
MINA (Lenteratoday) - Jemaah haji merasa lega setelah bisa melontar Jamarat. Ritual Jamarat adalah melempar kerikil di tiga tugu di Mina.
Bersama sejuta anggota jemaah di seluruh dunia yang hadir di Tanah Suci tahun 2022 ini, masing-masingsudah menyelesaikan Jamarat.
Jamarat dimulai pada hari Sabtu (9/7/2022) dini hari dan berlangsung hingga hari Senin atau Selasa (12/7/2022). Setelah itu, jemaah kembali ke Kota Makkah.
Sejak dari perkemahan mereka berjalan berombongan sampai tiba di lokasi jamarat. Sesamapinya di tugu batu, para jamaah melempar kerikil yang telah dipungut sebelumnya ketika berada di Muzdalifah. Setiap lemparan diiringi doa.
Setelah melempar 7 kali dengan kerikil pada salah satu tugu besar, maka jamaah haji bisa mencukur rambutnya.
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Nurul Hayat Surabaya yang tergabung dalam kloter 37, melaksanakan lempar jamarat pada Minggu malam (10/7/2022) setelah shalat Isya.
Melempar jumrah dengan sasaran 3 tugu sebagai penolakan kepada setan. Tiga tugu ini sekarang berada terletak di jembatan penyeberangan besar, selebar jalan raya delapan jalur, dibangun di atas dataran gurun Mina.
Mengutip Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi,
“Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumroh’Aqobah. Lalu Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah . Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumroh yang kedua. Lalu Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumroh ketiga. Lalu Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.
Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/17), hadits nomor 1156.
“Rasanya bahagia dapat melempar jamarat. Ini simbol melempar perilaku negatif yang pernah kami lakukan,” tutur seorang jamaah.
Setiap selesai shalat Isya selalu dilakukan pembacaan shalawat bersama di tenda jamaah KBIHU Nurul Hayat. Kegiatan ini menjadi semarak karena mengingatkan kebiasaan yang ada di tanah air (*)
Penulis: Dr. Aryo Nugroho, M.T. -Dosen/Jamaah Haji Kloter 37 Surabaya|Editor: Arifin BH