
LAMONGAN (Lenteratoday) – Hantaman pandemi Covid-19 membuat hampir semua sektor terpuruk. Pariwisata salah satu sektor yang cukup terdampak, tidak terkecuali wisata di tingkat desa. Wisata-wisata tingkat desa yang diharapkan menjadi penopang ekonomi sebagian masyarakat dan juga pemasukan bagi pemerintah desa harus terseok dan bahkan di antara mereka tak mampu bertahan.
Seiring dengan melandainya penyebaran Covid-19 dan kebijakan pemerintah yang memberikan kelonggaran bahkan pembukaan tempat wisata, maka harapan besar kembali muncul pada desa-desa wisata untuk bisa bangkit. Berbagai upaya dan strategi dilakukan para pengelola guna mengembalikan kondisi wisata agar pulih dan bangkit lebih kuat, seperti beberapa desa wisata di Kabupaten Lamongan.

Di antaranya adalah wisata pemandian Jalasundra Mbrumbung atau yang lebih dikenal dengan wisata pemandian air panas Mbrumbung. Wisata alam yang ada di Dusun Tepanas, Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan ini merupakan andalan sumber pendapatan desa setempat. Di masa pandemi kemarin, wisata yang tak jauh dari wisata religi Sunan Drajat ini sempat tidak mendapat menghasilan sama sekali, lantaran harus tutup.
Kondisi ini tentu berdampak pada 28 pengelola dan pekerja, mereka tak lagi bisa menikmati penghasilan dari wisata alam yang konon peninggalan dari Sunan Drajat ini. Tak hanya mereka, sekitar 20 pemilik kios atau pedagang yang ada di kawasan pemandian Mbrumbung ini juga tak mendapatkan penghasilan. Mereka terpaksa beralih profesi menjadi petani, nelayan, bahkan pekerjaan lain untuk bisa menopang ekonomi keluarga.
Kepala Desa Kranji, Khusnul Wafiq, mengatakan bahwa pada tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19, jumlah pengunjung bisa mencapai 15.000 hingga 20.000 per bulan dengan rata-rata 500 hingga hampir 700 pengunjung setiap harinya. Dengan harga tiket Rp 5.000 per orang, maka tempat wisata alam ini bisa mendapatkan menghasilan kotor Rp 75 juta hingga Rp 100 juga per bulannya.
Ketika penyebaran Covid-19 mulai terjadi pada 2020, dan pemerintah mengeluarkan aturan penerapan protokol kesehatan yang berdampak pada penutupan tempat wisata, maka kondisi wisata alam Mbrumbung berbalik 180 derajat. Tak ada lagi pemasukan, sementara tempat pemandian dan fasilitas lainnya tetap harus dilakukan perawatan berkala. Maka, para pekerja dan pengelola yang merupakan warga asli Dusun Tepanas, Desa Kranji ini harus suka rela bekerja meski tidak mendapat upah.
Meski demikian, Wafiq merasa yakin jika pandemi akan berakhir. Maka pada tahun 2021, dia memutuskan untuk melakukan upaya agar ke depan atau setelah pandemi usai jumlah pengunjung akan kembali normal. Di tengah masa pandemi yang masih belum menentu, termasuk buka tutup tempat wisata dengan berbagai pembatasan, Wafiq melakukan penambahan fasilitas di sekitar wisata Mbrumbung.
“Pada 2021, kami membangun area outbound. Kemudian menambah beberapa fasilitas lain seperti spot selfi di sekitar perbukitan sebelah selatan kolam pemandian air panas,” jelasnya pada lenteratoday.com, Selasa (27/9/2022).
Gayung bersambut, pandemi Covid-19 semakin melandai seperti perkiraan Wafiq. Hingga akhirnya, Presiden Joko Widodo memperbolehkan membuka masker di tempat umum dan pembukaan wisata pada bulan Mei kemarin. Keputusan ini langsung memberikan dampak positif pada Mbrungbung, di mana jumlah pengunjung langsung membludak.

