
BEIRUT (Lenteratoday) – Menurut tinjauan yang dirilis pada hari Senin (22/4/2024), Israel belum menghadirkan bukti untuk mendukung tuduhannya bahwa ratusan staf Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) merupakan anggota kelompok teroris.
PBB telah menunjuk mantan Menteri Luar Negeri Prancis, Catherine Colonna, untuk memimpin tinjauan UNRWA terhadap kemampuan badan tersebut dalam menjaga netralitas dan menanggapi tuduhan pelanggaran pada bulan Februari. Langkah ini diambil setelah Israel menuduh 12 staf UNRWA terlibat dalam serangan pada tanggal 7 Oktober yang memicu perang di Gaza.
Penyelidikan yang sedang berlangsung oleh penyelidik internal PBB menyoroti tuduhan Israel terhadap 12 staf UNRWA. PBB menyatakan pekan lalu bahwa Kantor Layanan Pengawasan Internal PBB (OIOS) telah melakukan sejumlah pertemuan dan kerja sama dengan pihak berwenang Israel terkait masalah ini.
UNRWA bertanggung jawab atas menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan bagi jutaan warga Palestina di wilayah Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Sebuah kajian juga menegaskan bahwa UNRWA secara rutin membagikan daftar stafnya setiap tahun kepada Otoritas Palestina, Israel, Yordania, Lebanon, dan Suriah.
Menurut kajian, sejak tahun 2011 Israel tidak pernah menyampaikan kekhawatirannya kepada UNRWA terkait daftar staf mereka.
Namun, pada Maret 2024, Israel secara publik menyatakan bahwa sejumlah besar karyawan UNRWA adalah anggota organisasi teroris, meskipun belum menyediakan bukti pendukung atas klaim tersebut.
Pada bulan yang sama, Israel meningkatkan tuduhannya dengan menyebut lebih dari 450 staf UNRWA sebagai anggota militer dari kelompok-kelompok teroris Gaza, sementara UNRWA sendiri mempekerjakan 32.000 orang di wilayah operasinya, dengan 13.000 di antaranya berada di Gaza.
Israel menuduh lebih dari 2.135 pekerja UNRWA sebagai anggota Hamas atau Jihad Islam Palestina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menyatakan bahwa tinjauan Colonna terhadap UNRWA dianggap tidak memadai dan hanya merupakan "upaya untuk menghindari masalah dan tidak mengatasinya secara langsung."
Marmorstein menambahkan bahwa laporan Colonna dianggap mengabaikan tingkat keparahan masalah dan menawarkan solusi kosmetik yang tidak mencakup masalah infiltrasi Hamas terhadap UNRWA. Israel mengajukan seruan kepada para donatur untuk tidak memberikan dana kepada UNRWA di Gaza, tetapi mendanai organisasi kemanusiaan lainnya di daerah tersebut sebagai gantinya.
Colonna, dalam pertemuan dengan para wartawan, mengungkapkan hubungan yang baik antara dirinya dan Israel selama peninjauan tersebut, meskipun tidak terkejut dengan tanggapan Israel. Dia menekankan bahwa telah mendorong Israel untuk menerima dengan terbuka setiap rekomendasi yang diberikan, percaya bahwa implementasinya akan menghasilkan manfaat.
Juliette Touma, direktur komunikasi UNRWA, dalam tanggapannya terhadap komentar Marmorstein, menekankan pentingnya bagi negara-negara anggota yang memiliki informasi relevan untuk berbagi dengan penyelidikan yang sedang berlangsung, bukan melalui media.
Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa Guterres telah menerima rekomendasi tersebut dan mendorong semua negara untuk aktif mendukung UNRWA, mengingat pentingnya badan tersebut sebagai "jalur kehidupan bagi para pengungsi Palestina di wilayah tersebut."
Sumber: Reuters
Penerjemah: Aria (mk)/Co-Editor: Nei-Dya