahun 2023.
Penanganan khusus
Tahun ini, Pemerintah Arab Saudi melalui aplikasi e-Haj mengumumkan bahwa jemaah haji reguler mendapat 92.825 kuota. Sementara untuk haji khusus, Saudi juga sudah menentukan jumlah kuotanya, sebesar 7.226 jemaah. Kuota petugas tahun ini berjumlah 1.901 orang. Sehingga, total jumlah kuota haji Indonesia adalah 100.051 orang.
Sementara itu dari jawa Timur ada 16.048 calon jemaah haji (CJH) berhak atas kuota haji pascapandemi. Mereka terbagi untuk 38 kota dan kabupaten di seluruh Jatim. Jumlah tersebut, berkisar 45 persen dari jumlah kuota haji normal di wilayah Jatim.
Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Jatim, Abdul Haris Hasan menuturkan, bahwa kelompok terbang (kloter) pertama untuk porsi haji 2022 di Jatim sudah bisa diberangkatkan pada awal Juni.
Kloter pertama akan terbang pada 4 Juni 2022. Mereka akan transit di Asrama Haji Embarkasi Surabaya Sukolilo dulu, sebelum berangkat ke tanah suci. Seluruh jemaah akan diterbangkan langsung ke Madinah.
Sejauh ini belum terlihat sikap apparat penyelenggaran terhadap Jemaah haji yang berkebutuhan khusus.
Lentera.com sempat mendatangi Masjid Ash-Shoobiriin tempat Mamad melakukan manasik haji. Petugas Kantor Urusan Agaman Kecamatan Gunung Anyar tidak mengetahui salah seorang jamaah di KBIH tersebut berkebutuhan khusus (*)
Penulis: Arifin BH