“Pada tahun kedua pandemi (2021) meski pemerintah meminta tutup, tapi tetap dibuka ala kadarnya, tapi tidak ada jualan, biar tidak bergerombol. Pengunjungnya tidak dari daerah sekitar sini (Paciran), namun kebanyakan dari Surabaya dan daerah lain. Jadi tetap kami buka, kasihan sudah jauh-jauh sampai ke sini. Tapi, begitu dibuka setelah hari raya (Idul Fitri) kemarin, pengujungnya langsung banyak, sampai saat ini,” kata Dzakir, penjaga loket tiket wisata Mbrumbung.
Bahkan, lanjut Dzakir, jumlah pengunjung pun langsung hampir sama dengan jumlah pengunjung sebelum pandemi. “Rata-rata per hari saat ini sudah mencapai 500 pengunjung. Memang, pengunjung itu paling banyak datang pada hari libur seperti Jumat, Sabtu, Minggu,” tambah Dzakir saat ditemui lenteratoday di tempatnya kerja.
Melihat antusias para pengunjung, Wafiq semakin semangat untuk menerapkan upaya dan strategi guna mendatangkan pengunjung lebih banyak lagi, bahkan melebihi sebelum masa pandemi. Dia pun membeberkan beberapa upaya yang akan dilakukan, antara lain dengan pemasangan paving di area parkir yang saat ini masih dalam kondisi tanah dan bebatuan.
Selain itu juga akan membangun lokasi khusus untuk para pedagang, sehingga nantinya akan lebih tertata dan rapi. “Tentu, kami juga akan menambah spot-spot selfi untuk menambah daya tarik wisatawan. Pembangunan akan kami mulai tahun ini. Terlebih lagi, kami sudah ada master plan pembangunan kawasan Mbrumbung yang nantinya mencakup area hingga empat hectare,” tandas Wafiq.
Yang tak kalah menarik, di kawasan wisata ini juga dibangun camping ground atau bumi perkemahan pada awal 2022. Meski masih dalam tahap pembangunan, namun sudah banyak instansi khususnya sekolahan yang memanfaatkan bumi perkemahan tersebut. Bahkan, jika ada yang ingin menggunakan bumi perkemahan dengan kapasitas 500 orang ini, maka harus mengantre sebulan sebelumnya untuk menentukan tanggal pelaksanaan.
Disinggung tentang strategi lain seperti pemanfaatan media sosial, Wafiq mengaku tidak banyak melakukan hal itu. Menurutnya, pengunjung Mbrumbung mempunyai karakter tersendiri akibat pengaruh dari mitos yang beredar di masyarakat. Sebagian masyarakat percaya, mandi di air panas Mbrumbung bisa mendatangkan keberuntungan, baik dalam hal bisnis maupun karir dan jabatan. Ada juga yang percaya, air hangat Mbrumbung memiliki khasiat mampu menghilangkan rasa capek, hingga menyembuhkan berbagai panyakit kulit. Dengan adanya kepercayaan tersebut, maka Mbrumbung tetap memiliki daya tarik masyarakat dari berbagai daerah.

Berbagai strategi untuk bangkit dari pandemi juga dilakukan pengelola wisata Patai Kutang, di Dusun Kentong, Desa Labuhan, Kecamatan Brodong, Kabupaten Lamongan. Namun, berbeda dengan wisata Mbrumbung, para pengelola Pantai Kutang yang merupakan pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ini harus bekerja lebih ekstra lagi. Pasalnya, meski telah melalui sulitnya masa pandemi Covid-19 dan sudah dibuka untuk umum, akan tetapi tingkat kunjungan di wisata alam yang satu ini masih jauh dari kondisi sebelum pandemi.
Ketua BUMDes Labuhan, Ronald Aziz, menceritakan bahwa jumlah kunjungan pada awal dibukanya wisata Pantai Kutang tahun 2018 lalu mencapai 8.000 hingga 9.000 pengunjung per bulan atau setidaknya rata-rata 300 pengunjung per hari. Namun, begitu diterpa pandemi khususnya pada tahun pertama penyebaran Covid-19, wisata yang mengandalkan suasana pantai dan jembatan melintang di atas air laut ini harus tutup seperti tempat wisata lainnya.
