06 April 2025

Get In Touch

Sepanjang 2023 Terjadi 8 Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Kota Kediri

Ketua TP PKK Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar (tengah) saat jumpa pers di Warung Up Normal.
Ketua TP PKK Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar (tengah) saat jumpa pers di Warung Up Normal.

KEDIRI (Lenteratoday) - Sebanyak 8 kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Kediri selama 2023 mengundang keprihatinan banyakan pihak. Salah satunya adalah TP PKK Kota Kediri dengan menggencarkan Sekolah Bagi Perempuan Bekal Tantangan Hidup di Masa Depan Nanti (Selimut Hati).

Menurut Psikolog IAIN Kediri, Tatik Imadatus Saadati, ada tiga hal yang penting dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak, Pertama adalah struktur otak laki-laki dan perempuan karena laki-laki 2,5 kali lebih besar dari perempuan dan isinya, diantaranya seks.

Kedua ada proses terjadinya seksual karena ketidakseimbangan otak manusia. Menurutnya, otak bagian depan kurang mendapatkan asupan norma dan agama. "Yang ketiga, ada beberapa style berbusana yang tidak tahu bagaimana respon lawan jenis,” katanya.

“Kita tidak tahu apakah pelaku itu bisa menahan nafsunya atau tidak dengan stimulus itu," tambahnya saat press conference Program Selimut Hati di salah satu kafe di Kota Kediri, Senin (28/8/2023).

Lebih lanjut, Imadatus menyampaikan, dalam tiga hal tersebut memang menjadi bahan masukan bagi semua pihak, terutamanya bagi Pemkot Kediri dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Dia menyebut bagaimanapun juga dampak kekerasan seksual terhadap anak itu memang sangat membahayakan. Bahkan untuk korbannya ada yang sampai bunuh diri.

"Berdasarkan pengalaman mendampingi korban kekerasan seksual, fakta fenomena korban kekerasan seksual kemudian mencari korban baru kelak. Ada korban yang menikmati pelecehan seksual hingga melakukan pada orang lain," ungkapnya.

Ima menuturkan, kejadian tersebut bermula dari dilecehkan yang kemudian tidak ada pendampingan sehingga membuat mereka menjadi balas dendam. Kasus kekerasan seksual juga dapat memicu terjadinya perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Apalagi, Ima juga pernah mendampingi korban kekerasan seksual yang kemudian balas dendam pada laki-laki. Setelah bosan, maka pindah pada perempuan.

"Memang perlu ada pemahaman tentang seksualitas dan dampak maupun manajemen seksual itu terjadi. Dampak yang paling menakutkan adalah bunuh diri dan melakukan dampak baru lagi," papar psikolog IAIN Kediri ini.

Sementara itu Ketua TP PKK Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar menambahkan, program Selimut Hati untuk membentengi remaja khususnya gadis dari tindakan kekerasan seksual.

Selain itu, kata Bunda Fe, sapaan akrab Ferry Silvana Abu Bakar, Kota Kediri akan memasuki dunia baru menjadi kota metropolitan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi.
Melalui program Selimut Hati inilah, remaja Kota Kediri akan mendapatkan wawasan kesehatan, psikologi, pemberian informasi dan keterampilan bagi mereka sehingga akan memahami hak-haknya sebagai perempuan.

"Mau Kediri metropolitan atau tidak, tantangan itu tetap ada. Tetapi dengan sekolah Selimut Hati ini remaja bakal punya bekal untuk menghadapi itu," ujarnya.

Meski begitu, Bunda Fey menuyatakan belum bisa mengcover seluruh warga yang ada di Kota Kediri.

Tetapi standing posisi lembaga ini memang jelas dalam hal penanggulangan kekerasan seksual melalui jalur baik dari sekolah maupun kelurahan.

"Saya tidak mendukung kasus kekerasan seksual didamaikan tetapi selalu mendorong ke ranah hukum," tegasnya.

Berdasarkan data dari Kantor PN Kota Kediri, sejak Januari hingga Agustus 2023 ini sudah ada delapan kasus kekerasan seksual yang masuk dalam persidangan.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pemberantasan kasus kekerasan seksual, pengadilan selalu memberikan hukuman berat terhadap para pelakunya. (*)

Reporter: Gatot Sunarko | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.