
MALANG (Lenteratoday) -Untuk mendongkrak kunjungan di Pasar Buku Wilis Kota Malang, pihak DPRD menyarankan agar ada penambahan sejumlah fasilitas pada pasar tersebut. Khususnya, sarana prasarana yang menunjang digitalisasi.
Diketahui saat ini, kawasan yang menampung sebanyak 68 kios pedagang buku itu tengah dalam proses revitalisasi. Informasi yang dikutip dari lpse.malangkota.go.id, revitalisasi area Toko Buku Wilis menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,02 Miliar.
Menurut anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi, langkah ini bertujuan agar revitalisasi pasar tersebut, nantinya mampu memberikan dampak pada peningkatan kunjungan ke kawasan pertokoan buku di Kecamatan Klojen ini.
"Jadi mungkin bisa ditambahkan yakni seperti ruang yang bisa digunakan untuk berbagai aktifitas. Seperti ruang diskusi, ruang membaca buku, atau ruang yang bisa digunakan untuk nongkrong. Khususnya satu ruang khusus untuk penerapan digitalisasi. Sehingga orang kesana tidak hanya ke toko buku, bisa nongkrong, bisa maen gadget. Kalau sekadar itu sebenarnya tidak susah," ujar Arief, saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (10/11/2023).
Penambahan ruang khusus yang mendukung penerapan digitalisasi, menurutnya dapat dilengkapi dengan jaringan internet yang memadai. Arief mengakui, di era saat ini hampir seluruh kebutuhan masyarakat tidak luput dari akses internet. Di sisi lain, pihaknya berharap agar para pedagang juga dapat mempelajari teknologi di era globalisasi saat ini.
Arief menyampaikan, setidaknya hal itu bisa meningkatkan kunjungan masyarakat ke kawasan toko buku yang berada di Jalan Wilis. Dan selanjutnya juga diharapkan dapat memberikan efek secara berkelanjutan dalam meningkatkan pendapatan para pedagang di kawasan tersebut.
"Saya yang akan mengusulkan dalam pembahasan. Karena ada di Diskopindag, jadi mitra saya di komisi B," imbuh Arief.
Arief menekankan bahwa hal tersebut memang perlu dilakukan. Mengingat keberadaan Toko Buku Wilis juga menjadi salah satu landmark di Kota Malang. Dan cukup terkenal, apalagi bagi Kota Malang yang banyak ditinggali oleh para mahasiswa.
Dalam pemberitaan sebelumnya, pedagang sendiri berharap revitalisasi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya kunjungan yang kemudian berdampak pada pendapatannya. Sebab, revitalisasi pasar ini memang difokuskan untuk memperbaiki beberapa kerusakan yang banyak dikeluhkan. Seperti atap bocor atau drainase yang kurang optimal.
Namun demikian, revitalisasi bukan menjadi satu-satunya keinginan para pedagang. Sebab, hal tersebut dinilai kurang begitu menjamin pendapatan pedagang dari menjual buku bisa kembali meningkat, meskipun jumlah kunjungan diprediksi bertambah setelah area tersebut direvitalisasi.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu pedagang pasar tersebut, Muharto (44) yang menginginkan agar adanya beberapa kegiatan yang bisa digelar di area Toko Buku Wilis. Tentu kegiatan tersebut masih seputar tentang buku. Misalnya seperti forum diskusi, bedah buku atau kegiatan lain.
"Kami mengharap diadakan seperti pameran buku di sini. Ada kolaborasi dengan perguruan tinggi misalnya, itu kan mengundang banyak mahasiswa ke sini. Kemudian membuat workshop untuk pedagang misalnya. Jadi bukan hanya dukungan secara fisik pasar. Tapi juga support untuk meramaikan pasar ini kembali," tegas Muharto.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH