
KEDIRI (Lenteratoday) - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri libatkan pelaku Ekonomi Kreatif (E-Kraf) dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Siaran pers dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kediri, Rabu (13/12/2023) menyebutkan pelibatan itu dilakukan dengan mengadakan forum diskusi Creative Talk & Gathering di salah satu hotel di Kota Kediri, Selasa (12/12/2023).
Kegiatan yang mengusung tema "Mengaktivasi Kediri : Kolaborasi Menuju Kota Kreatif" tersebut dihadiri 40 peserta dari OPD dan pelaku E-kraf di Kota Kediri. Bappeda menghadirkan 3 narasumber; Arief Priyono (pegiat komunitas kreatif di Kota Kediri), Dias Satria (Founder Jagoan Indonesia), dan Arif Bawono Surya (Founder Let's Play Indonesia).
Kepala Bappeda Kota Kediri, Chevy Ning Suyudi, mengatakan pihaknya di akhir 2023 hingga 2024 memiliki tugas menyusun RPJPD 2025 - 2040. Selain itu pergantian kepemimpinan Wali Kota Kediri pada 2024 dan masa kekosongan Kepala Daerah pada 2025 Bappeda harus melakukan penyusunan RPJMD pada masa transisi tersebut.
"Seharusnya pergantian Wali Kota dilakukan 2024, tapi karena ada Pilkada serentak pelantikan Wali Kota Kediri diperkirakan baru dilaksanakan Februari-April 2025. Jadi kami harus mengisi kekosongan perencanaan di tahun 2025 dengan Rencana Pembangunan Masa Transisi," ungkapnya.
Dengan keadaan tersebut dalam penyusunan RPJPD dan RPJMD, Chevy merasa perlu melakukan diskusi untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak termasuk pelaku E-kraf. Sejak 2015, Bappeda Kota Kediri telah memprediksi ke depan Kota Kediri akan berubah dari kota industri pengolahan menjadi kota ekonomi berbasis jasa.
"Dulu sudah kita prediksi di 2015. Perubahan itu semakin nyata saat pemerintah pusat mengumumkan pembangunan Bandara Dhoho dan jalan tol sebagai salah satu proyek strategis nasional. Jadi mau tidak mau kita harus berubah ke ekonomi berbasis jasa," imbuhnya.
Meskipun Pemkot Kediri tidak memungkiri jika memiliki kekhawatiran bernasib sama dengan kota - kota lain yang dilalui jalan tol. Dimana beberapa titik - titik transit berupa wisata kuliner menjadi sepi dikarenakan keberadaan jalan tol.
"Kita pasti punya kekhawatiran itu. Tapi kita tetap optimis karena sudah melakukan perubahan sejak 10 tahun lalu. Seperti pembangunan beberapa perguruan tinggi negeri, pondok pesantren yang membuat Kota Kediri menjadi kota tujuan bukan hanya kota transit," urai Chevy.
Diharapkan, dari kegiatan diskusi yang digelar, para pelaku E-kraf dapat memberikan masukan sesuai RPJPD 2025- 2040 untuk menuju Kota perdagangan dan jasa.
Sebagai pelaku E-Kraf di Kota Kediri, Arief Priyono menyarankan begitu penting pemerintah daerah melakukan pemetaan industri kreatif di Kota Kediri. Sehingga orang di luar Kota Kediri mengetahui apa yang diinginkan jika sedang berkunjung di Kota Kediri.
"Kita perlu melakukan pemetaan dan analisis mana saja karya - karya terbaik di Kota Kediri dari sisi industri kreatif dan kita perlu database yang mudah dijangkau semua orang," ujarnya. Jika sudah terkoneksi dengan database pemerintah dapat membuat kurikulum yang baik untuk melakukan edukasi membangun industri kreatif.
Setelah semua telah dilakukan, pemerintah dapat menyaring ide - ide dari pelaku industri kreatif. Dari ide - ide tersebut dapat di kurasi dan diwujudkan melalui festival industri kreatif tahunan.
"Kita lihat industri kreatif seperti di Kota Bandung, Jakarta, Yogyakarta bisa besar dan dikenal luas seperti sekarang karena ada peran pemerintah. Kami harap Pemkot Kediri juga melakukan hal sama jika ingin memperbanyak action di dunia industri kreatif," harapnya.
Reporter: Gatot Sunarko/rls | Editor : Lutfiyu Handi