05 April 2025

Get In Touch

Sisi Lain Idul Fitri, Berlebaran Dalam Suasana Covid-19 di Australia

Riska (kedua dari kiri) merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia.(Dok ABC)
Riska (kedua dari kiri) merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia.(Dok ABC)

Lebaran kali ini, bagi umat Islam di Australia, menjaditantangan tersendiri karena adanya pembatasan sosial terkait COVID-19.

Untung saja di Melbourne saat ini sudah diperbolehkan untukmenerima tamu di dalam rumah maksimal hingga lima orang untuk sekali bertamu.

Pasalnya, inti perayaan lebaran, apalagi bagi warga asalIndonesia, adalah kesempatan untuk saling bersilaturahmi, mengunjungi satu samalain. Sambil bercengkrama menikmati menu-menu khas lebaran.

"Mohon maaf ibu-ibu, usahakan datang on timeya," ujar Riska, seorang warga Indonesia yang kini tinggal di Melbourne,Australia.

Iasedang mengingatkan rekan-rekannya yang akan datang ke kediaman Riska untukmerayakan lebaran Idul Fitri, yang akan dilaksanakan pada hari Minggu(24/05/2020).

Riska yang sudah beberapa tahun tinggal di Melbourne,menjelaskan bahwa silaturahmi lebaran tahun ini harus disesuaikan dengan aturanpembatasan COVID-19.

"Kebetulan Riska baru tiga tahun di Ashburton (salah satudaerah di Melbourne). Tahun pertama iya, tahun kemarin engga karena gantian sama teman, terus tahun inimemang rencananya Riska mau adakan lebaran di rumah, tapi ternyata adaCOVID," ujarnya kepada jurnalis ABC.

Selainmeminta untuk datang tepat waktu, Riska juga memastikan agar tamu-tamunyadatang di waktu yang berbeda-beda. Masing-masing dialokasikan waktu satu jamuntuk sekali bertamu.

"Kalau tiba dirumah, jangan langsung ke pintu rumah saya, tunggu di mobil. Saya akan telponapabila tamu-tamu sebelumnya sudah pulang," katanya.

Riska juga menyediakan hand sanitiser di depan pintu dan memintatamu-tamunya untuk menggunakan pembersih tangan ini sebelum masuk ke dalam.

Di dalam rumah pun, aturan untuk menjaga jarak tetap diterapkansebagaimana dianjurkan oleh pemerintah setempat.

Menurut Riska, ia sudah menyiapkan aneka makanan khas lebaranberupa lontong sayur, rendang, sambal goreng hati, opor ayam, telur balado,gulai telur dan bakso.

Selalu ada sisipositif

Selain silaturahmi, ritual lebaran lainnya adalah melaksanakansalat Idul Fitri di masjid atau di lapangan, yang kali ini sulit dilakukan diAustralia karena adanya pembatasan kegiatan keagamaan hingga 10 orang saja.

Cerita lain dari Nila, wanita asal Sulawesi yang menikah denganwarga Australia Peter Lilly (Muaz). Bersama tiga orang anak, ia selalu antusiasmenunggu lebaran karena sekaligus menjadi momen untuk mudik ke Indonesia.

"Tahun kemarin kami pulang ke Kendari," kata Nila.

Dengan adanya pembatasan COVID-19, keluarga ini mengaku sedihperayaan lebaran kali ini menjadi berbeda dan hanya dilakukan bersama keluargamasing-masing di dalam rumah.

"Biasanya kita merayakannyadi ruang terbuka dan bertemu sanak saudara dan kolega," kata Nila.

Meski demikian, ia melihat sisi positif pembatasan COVID-19karena Ramadan dan lebaran kali ini justru memperkuat ikatan antara anggota keluarganya.

"Suami saya mengatakansemenjak menjadi imam salat tarawih setiap malam secara rohaniah merasa lebihbaik. Alhamdulillah," ujar Nila.

Nila menambahkan bahwa rumahnya tetap terbuka menerima tamunamun dibatasi hingga lima orang saja.

"Karena hanya boleh maksimal lima orang sekali bertamu,kami hanya mengundang teman satu keluarga untuk datang ke rumah," ujarnya.Ia mengatakan sudah menyiapkan menu khas Coto Makassar dan ketupat untuktamu-tamunya tersebut (ABCNews-abh).

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.