04 April 2025

Get In Touch

Warganet Keluhkan Sampah Menumpuk, DLH Kota Malang: Pasca Pandemi Volume Sampah Meningkat

Petugas DLH sedang mengangkut tumpukan sampah di Jl. Muharto (Dok. DLH Kota Malang)
Petugas DLH sedang mengangkut tumpukan sampah di Jl. Muharto (Dok. DLH Kota Malang)

MALANG (Lenteratoday) –Beberapa warganet berkomentar keluhkan adanya penumpukan sampah di jalan Muharto, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, pada salah satu postingan akun Instagram @informasi_malangraya.

Dalam video tersebut, menampilkan kondisi jalanan yang macet sebab adanya penumpukan sampah yang sedang diangkut oleh petugas DLH, ditambah bedak-bedak yang berdiri di sepanjang jalan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Noer Rahman Wijaya mengaku, banyaknya bedak atau pertokoan yang berdiri di tepi Jl. Muharto, menyebabkan optimalisasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) setempat menjadi terhambat.

“Kemarin yang kesulitan itu di TPS Muharto. Sekarang ini sudah banyak dibangun di depannya itu bangunan dari warga disana. Jadi optimilasi dari TPS itu hampir tidak bisa terlaksana,” ujar pria yang akrab dengan sapaan Rahman ini, saat dikonfirmasi oleh awak media, Jumat (24/2/2023).

Rahman bahkan mengungkap bahwa TPS di Jalan Muharto sudah sejak 2 tahun lalu tidak dapat digunakan secara optimal oleh warga sekitar. Oleh karena itu, pihaknya telah menyediakan lokasi TPS baru yang terletak di wilayah Jodipan. Namun menurutnya, beberapa warga merasa jarak TPS baru tersebut terlalu jauh dari pemukiman, sehingga mereka memutuskan tetap membuang sampah di jalanan Muharto dan mengakibatkan penumpukan.

“TPS Muharto notabene tidak bisa digunakan. Sedangkan TPS Jodipan yang awalnya di perempatan itu kan bergeser, lokasinya di dekatnya pemukiman Jodipan. Nah dari Muharto kalau mau buang disitu kan jauh sekali. Itu lah akhirnya kemarin jadi ada timbunan sampah di jalanan Muharto itu. Dan itu sudah berangsur hampir 2 tahun ini,” urai Rahman.

Atas kejadian tersebut, Rahman menyebutkan beberapa solusi yang diterapkannya dalam upaya mengurangi penumpukan sampah di Jl. Muharto. Diantaranya mulai dari menyediakan 2 unit armada pengangkut sampah, optimalisasi bak sampah, hingga edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya melakukan pemilahan sampah.

“Ada beberapa solusi yang tersampaikan dari DLH sendiri. Yakni kami menyediakan langsung armada dan truk pengangkutan sampahnya 2 unit disana. Durasi jam 6 sampai jam 9 pagi. Kemudian optimalisasi bak sampah, sesuai yang disampaikan Pak Wali bahwa sekarang dari TPS sampai menuju TPA harus sudah bisa terurai sampai 24 persen,” terangnya.

Lebih lanjut, terkait dengan edukasi kepada masyarakat. Rahman menuturkan bahwa di tahun 2023 ini, pihaknya akan gencar mensosialisasikan kepada warga Kota Malang mengenai cara mengurai dan memilah sampah hasil limbah rumah tangga.

“Harapannya bukan berhenti di TPS tapi mulai dari ligkungannya, dari warganya, jadi nanti bisa dipilah sampah organik dan anorganiknya. Pemilihan itu bisa dilakukan secepatnya, dari hulunya sudah kita canangkan. Ditambah nanti di tahun 2024 sudah ada Perda yang berlaku,” ucap Rahman.

Menurut Rahman, retribusi sampah di Kota Malang mengalami peningkatan yakni dari Rp 15 miliar menjadi Rp 18 miliar di tahun 2022 lalu. Namun, di tahun yang sama, kata Rahman, jumlah sampah yang dihasilkan oleh penduduk kota Malang sebanyak 500 ton.

“2022 jumlah ritasi kita dengan penduduk kota Malang masih 500 ton per harinya. Artinya ritasi sampah bertambah volume. Walaupun hasil retribusi sampah sudah naik dari Rp 15 miliar jadi 17 miliar, bahkan sampai 18 miliar. Dengan selesainya musim pandemi ini jumlah penduduk bertambah, khususnya pelajar yang masuk di Kota Malang,” pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.