Kementerian Unifikasi Korsel Rilis Laporan: Kim Jong Un Eksekusi Warga Gegara Dengarkan K-Pop

JAKARTA (Lenteratoday) - Korea Utara secara terbuka telah mengeksekusi seorang pria berusia 22 tahun karena mendengarkan dan membagikan K-pop. Menurut Korea Selatan, ini adalah bagian dari tindakan keras Pyongyang terhadap informasi dan budaya luar.
Mengutip New York Post, Sabtu (29/6/2024) rincian kasus ini dirilis dalam Laporan Hak Asasi Manusia Korea Utara tahun 2024 oleh kementerian unifikasi Korea Selatan pada hari Kamis (27/6/2024). Laporan itu mencakup kesaksian dari 649 pembelot Korea Utara.
Menurut salah satu kesaksian dari sumber yang tidak disebutkan namanya, pemuda asal provinsi Hwanghae Selatan itu dieksekusi di depan umum pada tahun 2022 karena mendengarkan 70 lagu Korea Selatan, menonton tiga film, dan mendistribusikannya.
Larangan terhadap K-pop diterapkan di bawah kepemimpinan mantan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, untuk melindungi warga negaranya dari "pengaruh jahat" budaya Barat.
Ketentuan ini semakin diperketat pada masa pemerintahan putra Jong Il, Kim Jong Un, yang mengadopsi undang-undang baru untuk Korea Utara pada tahun 2020, yang melarang "ideologi dan budaya reaksioner."
Korea Utara menolak kritik terhadap pelanggaran berat hak asasi manusia yang dilakukan pemerintah, dan menyebutnya sebagai bagian dari konspirasi untuk menggulingkan kepemimpinan.
Laporan tersebut juga merinci upaya ekstensif yang dilakukan otoritas Korea Utara untuk mengendalikan arus informasi luar, dengan fokus khusus pada generasi muda.
Menurut Radio Free Asia yang didanai pemerintah AS, rezim tersebut menindak fesyen dan gaya rambut "kapitalis", dengan menargetkan skinny jeans dan T-shirt yang bertuliskan kata-kata asing, serta rambut yang diwarnai atau panjang.
Contoh lain dari tindakan keras ini termasuk hukuman untuk praktik "reaksioner" seperti pengantin wanita mengenakan gaun putih, pengantin pria menggendong pengantin wanita, mengenakan kacamata hitam, atau meminum alkohol dari gelas anggur. Itu semua dianggap sebagai kebiasaan Korea Selatan.
Laporan tersebut juga mengklaim, ponsel warga Korea Utara juga sering diperiksa untuk mengetahui ejaan, ekspresi, dan istilah slang nama kontak yang dianggap memiliki pengaruh Korea Selatan.
Sumber:New York Post,ist/ Editor: widyawati