
Oleh: Agustina Widyawati (*)
Latar Belakang
Harus berkejaran mengikuti kemajuan teknologi dalam bisnis media menjadi sebuah keniscayaan. Hadirnya internet di era digital saat ini memicu sistem komunikasi dan informasi sangat beragam. Media informasi awalnya hanya berupa media konvensional seperti surat kabar, televisi, dan radio. Namun dengan kehadiran internet, berbagai media online,media sosial dan platform digital hadir sebagai alternative bagi masyarakat dalam mendapatkan infomrasi dan hiburan.
Ketiga media konvensional surat kabar, televisi, dan radio pun memiliki masa kejayaannya masing-masing sebelum digitalisasi melanda. Jauh sebelum teknologi internet ada , media konvensional lahir satu persatu. Tak hanya saling bersaing dalam konten dan mendapatkan iklan, tapi juga saling mengisi kekurangan.
Secara garis besar dapat ditarik jejek perkembangan media dimana kehadiran radio mengancam posisi media cetak. Sementara pada 1996 giliran kehadiran televisi menjadi ‘musuh’ bagi radio. Dan kini, semua media konvensional tersebut terancam karena mendapat serangan new media (media baru).
Dikutip dari buku Etika Komunikasi dalam Media Sosial: Saring Sebelum Sharing (2021) karya Rahmanita Ginting, dkk, new media adalah media yang memakai internet berbasis teknologi online, dengan karakter fleksibel, sangat potensial bersfifat interaktif, serta memiliki fungsi secara privat atau publik. Secara etimologi bahasa, new diartikan baru, sementara media berarti alat yang digunakan komunikator untuk mengirim pesan kepada komunikan. Artinya, new media adalah alat baru yang digunakan komunikator untuk mengirim pesan kepada komunikan. Berbagai bentuk platform digital seperti media sosial dan website merupakan contoh media baru.
Sementara, menurut Denis McQuail, media baru adalah wadah semua pesan komunikasi bisa terpusat dan mudah untuk disalurkan menggunakan teknologi internet dan melibatkan audiens untuk meningkatkan proses interaksi dan komunikasi.
Kehadiran media baru yang makin mengubah cara orang di seluruh dunia mendapatkan hiburan dan informasi secara nyata kini mengancam keberadaan media konvensional. Media cetak seperti koran, misalnya, diramalkan akan mati di tahun 2040-an.Pakar komunikasi Philip Meyer mengatakan pada tahun 2005 bahwa media cetak akan mati pada tahun 2042.
Rupert Murdoch dan Noam Chomsky membenarkan pendapat tersebut, namun tetap berusaha optimis. Menurut Murdoch, umur media cetak bisa diperpanjang apabila media cetak menghentikan arogansinya dan memberikan perhatian pada kebutuhan masyarakat khususnya anak muda. Ramalan pun menjadi kenyataan, 2 tahun pasca pernyataan Meyer, yaitu di tahun 2007, bisnis koran The Sun Inggris milik Rupert Murdoch terjatuh.
Kejatuhan juga terjadi pada bisnis koran di Mareika Serikat (AS). Sebut saja Chicago Tribune, Halifax Daily News, The Rocky Mountain News, Seattle Post Intelegencier, Los Angeles Time, Philladephia Inquiry, Baltimore Examiner, Kentucky Post, King Country Journal, Union City Register Tribune, Albuquerque Tribune, South Idaho Star, San Juan Star, Cincinnati Post adalah sejumlah media cetak besar AS yang gulung tikar.
Kondisi serupa dialami radio. Lembaga survei Nielsen mencatat sepanjang 2016 hingga 2018, penetrasi radio turun perlahan dari 37,6 persen menjadi 34,3 persen pada 2018. Angka penetrasi itu diperoleh Nielsen dari survei di 11 kota, yakni Bandung, Banjarmasin, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta.
Nasib yang sama mulai terjadi di dunia pertelevisian, pelan tapi pasti masyarakat Indonesia makin gemar internetan. Berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View pada tahun 2017, penetrasi televisi masih memimpin dengan 96%. Kemudian media luar ruang (53%), internet (44%), radio (37%), koran (7%), tabloid dan majalah (3%).
Untuk penggunaan media televisi di kalangan muda dapat dilihat pada survei CSIS (2017). Melibatkan 600 responden milenial 17 – 29 tahun di 34 provinsi ini hasil menunjukkan media televisi menjadi mediayang dominan dikonsumsi responsen, yakni 79,3%. Terkait waktu menonton, 8,5% responden menonton TV 1-2 hari dalam seminggu, 5,8% menonton 3-4 hari seminggu, 3% menonton 5-6 hari seminggu, dan 3,3% responden tidak pernah menonton TV.
Untuk media radio dan surat kabar, walaupun masih digunakan oleh sebagian kecil responden, namun mayoritas responden milenial ini tidak lagi menggunakan sebagai saluran media.Sebanyak 57,2% responden menyatakan tidak pernah mendengarkan radio dan 56% responden tidak membaca surat kabar.
Dari survei yang sama menunjukkan 54,3% milenial mengaku setiap hari membaca media online. Penggunaan media sosial di kalangan responden adalah sebagai berikut: 81,7% menggunakan Facebook, 70,3% menggunakan, WA, 61,7% BBM, 54,7% Instagram, 23,7% Twitter, dan 16,2% menggunakan Path.
Meskipun berbagai hasil riset memperlihatkan televisi masih mendominasi konsumsi media, namun, melihat lamanya waktu konsumsi TV, tampak bila televisi tidak mengalami pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir. Hal itu ada dalam data Nielsen Consumer & Media View (CMV).
Bila pada kuartal pertama 2016 konsumen di 11 kota di Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 4 jam 54 menit dalam satu hari untuk menonton televisi, maka durasi waktu itu masih tampak sama tahun 2019 (rata-rata 4 jam 59 menit).
Kondisi ini berbeda dengan penggunaan internet. Data menunjukkan bila waktu menggunakan internet semakin meningkat dalam tiga tahun terakhir, yakni dari 2 jam 26 menit per hari di kuartal pertama 2016 menjadi 3 jam 20 menit per hari di kuartal yang sama tahun 2019.
Di sisi lain, media televisi juga sedang menghadapi tantangan terkait digitalisasi. Skenario terbaru sesuai Peraturan Menteri No. 11/2021 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.6/2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran, yaitu: Tahap Pertama 30 April 2022. Berlangsung di 56 wilayah layanan siaran atau 166 kabupaten/kota; Tahap Kedua pada 25 Agustus 2022.Berlangsung di 11 wilayah layanan siaran atau 110 kabupaten/kota dan Tahap Ketiga pada 2 November 2022.. Berlangsung di 25 wilayah layanan siaran atau 65 kabupaten/kota.
Melihat para pemenang penyelenggara multipleksing adalah pelaku lama yang saat ini menguasai pertelevisian nasional. Nasib TV Lokal dan TV komunitas bisa di ujung tanduk. Untuk menyewa multiplekser sekitar Rp 40 jutaan setiap bulan sangat sulit dilakukan. Sementara untuk mengharapkan diberikannya frekuensi secara gratis juga tidak mungkin. Bila hal tersebut terjadi, ada ancaman PHK atau penurunan lapangan kerja.
Melihat berbagai fakta tersebut, seperti halnya koran, radio dan televisi kini juga terus berjuang agar tetap hidup dengan berbagai cara. Media konvensional berupaya melakukan konvergensi menyesuaikan dengan perkembangan internet.
Kajian Teoritis
Menurut teori Ekonomi Politik Komunikasi Vincent Mosco (1996), Politik ekonomi merupakan studi yang membahas tentang relasi sosial,khususnya hubungan kekuasaan, yang saling berkaitan dariproses produksi,distribusi, dan konsumsi sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi. Politik ekonomi juga membahas tentang nilai tukar antara fungsi dan kegunaan. Politik ekonomi komunikasi dijadikan sebagai bisnis media.
Vincent Mosco memetakan substansi ekonomi politik menjadi tiga konsep dasar yaitu:
- Komodifikasi (commodification): berkaitan dengan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar.Vincent Mosco membagi menjadi dua yaitu komodifikasi konten yang berkaitan dengan isi dari suatu media komunikasi. Dan yang kedua adalah komodifikasi khayalak berkaitan tentang rating yang diterima dari konten media dan rating tersebut dijual kepada pengiklan dengan menggunakan khayalak sebagai tolak ukurnya.