Pada tahun kedua pandemi, lanjut Ronald, pemerintah sempat memberikan sedikit kelonggaran untuk tempat wisata dengan syarat penerapan protokol kesehatan, kesempatan tersebut tak disiasiakan untuk membuka Pantai Kutang. “Kalau sebelum pandemi itu per hari rata-rata 300 pengunjung, pas pandemi turun menjadi 100 pengunjung per hari,” kata Ronald saat ditemui Lenteratoday.com di area wisata Pantai Kutang, Selasa (27/9/2022) lalu.
Meski jumlah pengunjung saat masa pandemi tidak sebanyak sebelumnya, namun Ronald mengatakan bahwa kondisi itu cukup menggembirakan. Setidaknya, dalam masa pandemi masih ada pemasukan sekitar Rp 500. 000 per hari dari penjualan tiket Rp 5.000 per orang. Selain itu juga masih mendapatkan pemasukan dari parkir kendaraan.
Sayangnya, setelah pemerintah memberikan kelonggaran dengan memperbolehkan buka masker di tempat terbuka serta beberapa kegiatan seperti wisata pada awal Mei lalu, tidak memberikan dampak signifikan pada Pantai Kutang. Jumlah kunjungan malah lebih sedikit jika dibandingkan saat masa pandemi. Ronald menyebutkan, jumlah pengunjung rata-rata tiap harinya hanya 80 orang saja.
“Masa liburan seperti hari Minggu sekarang itu hampir seperti hari biasa dulu. Hari Jumat kalau sekarang sekitar 300 – 400 (pengunjung), nembus 500 itu jarang. Kalau dulu bisa membus 700 – 1000. Satu bulan sekarang 2.000 kalau sebelumnya bisa menembuh 8.000 lebih. Pada tahun 2018, 2019, 2020 itu 100 sampai 300 per hari, dan 2022 ini 80 per hari. Paling sedikit kemarin itu 2.000 per bulan. Dulu kami bisa memberikan pemasukan pada desa sampai Rp 85 juta setahun, sekarang tinggal Rp 35 juta saja,” papar Ronald didampingi Sekretaris BUMDes Labuhan, Bey Arifin.
Menurut Ronald, di antara factor yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung karena saat pembukaan setelah Idul Fitri kemarin, bukan dalam masa libur panjang. Selain itu, masyarakat juga disuguhkan banyak pilihan wisata yang buka dalam waktu bersamaan. “Di sekitar sini juga bermunculan wisata baru, mungkin terpecah ke situ,” kata tokoh pemuda desa Labuhan ini.
Kondisi ini memacu semangat Ronald dan rekan-rekannya sebagai pengelola untuk upaya menarik minat masyarakat agar berkunjung ke Pantai Kutang. Langkah yang diambil mulai dari kembali mengaktifkan promosi di media sosial, setidaknya dalam sepekan mengunggah informasi-informasi tentang Pantai Kutang di berbagai media sosial.
“Kemudian juga pembangunan sarana sarana itu kita lakukan. Alhamdulillah, dua tahun ini kami terbantu dengan CSR dari PLN berupa wahana selfi dan lainnya. Tiap tahun, kami juga berupa melakukan perubahan pada beberapa sudut, itu yang mungkin bisa menarik pengunjung baik yang sudah pernah kesini biar kesini lagi dan yang baru biar tertarik ke sini,” kata Ronald.
Salah satu sarana yang saat ini tengah di kerjakan adalah pembangunan lahan parkir kendaraan. Ronald menilai tempat parkir yang lebih nyaman juga bisa menjadi salah satu daya tarik masyarakat. Kemudian juga pembangunan tempat-tempat UMKM baik itu makanan maupun oleh-oleh yang dipusatkan di sekitar tempat parkir kendaraan.
Sementara, pada sisi objek wisatanya sendiri, dilakukan beberapa pembaharuan di spot-spot selfi utamanya di sepanjang jembatan yang melintas dari pintu masuk sampai ke bibir pantai yang menjadi destinasi utama dari wisata Pantai Kutang ini.
