06 April 2025

Get In Touch

Murka Usai Taiwan Lantik Presiden, Cina Luncurkan Jet Tempur Berudal Aktif

Beijing mengirimkan puluhan jet tempur yang membawa rudal aktif, dan melakukan serangan tiruan, bersama dengan kapal perang, terhadap sasaran militer bernilai tinggi di Taiwan.
Beijing mengirimkan puluhan jet tempur yang membawa rudal aktif, dan melakukan serangan tiruan, bersama dengan kapal perang, terhadap sasaran militer bernilai tinggi di Taiwan.

JAKARTA (Lenteratoday) - Beberapa hari setelah pelantikan Presiden Taiwan yang baru William Lai Ching-te, Cina yang marah melancarkan latihan militer di sekitar Taiwan. Media pemerintah Cina mengatakan Beijing mengirimkan puluhan jet tempur yang membawa rudal aktif, dan melakukan serangan tiruan, bersama dengan kapal perang, terhadap sasaran militer bernilai tinggi.

Reuters pada Kamis (23/5/2024) menuliskan, ini merupakan respons terhadap 'tindakan separatis' dengan mengirimkan pesawat tempur bersenjata lengkap dan melakukan serangan tiruan. Latihan itu dilakukan di selat Taiwan dan sekitar kepulauan yang dikuasai Taiwan sebelah pantai Cina.

China yang memandang Taiwan merupakan di bawah kepemimpinannya secara demokratis mengecam pidato pelantikan Lai, pada Senin lalu. Lai meminta agar Cina menghentikan ancamannya dan mengatakan kedua sisi selat itu tidak saling tunduk.

Hal itu juga direspons Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi, yang menyebut Lai 'memalukan'.

Lai menyebut telah berulang kali meminta untuk melakukan pembicaraan dengan Cina, namun ia ditolak. Sehingga ia mengatakan hanya rakyat Taiwan yang bisa menentukan masa depan mereka dan menolak klaim kedaulatan dari China.

Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA/People's Liberation Army) mengatakan pihaknya telah memulai latihan militer gabungan yang melibatkan angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara dan kekuatan roket wilayah Taiwan pada pukul 7.45 pagi waktu setempat.

Latihan tersebut dilakukan di Selat Taiwan, utara, selatan dan timur Taiwan, serta daerah sekitar pulau Kinmen, Matsu, Wuqiu dan Dongyin yang dikuasai Taiwan, kata komando itu dalam sebuah pernyataan.

Latihan yang diberi nama "Joint Sword - 2024A" itu dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Namun, tidak seperti latihan "Joint Sword" serupa pada bulan April tahun lalu, latihan ini diberi label "A", yang membuka pintu bagi kemungkinan tindak lanjut.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengecam latihan tersebut, dengan mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan pasukan ke daerah sekitar pulau tersebut, bahwa pertahanan udara dan pasukan rudal berbasis daratnya sedang melacak sasaran, dan bahwa Taiwan yakin dapat melindungi wilayahnya.

"Peluncuran latihan militer pada kesempatan ini tidak hanya tidak berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan, tetapi juga menyoroti mentalitas militeristik (Cina)," kata kementerian tersebut.

Kantor kepresidenan Taiwan menyatakan penyesalannya atas tindakan Cina yang mengancam kebebasan demokrasi serta perdamaian dan stabilitas regional dengan "provokasi militer sepihak", namun mengatakan masyarakat dapat yakin bahwa Taiwan dapat menjamin keamanannya.

Stasiun televisi pemerintah Cina, CCTV, mengatakan pidato pelantikan Lai "sangat berbahaya".

Pidato Lai disebut sebagai pengakuan atas keinginan Taiwan untuk merdeka dan merusak perdamaian dan stabilitas di selat tersebut. Bahkan media itu menyatakan masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh 1,4 miliar penduduk Cina, bukan oleh 23 juta penduduk Taiwan, tambahnya.

Sumber:reuters,ist/Editor:widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.