- Spasialisasi (spatialization): membahas tentang penyebaran produk oleh media kepada audiens atau khalayak tanpa terhalang oleh ruang dan waktu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi. Vincent Mosco berpendapat, Spasialisasi merupakan proses perpanjangan institusional media melalui bentuk korporasi dan besarnya badan usaha media. Bahwa bentuk badan usaha media tersebut adalah bentuk-bentuk konglomerasi, monopoli (Spasialisasi Horizontal). Terjadi proses integrasi antara induk perusahaan dan anak perusahaannya yang dilakukan dalam satu garis bisnis untuk memperoleh sinergi, terutama untuk memperoleh kontrol dalam produksi media (Spasialisasi Vertikal).
- Strukturasi (structuration): membahas tentang agen sebagai pembentuk suatu struktur danstruktur membentuk agen, sehingga menimbulkan terjadinya proses produksi danreproduksi yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dalam teori politik ekonomi komunikasi Vincent Mosco, proses stukturasi dapat menimbulkan adanya tindakan dan perubahan sosial yang dipengaruhi oleh struktursosial seperti kelas, gender, ras, gerakkan sosial dan hegemoni. Strukturasi politik ekonomi komunikasi berkaitan dengan gerakkan sosial yang ada di masyarakat.
Dalam perkembangannya kemunculan media baru (new) media tentu saja mengubah peta media di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Perubahan tak hanua dari segi persaingan konten tapi juga pertarungan di bidang pemasaran/marketing.
Menurut editor Handbook of New Media, media baru atau new media yaitu terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi dengan konteks sosial yang menyatukan tiga elemen, yakni alat dan artefak teknologi; aktivitas, praktik dan penggunaan; dan tatanan serta organisasi sosial yang terbentuk di sekeliling alat dan praktik tersebut (Mcquail, 2011 : 43).
McQuail mengidentifikasikan ada 5 kategori utama new media yang dibedakan berdasarkan jenis penggunaan, konten dan konteks:
- Media komunikasi antar pribadi (interpersonal communication media). Meliputi telepon dan surat elektronik/email.
- Media permainan interaktif (interactive play media). Media ini terutama berbasis komputer dan video game (game online), ditambah peralatan realitas virtual.
- Media pencarian informasi (information search media). Ini adalah kategori yang luas, tetapi internet/ WWW (termasuk di dalamnya portal berita online dan search engine) merupakan contoh yang paling penting, dianggap sebagai perpustakaan dan sumber data yang ukuran, aktualitas, dan aksesibilitasnya belum pernah ada sebelumnya.
- Media partisipasi kolektif (collective participatory media). Kategorinya khususnya meliputi penggunaan internet guna berbagi dan bertukar informasi, gagasan, dan pengalaman serta untuk mengembangkan hubungan pribadi aktif (yang diperantarai komputer). Situs jejaring sosial (facebook, instagram, twitter,dll) termasuk di dalam kelompok ini.
- Subtitusi media penyiaran (substitution of broadcasting media). Acuan utamanya adalah penggunaan media untuk menerima atau mengunduh konten yang di masa lalu, biasanya disiarkan atau disebarkan dengan metode lain yang serupa.
Pembahasan
Walhasil kemunculan internet sebagai media baru membuat beberapa perubahan terhadap media tradisional. Perubahan tidak hanya terjadi pada media, tapi juga kepada masyarakat atau khalayak.
Pada tahun 1978 Nicholas Negroponte dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengidentifikasi sebuah teori konvergensi. Menurutnya kombinasi industri media tradisional dengan industri komputer akan menciptakan tipe baru komunikasi (Biagi, 2010: 232). Untuk mengidentifikasi apa yang terjadi pada industri media, Negroponte membuat dua model industri media:
1. Industri media pada tahun 1978: Media massa yang terdiri dari media cetak, media siaran (elektronik) dan industri komputer bergerak selaras.
2. Industri media pada tahun 2000: Media massa yang terdiri dari media cetak, media siaran (elektronik) dan industri komputer sepenuhnya bergerak tumpang tindih.
Prediksi Negroponte benar adanya, model industri media pada tahun 2000 atau yang saat ini telah terjadi, media massa cetak dan penerbitan, siaran dan gambar gerak, serta industri komputer saling bertumpang tindih. Tak hanya berebut audience dengan koten menarik tapi juga berebut pasar pendapatan (iklan),
Di akhir abad 20-an, semua industri media mempunya posisi sama untuk memperoleh keuntungan dari perkembangan media baru dengan melakukan konvergensi. Selain berpengaruh terhadap media massanya, dalam era konvergensi ini, juga berpengaruh terhadap bisnis dari industri media ini. Dengan adanya internet yang bisa dimanfaatkan oleh media radio dan televisi misalnya, dapat membuat dua media seiaran tersebut memperluas jangkauan siarannya.