Upaya untuk memberikan kenyamanan pada pengunjung dengan mengajukan bantuan dari pemerintah Kabupaten Lamongan maupun Provinsi Jatim juga telah membuahkan hasil. Setidaknya, tiga dari empat gazebo yang ada di sepanjang jembatan berasal dari bantuan Dinas Pariwisata Pemkab Lamongan. Sedangkan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Jatim juga memberikan tiga gazebo yang ditempatkan di bibir pantai Kutang.
Bey menambahkan, upaya lain yang telah didiskusikan dengan para pengelola adalah menggandeng komunitas-komunitas untuk menggelar kegiatan di area wisata Pantai Kutang. Langkah tersebut belajar dari pengalaman sebelum pandemi, di mana banyak komunitas yang menggelar acara, seperti komunitas perahu remote control, pecinta hewan, hingga komunitas layang-layang.
“Dulu, mereka datang sendiri dan menggelar acara sendiri di sini. Nanti, kami akan berupaya kembali menggandeng mereka supaya mengelar acara di sini lagi. Setidaknya dengan kegiatan tersebut akan mampu menarik pengunjung,” kata Bey.
Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan karang taruna desa untuk menggelar pertunjukan musik dan acara lainnya di area wisata. Selain memberikan hiburan bagi para pengunjung, para pemain musik ini juga bisa mendapatkan penghasilan. “Sebelum pandemi, teman karang taruna buat even akustik, pameran seni lukis itu sering, dan saat pandemi sampai sekarang belum lagi. Rencana ada, cuman ini belum terlaksana,” sambungnya.
Satu inovasi pemikiran yang dilakukan para pengelola adalah menambah fungsi wisata Pantai Kutang menjadi wisata edukasi. Hal ini seiring dengan banyaknya biota laut di sepanjang pantai tersebut. Selain itu, di sekitar tempat wisata juga menjadi pusat budidaya ikan kerapu, bahkan sudah merambah pasar internasional.
“Kami terinspirasi dari kedatangan para mahasiswa yang melakukan penelitian biota laut di tempat ini. Hari ini tadi, ada sekitar 70 mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di sini, beberapa hari yang lalu juga ada. Kami akan mengemas wisata edukasi ini dan menawarkan ke sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi di sekitar sini atau di Surabaya dan Malang,” pungkas Ronald.

Selain dua tempat wisata tersebut, wisata religi di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan juga tak lepas dari dampak pamdemi Covid-19. Bahkan, hampir sepanjang pandemi kemarin, wisata yang merupakan makan Sunan Sendang, Nur Rohmad, ini nyaris tutup total. “Selama pandemi kemarin, kami tutup total,” kata juru kunci atau pengelola, Irfan Mashuri, Selasa (27/9/2022).
Dia menceritakan, sebelum pandemi jumlah pengunjung atau peziarah di Makam Sunan Sendang ini rata-rata mencapai 3.000 orang tiap bulannya. Meski demikian, tidak setiap bulan bisa mencapai jumlah tersebut, sebab ada bulan bulan atau hari tertentu dimana jumlah pengunjung cukup banyak. Pada bulan Ramadan misalnya, kebanyakan pengunjung yang adalah dari daerah luar Kabupaten Lamongan. Demikian juga pada haul Sunan Sendang, pengunjung pun berdatangan dari berbagai daerah.
Berbeda dengan wisata air panas Mbrumbung dan wisata Pantai Kutang yang melakukan berbagai upaya untuk bisa menarik pengunjung setelah terpuruk akibat pandemi, pengelola wisata religi Desa Sendang Duwur ini tidak mengeluarkan strategi khusus. Irfan mengatakan, strategi yang digunakan hanya bersifat “getuk tular” atau penyampaian informasi dari mulut ke mulut.
“Nampaknya masyarakat sudah memendam keinginan mereka untuk berziarah ke sini selama pandemi. Sehingga, bagitu dibuka, pengunjungnya langsung banyak, bahkan sudah sama dengan jumlah pengunjung sebelum pandemi,” kata Irfan yang juga masih punya garis keturunan dengan Sunan Sendang.
