
MALANG (Lenteratoday) – Resmi dilantik sebagai Rektor baru Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Hariyono, M.Pd mengungkapkan beberapa program kerja yang akan dilakukannya dalam 5 tahun masa jabatan sebagai petinggi UM. Usai terpilih lewat musyawarah mufakat, upacara pelantikan Rektor diselenggarakan pada Rabu (26/10/2022) yang bertempat di Gedung Graha Cakrawala, UM.
“Pasti akan melanjutkan program sebelumnya. Visi kita ini adalah PTNBH jadi berbeda dengan Badan Layanan Umum (BLU) Jadi UM harus bisa melakukan penyerapan dana dan buat resapan, caranya agar bagaimana pengelolaan potensi yang ada bisa dikembangkan, yang nantinya dapat dimanfaatkan serta dipertanggungjawabkan,” ujar Prof. Hariyono, seusai acara pelantikan pada awak media, Rabu (26/10/2022).
Selanjutnya, Prof. Hariyono mengajak seluruh mahasiswa dan dosen UM untuk lebih menonjolkan dimensi intelektual dibidang pengetahuan, dibanding dengan menonjolkan secara fisik.
“Kami mengajak agar teman-teman di UM ini. UM sebagai perguruan tinggi, modal utama bukan fisik tapi intelektual. Kami ingin menciptakan interaksi yang lebih menonjolkan dimension intelektual, baik itu di dalam UM maupun di luar UM,” ungkapnya.
Identik dengan kampus yang melahirkan tenaga pendidik dan guru. Prof. Hariyono juga berpesan agar lulusan UM tidak hanya berpusat pada pengembangan di bidang studi, melainkan lebih mengembangkan kapasitas belajarnya di bidang lain, terlebih pada era digital saat ini.
“Kedepannya bukan hanya penguasaan materi guru di bidang studi tapi kembangkan learning capacity. Karena yang dipelajari saat ini akan berbeda dengan 5 tahun ke depan,” cetusnya.
Pihaknya melanjutkan, apabila tenaga pendidika hanya terfokus pada bidang studi maka dapat dimungkinkan kedepannya akan mengalami gagap digitalisasi.
“Kembangkan kapasitas sesuai tantangan ke depan. Tidak bisa tutup diri, baik fisik maupun digital. Pembelajaran berbasis digital dilakukan secara maksimal. Untuk edukasi metode pembelajaran melalui ruang digital,” sambugnya.
Sebagai rektor yang terpilih karena mempunyai kematangan dalam memahami isu nasional maupun internasional. Prof. Hariyono mendorong agar para dosen UM dapat menyebarkan edukasi, terlebih pada daerah terpencil mengenai metode pembelajaran hingga model penelitian di lingkup digital.
Pihaknya juga menekankan agar mahasiswa dan dosen dapat lebih produktif untuk membuat jurnal ilmiah internasional. Kalau bisa jurnal bahasa asing juga harus ada resume dalam bahasa Indonesia, sambung Prof. Hariyono.
“Karena kita sadar kalau ada world class university dimana karya ilmiah ditulis dalam bentuk jurnal internasional, Jurnal asing, bahasa asing. Kemudian yang menjadi permasalahan, temuannya siapa yang bisa akses itu? Jangan sampai ada ironi penelitian ini tidak bisa diakses bangsa Indonesia sendiri,” jelasnya.
Sehingga, imbuhnya, jurnal penelitian yang diproduksi dengan reputasi internasional dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh pelaku UMKM, anak usia sekolah SD, SMP, hingga SMA sederajat. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi