06 April 2025

Get In Touch

Musim Penghujan Tiba, Petani Garam Gagal Siapkan Lahan Produksi

Musim Penghujan Tiba, Petani Garam Gagal Siapkan Lahan Produksi

SIDOARJO (Lenteratoday) - Petani garam di Sidoarjo tahun ini terancam gagal siapkan lahan produksi. Tak hanya itu sebelumnya, mereka juga terpaksa panen lebih awal karena cuaca yang tidak menentu termasuk intensitas hujan tiba - tiba dan cuaca mendung yang mempengaruhi kualitas garam yang akan diproduksi.

Akibat anomali cuaca, berdampak pada kualitas garam yang tidak sebagus hasil panen sebelumnya. Namun, sisi positifnya justru tengkulak berani membelinya lebih mahal, karena sudah memasuki musim penghujan. Biasanya petani garam memulai bekerja saat memasuki bulan kemarau di awal bulan Juni hingga Juli dan memanennya di akhir bulan Agustus hingga September ini agar kualitas garam yang diproduksi tidak rusak.

Asmuni (40) salah satu petani garam Sidoarjo menjelaskan jika musim kali ini diprediksi panen garam tidak akan sebagus panen sebelumnya. Secara kuantitas garam yang dihasilkan juga diprediksi akan lebih sedikit dari tahun 2021. "Lebih sedikit dari tahun lalu. Tahun lalu sekitar 1 hingga 1,5 juta ton, untuk musim ini justru di bawah 1 juta ton, bahkan menurun hingga 20 persen dari total panen biasanya," jelasnya, kamis (29/09/2022).

Panen raya garam biasanya terjadi pada bulan Juli hingga awal September. Namun karena cuaca yang terus mendung, panen raya terpaksa mundur. Hal tersebut membuat para petani gagal menyiapkan lahan baru di sisa musim kemarau September ini. Tahun lalu, petani masih bisa menyiapkan lahan untuk sisa musim kemarau bulan ini mengingat Sidoarjo adalah salah kota tropis di Jawa Timur dengan musim kemarau panjang. Jika cuaca terus panas kemungkinan panen raya tahun ini akan dimulai pada pertengahan bahkan di akhir September ini, nyatanya tidak sesuai harapan.

"Suplai dan stok garam tahun ini sudah agak menghawatirkan, semoga saja stok masih ada dan cuaca kembali membaik. Kalau (waktu panennya) lama, maka kualitas garamnya bagus, kasar-kasar atau besar-besar. Kalau waktunya sedikit (garamnya) kurang kasar atau kurang bersih. " Ungkapnya.

Dalam satu bulan, para petani mampu memanen 4 hingga 5 kali. Para petani juga dibayang - Bayangi harga jual yang anjlok akibat kualitas garam yang menurun karena menginjak musim penghujan. Tahun lalu tengkulak membelinya dengan harga Rp 1.400 hingga Rp 1.500 per kilogram. Nyatanya diawal panen kali ini tengkulak berani membeli lebih tinggi yaitu Rp 1.600 per kilogram.

Petani garam sama sekali tidak mengira, akan terjadi hujan intensitas tinggi pada akhir bulan September. Padahal periode tersebut, Lazimnya pada bulan ini, petani bisa melakukan persiapan lahan untuk membuat garam. Namun karena sering hujan, petani belum bisa melakukan persiapan pada lahan produksi garam.

"Yang kami khawatirkan sebagai petani garam adalah sisa kemarau di bulan September ini tidak panjang seperti tahun lalu, selain hujan yang tak menentu, kemungkinan air laut pasang juga mengancam lahan produksi kami. Paling parah adalah banjir akibat intensitas hujan tinggi" imbuhnya.

Meski sebagian besar orang mengeluhkan cuaca panas di bulan September ini, ternyata tidak demikian bahkan puluhan petani garam di sidoarjo berharap cuaca panas lebih panjang lagi di tahun ini. Pasalnya, kualitas garam mereka akan lebih bagus sehingga mereka dapat memanen lebih banyak."Enakan panas seperti ini, garam bagus dan banyak kalau pas panen," pungkasnya.

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Endang Pergiwati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.