
JERUSALEM (Lenteratoday) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin (1/4/2024) menyatakan bahwa ia akan memberlakukan larangan siaran di Israel untuk saluran berita Al Jazeera dengan menggunakan wewenang yang baru saja diberikan oleh para anggota parlemen.
Larangan ini merupakan eskalasi baru dalam konflik yang sedang berlangsung antara pemerintah Israel dan saluran yang berbasis di Qatar tersebut yang telah meningkat selama perang Israel dengan militan Hamas di Gaza.
"Saluran teroris Al Jazeera tidak akan lagi disiarkan dari Israel. Saya berniat untuk segera bertindak sesuai dengan undang-undang baru untuk menghentikan kegiatan saluran tersebut," kata Netanyahu di X, yang sebelumnya bernama Twitter.
Dalam beberapa jam setelah langkah pelarangan siaran tersebut, juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, mengatakan "jika benar, langkah seperti ini sangat memprihatinkan."
Komite untuk Melindungi Jurnalis yang berbasis di New York mengatakan bahwa undang-undang yang mendasari janji Netanyahu memberikan Israel kekuasaan untuk menutup setiap outlet asing yang beroperasi di dalam perbatasannya.
"Hal ini menambah sikap sensor diri (self-censorship) dan permusuhan terhadap pers, sebuah tren yang telah meningkat sejak perang Israel-Gaza dimulai," sebuah pernyataan dari komite tersebut menambahkan.
Pada bulan Januari, Israel mengklaim bahwa seorang staf jurnalis Al Jazeera dan seorang jurnalis lepas yang terbunuh dalam sebuah serangan udara di Gaza adalah "agen-agen teror".
Bulan berikutnya mereka mengatakan bahwa seorang jurnalis lain untuk saluran tersebut, yang terluka dalam serangan terpisah, adalah "wakil komandan kompi" Hamas.
Al Jazeera dengan keras membantah tuduhan Israel dan menuduh Israel secara sistematis menargetkan karyawan Al Jazeera di Jalur Gaza.
Kepala biro Al Jazeera di wilayah Palestina, Wael al-Dahdouh, juga terluka dalam serangan Israel pada bulan Desember yang menewaskan juru kamera jaringan tersebut.
Istri, dua anak dan seorang cucunya tewas dalam pemboman di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah pada bulan Oktober, sementara putra sulungnya yang merupakan staf jurnalis Al Jazeera terbunuh pada bulan Januari saat sebuah serangan menyasar sebuah mobil di Rafah.
Rancangan undang-undang yang menjadi pusat dari langkah Netanyahu untuk memblokir Al Jazeera disahkan pada hari Senin dengan 70 suara banding 10 suara dan memberikan wewenang kepada para menteri untuk melarang penyiaran konten dari saluran-saluran asing yang dianggap sebagai ancaman keamanan.
Undang-undang ini juga memungkinkan Israel untuk memerintahkan penutupan kantor-kantor cabang Al Jazeera.
Al Jazeera menyebut dirinya sebagai "saluran berita independen pertama di dunia Arab," dan mulai mengudara di Doha pada tahun 1996.
Qatar juga merupakan markas besar pemimpin Hamas Ismail Haniyeh.
Al Jazeera mengatakan bahwa mereka memiliki lebih dari 70 biro di seluruh dunia, dengan lebih dari 3.000 karyawan dari lebih dari 95 negara dan menjangkau lebih dari 430 juta rumah.
Ketegangan antara Israel dan Al Jazeera semakin meningkat sejak konflik meletus pada 7 Oktober lalu.
Perang Gaza yang paling berdarah yang pernah terjadi dimulai dengan serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengakibatkan sekitar 1.160 orang tewas di Israel, sebagian besar adalah warga sipil.
Kampanye pembalasan Israel, yang bertujuan untuk menghancurkan Hamas, telah menewaskan sedikitnya 32.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan Gaza.
Sumber: Channel News Asia
Penerjemah: Lambang (mk) / Co-Editor:Nei-Dya