
JAKARTA (Lenteratoday)- Perdebatan panas terjadi antara Joe Biden dan Donald Trump dalam debat calon presiden Amerika Serikat (AS). Beberapa hal dibahas dalam debat tersebut termasuk soal Palestina.
Dilansir AFP, Sabtu (29/6/2024), debat capres AS digelar di kantor pusat CNN yang berada di Atlanta. Debat dimulai pukul 21.00 waktu setempat atau pukul 09.00 waktu Indonesia bagian barat.
Trump dan Biden telah menyetujui sejumlah aturan dalam debat capres AS. Salah satunya tidak ada penonton di studio hingga mikrofon akan dimatikan ketika waktu bicara seorang kandidat selesai.
Debat bertemakan kebijakan luar negeri, imigran, aborsi, pajak, dan ekonomi.
Soal ekonomi, Biden mendapat kesempatan pertama berbicara. Biden mengatakan dia mewarisi kehancuran ekonomi dari rezim sebelumnya. Presiden AS sebelum Biden tentu saja Donald Trump.
"Apa yang harus dilakukan saat ini adalah berusaha untuk mengembalikan semuanya kembali seperti semula," kata Biden.
Trump menilai AS saat ini tidak lagi terlihat sebagai negara adidaya. AS kini sudah turun seperti negara berkembang.
"Kami tidak lagi dihormati sebagai sebuah negara, mereka tidak menghormati kepemimpinan kami," kata Trump tentang kepresidenan Biden.
"Kami seperti negara dunia ketiga."
"Di seluruh dunia, kita tidak lagi dihormati sebagai sebuah negara. Mereka tidak menghormati kepemimpinan kita. Mereka tidak lagi menghormati Amerika Serikat."
Selanjutnya, moderator Dana Bash dari CNN bertanya kepada Trump, "Apakah Anda mendukung pembentukan negara Palestina merdeka untuk mendukung perdamaian di kawasan ini?"
"Saya harus melihatnya," jawab Trump, sebelum beralih ke pembicaraan tentang kesepakatan perdagangan dengan negara-negara Eropa.
Sebagaimana diketahui, Jalur Gaza di Palestina saat ini menjadi sorotan dunia karena agresi Israel. Israel adalah Zionis yang didukung oleh AS.
Trump belum merinci bagaimana pendekatannya terhadap perang jika terpilih kembali dan bagaimana kebijakannya akan berbeda dari kebijakan Biden. Dia hanya memberikan komentar yang tidak jelas sambil mengkritik Biden dan berargumentasi bahwa serangan 7 Oktober tidak akan terjadi jika dia menjadi presiden.
Trump juga melontarkan beberapa komentar publik yang kritis terhadap Netanyahu. Dia mengkritik perdana menteri dan badan intelijen Israel karena tidak siap menghadapi serangan itu. Dalam sebuah wawancara pada bulan April, ia mengatakan bahwa Israel perlu "menyelesaikan apa yang mereka mulai" dan "menyelesaikannya dengan cepat," sambil terus berargumentasi bahwa Israel "kalah dalam perang humas" karena visual yang keluar dari Gaza.
Isu perang Ukraina versus Rusia juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam debat calon presiden Amerika Serikat (AS). Donald Trump mengkritik sikap Joe Biden yang dinilai sebagai pemimpin lemah dalam merespons persoalan tersebut.
"Ini adalah perang yang seharusnya tidak pernah dimulai jika kita punya pemimpin dalam perang ini," kata Trump.
Trump kemudian mengkritik kebijakan ekonomi Biden di perang Rusia-Ukraina. Dia menyoroti gelontoran dana besar Amerika kepada Ukraina.
"Dia sekarang memberi $200 miliar atau lebih kepada Ukraina, dia memberi $200 miliar. Itu uang yang sangat besar. Saya rasa tidak akan pernah ada pernah seperti itu," kata Trump.
Biden Sebut Trump Penjahat
Joe Biden menyindir rivalnya Donald Trump dalam panggung debat capres Amerika Serikat (AS). Biden menyebut Trump sebagai 'penjahat' di panggung debat capres.
"Satu-satunya orang yang berada di panggung ini merupakan penjahat yang dihukum adalah pria yang sedang saya lihat sekarang," ujar Biden kepada Trump.
Dilansir AFP, BBC dan CNN, Trump menjadi mantan Presiden AS pertama yang dinyatakan bersalah dalam kasus pidana. Dalam sidang yang digelar di Pengadilan New York, Kamis (30/5/2024), juri menjawab 'Ya' saat ditanya apakah mereka memutuskan Trump bersalah atas 34 dakwaan.
Trump dinyatakan bersalah atas masing-masing dari 34 dakwaan memalsukan catatan bisnis untuk menyembunyikan pembayaran yang ditujukan membungkam bintang porno Stormy Daniels. Trump, yang hampir pasti akan mengajukan banding, tidak langsung bereaksi atas pernyataan dewan juri.
Sunber:afp,rtr/Editor: widyawati