Meski demkian, dia berharap jumlah pengunjung bisa meningkat lagi. Untuk itu salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengikuti pendampingan yang dilakukan dinas Pariwisata Kabupaten Lamongan. Dia juga berharap, adanya bantuan untuk renovasi dan penambahan fasilitas di sekitar makam Sunan Sendang.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) tengah berupaya membantu dan memfasilitasi pengembangan lima desa wisata yaitu Pantai Kutang, Pemandian Air Hangat Mbrumbung, Makam Sunan Sendang, Wisata Bulaga Desa Pucakwangi, dan Taman Airlangga Desa Patakan.
“Disparbud mencoba melakukan pendampingan kepada desa-desa wisata ini. Kami menyebutnya rintisan. Karena memang rintisan dari desanya masing-masing. Prosesi awal dengan identifikasi potensi dan setelah ini dilakukan pendampingan,” katanya, Kamis (29/9/2022)
Upaya pendampingan terhadap lima desa wisata ini terinspirasi dari kabupaten/kota tetangga yang berhasil mengembangkan desa wisata. Rubikah berharap potensi besar yang dimiliki oleh Lamongan juga mendapat dukungan serta komitmen penuh dari pihak Pemerintah Desa dan masyarakat. Untuk itu, dia berharap pemerintah desa melibatkan dan memberdayakan masyarakat desanya, agar ada rasa saling memiliki dan menjaga. “Karena kami pasti tidak bisa bekerja sendiri tanpa adanya kolaborasi,” harapnya.
Terpisah, ketua Komisi B DPRD Jatim, Aliyadi Mustofa mengharapkan Pemprov bisa melakukan intervensi baik dari sisi permodalan dan anggaran serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pengembangan desa wisata di Jatim. Selain itu, DPRD Jatim juga sudah mengesahkan Perda tentang Pengembangan Desa Wisata untuk mendorong kemajuan desa wisata.
”Ada 470 desa wisata, pengembangan secara bertahap karena tidak semua desa di Jatim punya desa wisata. Maka supaya desa mampu mengembangkan wisata dan mempertahankannya maka dengan adanya Perda tentang Pemberdayaan Desa Wisata yang sudah disahkan beberapa waktu lalu diharapkan mampu mengangkat desa wisata dan ekonomi masyarakat khususnya setelah pandemi ini secara bertahap sisi ekonominya ikut naik,” tandasnya.
Dia juga yakin bahwa desa wisata di Jatim akan terus meningkat. Ini tak lain karena potensi yang dimiliki masing – masing desa yang punya kekhasan tersendiri. Selain itu, setiap desa juga berlomba-lomba menjadikan desa tersebut sebagai destinasi wisata.
“Dengan lahirnya Perda ini tentu kami Komisi B berkewajiban terus mendorong pemerintah agar potensi-potensi desa yang baik terus kita bantu kita support termasuk sisi angarannya. Jadi yang ada dalam isi perda itu salah satunya bagimana pemerintah Jatim bisa intervensi dari sisi anggarannya,” tandas politisi dari PKB ini.
Hal itu juga sejalan dengan banyaknya aspirasi dari masyarakat yang masuk ke komisi B terkait dengan kebutuhan anggaran dalam pengembangan desa wisata. Dan, lanjutnya, Perda itu lahir supaya Pemprov Jatim secara nyata bisa masuk dan intervensi pada desa itu temasuk membantu anggaran.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dalam keterangannya beberapa waktu lalu meyampaikan bahwa Jatim memiliki banyak kekayaan alam maupun ragam tradisi budaya dengan segala keunikannya yang sangat potensial untuk dieksplor dan dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata yang diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
"Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dalam membangun wilayahnya sebagai wujud pelaksanaan tujuan pembangunan nasional, yaitu meningkatkan dan memeratakan pendapatan masyarakat, serta meningkatkan daya saing daerah," paparnya.
Oleh karena itu, lanjut Khofifah, Pemerintah Provinsi mempunyai kewenangan untuk hadir dalam upaya pemberdayaan desa wisata dengan melakukan berbagai fasilitasi, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya, maupun bidang yang lain sesuai dengan batas-batas kewenangan yang telah diatur dalam peraturan perundang undangan.
"Kami berharap bahwa fasilitasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi akan memberikan dampak yang baik bagi perkembangan desa wisata di Jawa Timur nantinya," tandasnya. (*)
Reporter : Lutfiyu Handi | Editor : Arifin BH