Media siaran bisa memakai internet untuk aktif di website dan media sosial. Sebab dua media baru tersebut banyak digunakan oleh khalayak. Sehingga terwujud komunikasi antara khalayak dengan media massa terjalin secara interaktif, dikarenakan khalayak yang ada di media sosial merupakan khalayak yang aktif (Nasrullah, 2017:102).
Sementara menurut teori konvergensi media Henry Jenkins, dalam bukunya berjudul ‘Convergence Culture: Where Old and New Media Collide’ terbittahun 2008 mengatakan konvergensi media tidak hanya pergeseran teknologi atau proses teknologi, namun juga termasuk pergeseran dalam paradigma industri, budaya, dan sosial yang mendorong konsumen untuk mencari informasi baru. Hasil penelitian Henry Jenkins menghasilkan kesimpulan bila konvergensi media merupakan proses yang terjadi sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat. Konvergensi media ini menyatukan 3C yaitu computing (memasukkan data melalui komputer), communication (komunikasi), dan content (materi/isi konten).
Konvergensi media juga terjadi dengan melihat bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat sosial. Indivisu menggunakan berbagai platform media untuk menciptakan pengalaman baru, bentuk-bentuk baru media dan konten yang menggabungkan khalayak secara sosial, dan tidak hanya kepada konsumen lain, tetapi untuk para produsen perusahaan media.
Walhasil, dalam melakukan perluasan pasar dan audience di era konvergensi media radio dan televisi tentu saja memiliki strategi tersendiri. Strategi adalah tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan (Sugiya, 2012: 26).
Strategi menurut master strategy menurut Dan Schendel dan Charles Hofer Higgins (1985) (Salusu dalam Sugiya, 2012: 28 – 29) dibagi menjadi 4 bagian, yakni enterprise strategy, corporate strategy, business strategy, dan functional strategy.
1. Enterprise strategy.
Strategi yang berhubungan kelompok di luar organisasi yang tidak dapat dikendalikan atau masyarakat. Dalam strategi ini, organisasi berusaha untuk memberikan sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
2. Corporate Strategy.
Strategi yang berhubungan dengan misi organisasi yang juga sering disebut dengan grand theory. Bagaimana misi organisasi tersebut dijalankan baik secara bisnis, pemerintahan serta lembaga non-profit. Hal tersebut memerlukan keputusan strategis dan perencanaan strategis yang selayaknya juga dipersiapkan dengan baik oleh setiap organisasi.
3. Bussiness Strategy.
Strategi yang berhubungan dengan bagaimana cara mendapatkan pasar di tengah masyarakat, bagaimana menempatkan organisasi di hati para penguasa, para pengusaha, para donor dan sebagainya.
4. Fucntional Strategy.
Strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi yang lainnya. Terdapat tiga jenis dalam strategi ini:
• Fungsional ekonomi yang meliputi fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat.
• Fungsional manajemen yang meliputi fungsi-fungsi manajemen.
• Strategi isu yang memiliki fungsi utamanya adalah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah diketahui maupun belum diketahui ataupun yang selalu berubah.
Perubahan yang dialami radio dan televisi disaat era konvergensi media merupakan cara melakukan perluasan pasar audience. Media penyiaran tentu akan menentukan strategi untuk mendapatkan pasar audience sebanyak mungkin di tengah bisnis media yang sangat ramai. Tak hanya bersaing dengan sesame media televisi dan radio, tapi juga harus berebut pasar dengan media baru.
Untuk itu, media penyiaran membutuhkan strategi agar tetap di hati masyarakat, bahkan bila memungkinkan harus mampu mendapatkan audience baru. Bila hal itu berhasil dilakukan, maka para pemasang iklan otomatis mengikuti. Sebab, pengiklan tentu saja menimbang performa media penyiaran tersebut di tengah masyarakat sekarang ini.
