
QUITO (Lenteratoday) – Kolombia terpaksa memotong ekspor listrik ke Ekuador, negara tetangganya, karena kekeringan yang dipicu oleh fenomena cuaca El Nino. Sebagai tanggapannya, Ekuador telah mengumumkan status darurat energi.
Presiden Ekuador, Daniel Noboa, mengakui kondisi kritis sektor energi di negaranya saat berbicara di Guayaquil pada hari Selasa (16/4/2024).
"Hari ini kami mengambil keputusan yang kuat - sekali lagi kami harus melakukannya - yaitu mengumumkan keadaan darurat di sektor energi negara ini," kata Noboa.
Kolombia dan Ekuador bergantung pada pembangkit listrik tenaga air untuk memenuhi kebutuhan energi penduduknya. Namun, kekeringan telah membuat permukaan air menurun, termasuk di waduk-waduk yang digunakan untuk pembangkit listrik.
Aliran air diperlukan untuk memutar turbin yang digunakan dalam pembangkit listrik tenaga air.
Namun, operator listrik Kolombia, XM, memperkirakan bahwa waduk-waduk di negara tersebut saat ini hanya memiliki 29,8 persen dari kapasitasnya. Hal ini berdampak pada distribusi air di beberapa daerah, termasuk Bogota, ibukota negara ini.
Menteri Pertambangan dan Energi Kolombia, Andres Camacho, memberikan keterangan kepada para wartawan pada hari Senin malam, menyatakan bahwa negara ini mengatasi kekeringan dengan mengurangi laju ekspor listrik.
"Sejak minggu Paskah, kami membatasi ekspor energi ke Ekuador. Saat ini, kami tidak melakukan ekspor listrik," kata Camacho.
Rekan Camacho di Ekuador, Menteri Andrea Arrobo Peña, juga menyampaikan pernyataan pada hari Senin (15/4/2024) untuk merespons "situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya" yang dihadapi negara dan wilayah tersebut.
Peña mengumumkan bahwa akan dilakukan pemadaman listrik dan penjatahan untuk membantu mengatasi kekurangan energi yang terjadi.
"Panjangnya musim kemarau, peningkatan suhu iklim, kurangnya pemeliharaan di seluruh infrastruktur sistem kelistrikan pada tahun-tahun sebelumnya dan adanya tingkat aliran air yang secara historis rendah telah menyebabkan semua pabrik pengelolaan yang tersedia harus diaktifkan," kata departemennya dalam sebuah pernyataan.
"Oleh karena itu, kami membuat seruan sipil kepada semua warga Ekuador untuk mendukung upaya mengurangi konsumsi energi selama minggu kritis ini, mengingat setiap tetes air dan setiap kilowatt yang tidak dikonsumsi sangat berarti saat kita menghadapi kenyataan ini bersama-sama."
Namun pada hari Selasa, Presiden Noboa mengumumkan bahwa ia telah meminta Menteri Arrobo Peña untuk mengundurkan diri. Ia juga menyinggung soal korupsi dan sabotase di sektor energi.
"Kami telah memulai sebuah investigasi untuk sabotase di beberapa area dan pembangkit listrik," tulisnya di media sosial.
Ia berjanji untuk menerapkan "hukum sepenuhnya" pada setiap pelaku kejahatan yang ditemukan selama investigasi.
"Masalah-masalah di sektor energi Ekuador dalam beberapa tahun terakhir ini bukan karena kurangnya rencana teknis, tetapi karena kurangnya eksekusi dan ketegasan dalam memerangi korupsi yang sudah mengakar," kata Noboa.
Camilo Prieto, seorang profesor perubahan iklim di Universitas Javeriana, Bogota, menyampaikan kepada Associated Press bahwa kekeringan tahun ini tidak seburuk kekeringan sebelumnya.
Namun, Prieto memperingatkan, konsumsi energi telah meningkat di negara-negara seperti Ekuador dan Kolombia, membuat penduduknya rentan terhadap pola cuaca ekstrem yang disebabkan oleh El Nino.
"Jika permintaan terus meningkat dan diversifikasi energi di negara-negara ini tidak dilakukan, maka mereka akan terus rentan," ujar Prieto.
Sumber: Al Jazeera
Penerjemah: Aria (mk) / Co-Editor: Nei-Dya