
SOLO (Lenteratoday) -Nama jalan biasanya identik dengan sebuah penghargaan atau mengenang terhadap seorang tokoh, tempat atau peristiwa. Begitu banyak nama jalan yang tersebar di Kota Solo yang menggunakan nama-nama tokoh pahlawan.
Sebut saja Jalan Slamet Riyadi yang berada di jantung Kota Solo. Tokoh Slamet Riyadi memang sudah banyak dikenal. Beliau merupakan perwira yang masih sangat muda, namun berkat keberaniannya, Slamet Riyadi sangat disegani oleh tentara Belanda dan sekutu. Pertempuran Serangan Umum 4 Hari di Solo menjadi saksi keberhasilan Slamet Riyadi memimpin pasukan melawan Belanda.
Ruas jalannya cukup panjang, membentang dari Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan hingga ke utara mengarah ke Jalan Margoyudan. Warga Solo yang sering melintas dari arah Balai Kota Surakarta dan mengambil jalur lurus ke arah Kantor Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/4 Surakarta, pasti akrab dengan ruas jalan ini. Ada yang paham nama jalannya, namun tak sedikit yang tak mengerti nama jalan yang dilintasinya.
Namun ada nama jalanlain, ialah Jalan Arifin. Jalan Arifin memiliki ciri ruas jalan yang cukup unik. Disebut unik, karena mulai dari arah selatan, lebar jalannya cukup lebar mengarah ke utara. Hingga sampai pertigaan SMPN 13 Solo, jalan semakin menyempit.
Kondisi Jalan Arifin yang semakin menyempit tersebut terus berlangsung hingga ke utara menuju Jalan Margoyudan.
Nama Arifin yang dipakai sebagai nama jalan, dibalik namanya terdapat kisah heroik yang pernah dilakukan oleh pemuda bernama Arifin ini.
Tak banyak yang tahu sosok Arifin yang namanya dijadikan sebagai nama jalan tersebut. Mengutip dari surakarta.go.id, kisah Arifin berkaitan dengan pendudukan tentara Jepang di Solo pada 1945.
Saat itu, tentara Kekaisaran Jepang memiliki kesatuan polisi militer bernama Kenpeitai atau Kempeitai. Usai Jepang kalah perang dari Amerika dan sekutunya, upaya perundingan pun dilakukan di Solo pada 12 Oktober 1945.
Perundingan itu terjadi atas inisiasi Ketua Komite Nasional Indonesia, Pimpinan Barisan Rakyat, dan Barisan Keamanan Rakyat (BKR), yang mengutus beberapa wakilnya ke Solo. Delegasi ini menemui Komandan Kempetai Surakarta, Kapten Sato.
Delegasi dari Indonesia ini meminta agar Jepang segera menyerahkan kekuasaannya. Dalam perundingan itu, Kempeitai setuju untuk menyerah dengan syarat penyerahan dilakukan di Tampir, Boyolali. Saat itu, Tampir, Boyolali, memang menjadi pertahanan Jepang.
Keinginan Jepang pun membuat Pimpinan Barisan Rakyat dan Badan Keamanan Rakyat tak puas dan tetap menginginkan penyerahan senjata dilakukan di Surakarta.
Barisan Rakyat dan Badan Keamanan Rakyat merupakan para pemuda pejuang yang revolusioner. Mereka memiliki sikap yang keras dalam pendiriannya.
Eks-Peta dan Heiho
Banyak anggota pasukannya yang berasal dari eks PETA dan Heiho, yakni dua kelompok atau prajurit militer yang dibentuk Jepang. Sikap Kempeitai pun membuat mereka marah.
Mereka akhirnya nekat menyerbu markas Kempeitai pada malam hari. Penyerbuan itu mengejutkan pihak Jepang yang kalang kabut meladeni pertempuran para pejuang Solo.
Pertempuran yang berlangsung semalaman itu membuat Jepang menyerah pada pagi harinya, 13 Oktober 1945. Dalam pertempuran sengit tersebut, seorang pemuda bernama Arifin gugur dan beberapa lainnya luka-luka.
Pengorbanan Arifin yang gigih bertempur di depan markas Kempeitai pun membuahkan hasil. Oleh teman-teman Arifin, tentara Jepang yang kalah dalam pertempuran tersebut dilucuti senjatanya.
Mereka juga digiring masuk ke penjara Surakarta. Tak lama berselang, pasukan Jepang yang kalah pun dibawa ke Tampir, Boyolali, untuk menghindari aksi balas dendam rakyat Solo. Penyerahan pasukan Jepang yang menyerah pada 13 Oktober 1945 itu menandai berakhirnya kekuasaan Jepang di kawasan Solo.
Kemenangan Solo atas Jepang tentu karena perjuangan para pemuda Solo, termasuk sosok Arifin yang pemberani. Hal ini lah yang kemudian membuat namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Solo, yakni Jalan Arifin (*)
Editor: Arifin BH/berbagai sumber