06 April 2025

Get In Touch

PBB Warning 'Neraka Bocor' di Negara Tetangga, Bagaimana Indonesia ?

Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Filipina.(foto/ist)
Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Filipina.(foto/ist)

JAKARTA (Lenteratoday) - Negara tetangga Indonesia kini sedang mengalami 'Neraka bocor' atau cuaca panas yang ekstrem, akibat meningkatnya suhu di bumi. Lalu, bagaimana dengan di Indonesia ?

Kondisi ini terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari India, Bangladesh, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Vietnam.

Seperti di India, cuaca mencapai 44 derajat Celsius di beberapa lokasi. Pemilu yang sedang dilaksanakan pun, harus menyaksikan jutaan orang memilih dengan mengantri di tengah suhu panas menyengat.

Kemudian di Bangladesh, penutupan sekolah dilakukan karena suhu ekstrem. Badan meteorologi setempat mengatakan gelombang panas akan terus berlanjut setidaknya selama 3 hari ke depan.

Lalu di Filipina, penangguhan kelas tatap muka sementara juga dilakukan di semua sekolah negeri selama 2 hari kedepan, setelah hari panas memecahkan rekor di ibu kota Manila.

Bahkan di Thailand, mencatat 30 orang tewas dalam setahun terakhir karena cuaca panas. Bahkan departemen meteorologi memperingatkan adanya "kondisi buruk" setelah suhu di provinsi utara melebihi 44,1 derajat Celsius.

Sementara itu di Kamboja, Kementerian Air dan Meteorologi memperingatkan bahwa suhu bisa mencapai 43 derajat Celcius di beberapa wilayah di negara itu pada minggu depan. Sementara Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat untuk memantau kesehatan mereka selama cuaca panas terkait perubahan iklim.

Selanjutnya di Myanmar, negara yang kini masih dilanda perang saudara karena kudeta junta militer, suhu mencapai 3-4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata April. Kemarin peramal cuaca nasional memperkirakan, suhu di pusat kota Mandalay bisa meningkat hingga 43 derajat Celsius.

Demikian juga suhu di Vietnam diramal akan sangat tinggi beberapa hari ke depan, dengan perkiraan suhu mencapai 41 derajat Celsius di wilayah utara. Peramal cuaca di sana mengatakan cuaca akan tetap sangat panas hingga akhir April, dan kondisi lebih dingin diperkirakan terjadi pada bulan Mei.

Peringatan cuaca panas ekstrem sudah sebenarnya sudah disampaikan PBB, ini terkait dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang terus menghantui wilayah Asia.

Hal ini terungkap dari laporan lembaga PBB, Badan Meteorologi Dunia (WMO) State of the Cimate in Asia 2023, Rabu lalu. Laporan itu menganalisa bencana pada tahun 2023, yang menyoroti bagaimana laju percepatan indikator perubahan iklim utama seperti suhu permukaan, pencairan gletser, dan kenaikan permukaan air laut, yang akan berdampak besar pada masyarakat, ekonomi, dan ekosistem di kawasan.

Asia disebut masih menjadi wilayah yang paling banyak dilanda masalah alam di dunia, akibat cuaca dan iklim. Benua ini mengalami pemanasan lebih cepat dari rata-rata global, dengan tren meningkat hampir dua kali lipat sejak periode 1961-1990.

"Kesimpulan dari laporan ini sangat menyadarkan kita, bahwa banyak negara di kawasan ini mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat pada tahun 2023. Bersamaan dengan kondisi ekstrim, mulai dari kekeringan dan gelombang panas hingga banjir dan badai," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam keterangan yang diterima wartawan.

"Perubahan iklim frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa tersebut, yang berdampak besar pada masyarakat, ekonomi dan yang terpenting, kehidupan manusia dan lingkungan tempat kita tinggal," katanya lagi.

Bagaimana dengan di Indonesia, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengamati cuaca ekstrem di tetangga-tetangga RI. Meski begitu, dalam keterangan Sabtu(27/4/2024), BMKG menjelaskan kondisi ini tidak terjadi di negara kita.

"Selain potensi hujan, awal pekan ini terpantau gelombang panas (heat wave) melanda berbagai negara Asia dan Asia Tenggara, seperti Thailand yang berada dekat dengan Indonesia dengan suhu maksimum mencapai 52 derajat Celcius," tulis laporan BMKG.

Di Indonesia suhu udara maksimum diatas 36.5 derajat Celcius, yang tercatat terjadi di beberapa wilayah.

"Yaitu pada tanggal 21 April di Medan, Sumatra utara mencapai suhu maksimum 37 derajat Celcius dan di Saumlaki, Maluku mencapai suhu maksimum sebesar 37.8 derajat Celcius serta pada tanggal 23 April di Palu, Sulawesi Tenggah mencapai 36.8 derajat Celcius," tambahnya.

Pada awal pekan ini, BMKG sendiri mengidentifikasi masih adanya potensi peningkatan curah hujan secara signifikan Indonesia. Yakni di sebagian besar Sumatera, Jawa bagian barat dan tengah, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku dan Sebagian besar Papua.

"Potensi hujan signifikan terjadi karena kontribusi dari aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial. Serta kondisi suhu muka laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah di Indonesia," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik, Andri Ramdhani menerangkan bahwa pada bulan April ini merupakan periode peralihan musim, dari musim hujan ke musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia.

Sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es.

"Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari, dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari," terangnya.

Kondisi ini terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar, dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan tambahnya.

Sumber:Cnbc/Editor:Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.