
SURABAYA (Lenteratoday)-Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur akhirnya buka suara soal atlet di wilayahnya yang tersandung masalah doping. Wakil Ketua Umum KONI Jatim, Irmantara Subagyo mengatakan pihaknya sudah melakukan edukasi kepada pelatih dan atlet untuk menghindari doping.
"Kami sebenarnya sudah melakukan edukasi, kepada seluruh pelatih, maupun atlet, untuk tidak melakukan hal yang berkenaan dengan praktik doping. Kami sebenarnya tidak menoleransi atlet-atlet, yang menggunakan doping. Untuk itu,pengetahuan-pengetahuan, tentang anti doping, terus kami berikan. Kami sosialisasikan kepada pelatih, maupun para atlet," ujar Irmantara, dikutip Rabu (6/12/2023).
KONI Jatim berjanji akan mendalami kasus ini. Terutama sebagai pelajaran untuk memproteksi para atlet agar tidak menggunakan doping.
"Terkait hal itu, pasti kami akan melakukan semacam pemeriksaan lebih lanjut, kepada cabang olahraga yang dimaksud. Termasuk kalau atlet ini merupakan salah satu atlet Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda), kami akan tinjau ulang kepesertaannya dalam Puslatda. Namun demikian, kami mencoba akan mendalami kasus ini, sebagai pelajaran bagi kami, untuk melakukan proteksi lebih pada atlet-atlet. Karena bagaimanapun juga, doping merupakan suatu usaha yang tidak fair, ketika seseorang ingin mencapai prestasi," sambungnya.
Sementara itu, Irwan Alwi, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PB PBFI) mengatakan keempat atlet yang bersangkutan sudah mengikuti sidang. Diakui, hasilnya positif menggunakan doping.
"Itu pelaksanaan Kejurnas di bulan Desember tahun 2022. Yang dilakukan Kejurnas, di saat PON Papua, kita pun juga ikut tersandung. Maka kami pada saat Kejurnas meminta juga melakukan tes doping, dan hasilnya dari Kejurnas itu, jumlah peserta ada 240-an atlet, yang kena kasus ada 4 atlet. Dan hasilnya sudah dilakukan sidang, dan memang dinyatakan positif doping, dua diantaranya dari Jawa Timur," jelas Irwan Alwi.
PBFI kata Irwan Alwi, terus melakukan edukasi mengenai anti doping, tidak hanya ke atlet namun juga ke pelatih maupun pengurus PBFI di daerah. Hal tersebut dilakukan agar cabang olahraga dalam pelaksanaan even kejuaraan berikutnya bisa zero doping.(ADV)