Tak bisa dipungkiri, pemasukan iklan merupakan ‘nyawa’ bagi industri media. Terdapat tiga sumber menurut John W. Dimmick dan Eric Rothenbuhler, yaitu capital (pemasukan iklan), types of content (jenis isi media yang disajikan oleh media), dan types of audiene (jenis khalayak sasarannya) (Haryati, 2012: 160). Menurut Mcquail (2011), ketika terjadi konvergensi media, sumber pemasukan media pun bertambah melalui ongkos untuk online, pembayaran situs web dan subsidi dari pihak yang memproduksi.
Masih menurut Mcquail (2011), pasar dalam media pun bisa dikelompokan sesuai fundamental pembagian ekonomi: Pasar konsumen (consumer market) yaitu untuk layanan dan produk media dan pasar iklan (advertising market)yaitu layanan yang dijual kepada para pengiklan dalam bentuk akses kepada khalayak
Ini sesuai dengan pendapat bila pemasang iklan dan konsumen adalah sumber keuangan bagi industri media. Sebab khalayak yang berbeda menyediakan beragam pasar untuk produk konsumen (Biagi, 2010 : 19). Media, iklan dan khalayak memiliki suatu ketergantungan dan tidak bisa dipisahkan. Ini yang menyebabkan, pembuat iklan teliti dalam memilih medianya.
Kemunculan internet sebagai bentuk kemajuan teknologi otomatis membuat biro iklan berpindah dari media massa tradisional ke media internet. Salah satu keunggulan internet adalah jaringan yang luas sehingga memungkinkan jangkauan khalayak lebih beragam. Internet sebagai media iklan dalam kapasitasnya secara akurat mengidentifikasi dan menjangkau banyak pasar yang berserakan bagi produk dan layanan tertentu (Mcquail, 2011: 251).
Efek konvergensi media tidak hanya terjadi pada perubahan alat teknologi dan manajemen, tapi juga berdampak pada perluasan pasar audience media massa, terutama radio. Hal ini karena khalayak sekarang ini semakin bergeser pola perilakunya karena adanya kemajuan teknologi internet (Romli, 2016 : 147). Selain menggeser pola perilaku manusia, kemajuan teknologi internet pun menyebabkan pesan dan arus balik dapat timbul secara cepat. Sebab pengirim dan penerima bisa berkomuikasi dalam waktu bersamaan di lingkungan digital saat ini(Biagi, 2010:22).
Dengan adanya media internet yang digunakan oleh radio dan televisi, para pengiklan pun mulai tertarik untuk memasang iklan di media online yang digunakan oleh media penyiaran. Sebab produksi iklan dan pemaanfaatan media sosial cenderung membutuhkan biaya yang lebih murah (Nasrullah, 2017: 161).
Sebagai gambaran, berdasarkan laporan tahunan Nielsen yang menghitung gross rate belanja iklan untuk televisi, channel digital, media cetak dan radio tahun 2021 mencapai Rp 259 triliun. Angka ini naik 13% dibanding tahun 2020. Menurut data, media televisi tetap menjadi saluran iklan pilihan pengiklan sebesar 78,2%. Kemudian diikuti channel digital sebesar 15,9%, media cetak sebanyak 5,5% dan radio paling kecil dengan 0,4%.
Diungkapkan dalam penelitian itu, kemudahan kustomisasi channel digital membuat belanja iklan di media ini beranjak naik. Untuk diketahui, media digital yang dimonitor di layanan Nielsen Digital Ad Intel diantranya media sosial yaitu Facebook, Twitter dan Instagram.
Sepanjang 2021, Nielsen menemukan pertumbuhan positif pada 9 dari 10 kategori yaitu online services, facial care, hair care, coffee and tea, snacks, clove cigarettes, seasonal condiments, liquid milk, dan instant food and noodles. Pertumbuhan tertinggi dicatat kategori online services dengan belanja iklan Rp 42,8 triliun atau naik 67 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, iklan pada kategori government dan political organization mencatatkan penurunan sebesar 4 persen karena belum dimulainya periode pesta politik.
Penutup
Untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini, konvergensi media menjadi suatu keniscayaan agar tidak tergulung oleh media berbasis platform digital. Menggabungkan media konvensional dengan media internet bisa menjadi strategi media penyiaran, radio dan televisi, agar bisa bertahan di tengah pertempuran dengan new media.
Berbagai adaptasi harus dilakukan. Radio misalnya, secara head to head berhadapan sengan podcast. Richard Berry di tulisannya dengan julul ‘Will iPod Kill The Radio Star?’, podcast dapat menggantikan posisi bahkan membunuh bisnis radio sebagai media audio. Tapi dia juga optimistis, serang itu tak membuat radio mati atau menghilang sepenuhnya. Podcast bukan mengganti posisi radio, melainkan menjadi alternatif konten audio.Hal itu diperkuat pernyataan, profesor pada bidang Broadcasting dari Birmingham City University, Inggris, Diane Kemp, radio tidak akan mati karena kemunculan podcast. Keduanya akan tumbuh bersama sebab karakteristiknya berbeda.Namun yang harus digaris bawahi, radio harus terus bisa memastikan bila media berbasis suara ini masih relevan bagi pendengarnya.
Tak hanya konten yang dibuat dengan mengadaptasi konvergensi media, tapi di sisi pemasaran dan marketing juga harus mengarah ke era digital. Hasil komparasi perubahan dan bentuk yang digunakan pada era konvergensi media, radio dan televisi bisa menggunakan strategi dengan mencermati faktor yan mendukung dan menghambat, dan pengaruh dari adanya konvergensi media yang dilakukan dalam melakukan upaya perluasan pasar audience dan jangkauan pemasang iklan saat ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan diantara:
1. Strategi perluasan pendengar, dan perluasan pemasang iklan.
Dari segi pendengar, media penyiaran dalam hal ini radio dan televisi dapat melakukan riset sehingga bisa menentukan positioning, branding, promosi dan konsisten dalam upaya perluasan pasar. Beberapa strateginya:
a.Riset yang difokuskan ke anak muda yang merupakan pasar terbesar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 , jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,19 juta jiwa atau 24,02% dari total penduduk. Artinya 1 di antara 4 orang Indonesia adalah pemuda. Langkah riset dilakukan untuk mencari tahu apa yang disenangi, diinginkan serta sedang tren di kalangan anak muda.
b. Positioning, branding dan promosi dilakukan dengan cara melakukan pendekatan kepada anak muda. Bisa melalui komunitas-komunitas anak muda dan selalu hadir di kegiatan kalangan ini.
c. Konsisten menayangkan konten yang sama di media sosial untuk membuat image yang kuat di kalangan audience.
d. Dari segi pemasangan iklan, bisa ditawarkan bandling. Yaitu menawarkan pemasangan iklan melalui dua media, media baru dan konvensional. Bandling merupakan salah satu cara untuk memperluas pasar audience dari segi pengiklan. Strategi yang mereka lakukan pun masuk dalam Master Strategy menurut Dan Schendel dan Charles Hofer Higgins (1985).
2.Konvergensi media bisa dilakukan melalui media daring seperti web streaming dan media sosial telah mempengaruhi audience dan pemasangan iklan. Dari segi audience, mereka mendapatkan perluasan wilayah pendengar hingga mancanegara. Sebab dengan jaringan internet siaran bisa diakses darimanapun. Media penyiaran juga bia mendapatkan feedback lebih cepat dari audience. Dari segi pemasang iklan, dengan adanya konvergensi media yang dilakukan dapat mempengaruhi wilayah pengiklan.
3.Menjalin kerjasama dengan platform digital. Sudah menjadi rahasia umum, jika saat ini media baru telah menjadi lebih menonjol daripada media tradisional. Konsumen saat ini memang menjadi kurang menerima media tradisional. Sebab mereka bisa mengabaikannya. Stasiun radio dan televisi dapat diubah dan surat kabar dapat dibuang sehingga tayangan iklannya dapat dilewati. Sementara untuk iklan luar ruangan seperti spanduk dapat dibaikan.Artinya, metode pemasaran tradisional seringkali diabaikan dan makin dianggap tidak efektif.
Muncul strategi baru di era digital dengan mengoptimalan penggunaan mesin telusur atau lebih dikelan dengan SEO (Search Engine Optimization). Yaitu teknologi yang mengacu pada serangkaian proses di mana situs web meningkatkan peringkatnya di mesin telusur seperti Google. Bagi radio dan televisi yang memiliki website guna mendukung siarannya, SEO juga bisa menjadi salah satu komponen penting dari pemasaran online. Dengan konsep berjuaalan secara bandling, tanpa peringkat dalam pencarian, pengiklan tidak akan tertarik beriklan di perusahaan tersebut.(*)
*Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo, Surabaya