05 April 2025

Get In Touch

Masyarakat Kabupaten Kediri Wacanakan Pemulangan Prasasti Harinjing

Para narasumber di seminar Nasional Lintas masa edisi pertama yang digelar Pemkab Kediri di Auditorium Simpang Lima Gumul, Sabtu (11/3/2023) terlihat serius membahas sejarah Kabupaten Kediri.
Para narasumber di seminar Nasional Lintas masa edisi pertama yang digelar Pemkab Kediri di Auditorium Simpang Lima Gumul, Sabtu (11/3/2023) terlihat serius membahas sejarah Kabupaten Kediri.

KEDIRI (Lenteratoday)- Peserta Seminar Nasional Lintas masa edisi pertama yang digelar Pemkab Kediri di Auditorium Simpang Lima Gumul, Sabtu (11/3/2023) mewacanakan pemulangan Prasasti Harinjing yang disimpan di Museum Nasional di Jakarta, Wacana tersebut dituangkan di akhir seminar dengan menandatangani prasasrti.

Prasasti ditandatangani peserta seminar yang mayoritas berasal dari Kabupaten Kediri. Prasasti Harinjing adalah dimana pertama kali kata Kediri disebut.

Menurut Kayato Hardani, salah satu narasumber dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di seminar tersebut menyebutkan masyarakat Kabupaten Kediri patut berbangga dengan sejarah yang dimiliki.

“Proses pemulangan prasasti ini dikembalikan lagi kepada masyarakat. Seberapa urgensi prasasti yang berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung itu untuk dipulangkan,” ujarnya.

Prasasti Harinjing itu sebagai identitas Kabupaten Kediri, kalau ingin memulangkan harus didiskusikan komunitas masyarakat juga ada dasar dan kajian. Semua itu Pemkab Kediri yang harus memfasilitasi.

Kayato menegaskan masyarakat Kabupaten Kediri patut berbangga dengan sejarah yang dimiliki. “Kediri sendiri layer sejarahnya luar biasa. Mulai klasik sendiri sudah ber-layer-layer, belum lagi masa Islam.

Dengan modal tersebut, kata Kayato, bisa digunakan sebagai pembelajaran. Dimana data-data sejarah dan arkeologi harus diperlakukan ilmiah dengan metode yang tepat. Sehingga diharapkan tidak ada penyelewengan hingga salah interpretasi dalam menelaah sejarah.

Kayato menambahkan, peran pemuda menjadi satu faktor penting dalam pelestarian sejarah. Sungai Serinjing misalnya. Pemuda dapat melestarikan sungai yang ditandai dengan Prasasti Harinjing, dimana pertama kali penyebutan kata Kediri.

Sungai ini pula sebagai penunjuk jejak Bagawanta Bhari yang mengubah irigasi menjadi sistem pengairan yang hingga sekarang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Mereka (pemuda) adalah pewaris langsung Bagawanta Bhari, bagaimana mereka menjaga. Satu kegiatan diposting akan menularkan efek-efek (pelestarian),” terangnya.

Hal ini juga dibenarkan narasumber lain, Dwi Cahyono budayawan sekaligus akademisi. Menurutnya, selama hampir dua abad lebih Kerajaan Kediri mampu membangun peradaban yang tak hanya di Kediri tapi juga Nusantara.

Dwi menjelaskan, jika dihitung dari HUT Kabupaten Kediri yang sudah berusia 1219 tahun, perjalanan proses peradaban di Bumi Panjalu ini telah waktunya untuk dipetik. Terlebih, di masa kepemimpinan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana ini terus diberikan ruang bagi pelestarian kebudayaan.

“Buah dari perjalanan panjang peradaban Kediri sudah saatnya dipetik, oleh karena itu kegiatan (seminar lintas masa) semacam ini adalah ikhtiar untuk menemukan buah dari proses perjalanan panjang itu,” tandasnya.

Buktinya, lanjut Dwi, prasasti-prasasti peninggalan Kabupaten Kediri ditemukan di daerah aliran Sungai Brantas. Dia juga menyebutkan Brantas sebagai urat nadi, sebagai sungai besar sebagai transportasi air, pasokan kebutuhan air pertanian.(*)

Reporter: Gatot Sunarko /Editor: Widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.