
SYDNEY (Lenteratoday) - Korban tewas penusukan dengan pisau oleh seorang pria yang mengamuk di mal di Sydney, Australia bertambah jadi 6 orang. Salah satu korban luka termasuk seorang bayi berusia sembilan bulan.
Dilansir AFP, Sabtu (13/4/2024), polisi Australia mengatakan banyak orang ditikam oleh penyerang tak dikenal, yang berhasil dilacak dan ditembak mati oleh seorang polisi wanita, polisi itu dipuji sebagai pahlawan nasional.
Insiden itu terjadi di kompleks mal Westfield Bondi Junction yang luas dan dipadati ribuan pembeli pada Sabtu (13/4/2024) sore.
Komisaris Polisi New South Wales Karen Webb mengatakan lima perempuan dan satu laki-laki tewas. Seorang bayi sedang menjalani operasi darurat.
Polisi mengatakan penyerang tersebut adalah seorang pria berusia 40 tahun yang diketahui oleh penegak hukum, namun pelaku belum diidentifikasi secara resmi.
Webb menepis anggapan bahwa serangan itu mungkin merupakan tindakan terorisme dan mengatakan bahwa penyerang diyakini bertindak sendirian.
"Jika memang itu adalah orang yang kami yakini, maka itu bukan insiden terorisme," katanya.
Juru bicara Ambulans New South Wales mengatakan bahwa delapan pasien dibawa ke berbagai rumah sakit di Sydney, termasuk bayi yang dibawa ke Rumah Sakit Anak di kota tersebut.
Ucapan Duka Paus Fransiskus
Terpisah, Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya atas teror di mal Sydney tersebut.
"Paus Fransiskus sangat sedih mengetahui serangan kekerasan di Sydney dan menyampaikan solidaritas spiritualnya kepada semua yang terdampak tragedi tidak masuk akal ini," kata Kardinal Sekretaris Negara, Pietro Parolin, dalam pesan yang ditujukan kepada Uskup Agung Sydney, Anthony Colin Fisher, dilansir AFP, Sabtu (13/4/2024).
Diketahui, dalam sebuah rekaman CCTV menunjukkan pelaku yang mengenakan seragam liga rugbi Australia berjalan di sekitar pusat perbelanjaan dengan pisau besar. Orang-orang yang terluka tergeletak di lantai bersimbah darah.
Sementara itu para pembeli lain yang panik berebut keluar dan mencari tempat aman. Banyak dari mereka yang berlindung di toko-toko.
"Itu benar-benar menakutkan. Saya merasa sangat aman [hidup di Australia], saya sudah tinggal di sini selama enam tahun. Saya tidak merasa tidak aman, tapi sekarang saya merasa takut," ucap salah satu pegawai kafe di sana, Singh.
Sumber:afp,rtr/Editor: widyawati