Absennya Kader Internal di Pilkada Kota Malang, Pengamat Politik: Indikasi Kegagalan Kaderisasi

MALANG (Lenteratoday) - Absennya kader asli dari partai politik (parpol) dalam bursa calon Wali Kota Malang, menjadi sorotan pengamat politik di Malang, Dr. Nuruddin Hady, SH. MH yang menilai fenomena ini sebagai indikasi dari kegagalan parpol dalam melaksanakan kaderisasi yang efektif dan produktif.
Dosen Universitas Negeri Malang (UM) ini, memulai analisisnya dengan mencermati dinamika politik menjelang penetapan pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang. Ia menyoroti ketiga calon Wali Kota yang ada saat ini, Mochammad Anton (Abah Anton), Wahyu Hidayat, dan Heri Cahyono (Sam HC) bukanlah kader asli dari partai yang mengusung mereka.
"Abah Anton kan bukan kader PKB, Pak Wahyu juga bukan kader Gerindra dan malah produk birokrat, Sam HC apalagi bukan kader PDIP. Nah saya melihat ini sebenarnya adalah salah satu gagalnya partai, untuk melakukan proses kaderisasi, pertama itu," ujar Hady dikonfirmasi melalui sambungan selular, Kamis(5/9/2024).
Idealnya, lanjut Hady partai politik seharusnya mengusung calon dari kader-kader yang telah lama berkarir di partai tersebut. Kader yang dimaksud, yakni mereka yang telah memiliki jaringan politik yang solid dan berpengalaman dalam struktur partai.
"Tetapi, yang terjadi ini kan tidak. PDIP misalnya, dengan tiba-tiba mengusung Sam HC dengan pasangannya (Ganis Rumpoko) yang memang kader PDIP, tapi kan bukan dari Kota Malang," tambahnya.
Menurut Hady, masalah elektabilitas merupakan salah satu penyebab utama dari fenomena gagalnya pengkaderan ini. Partai-partai politik saat ini, sambungnya nampak lebih fokus pada hasil survei yang menunjukkan tingkat elektabilitas calon di mata publik.
Ia menjelaskan partai politik seringkali memilih tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi, meskipun mereka bukan kader internal. Hal ini menyebabkan kader yang elektabilitasnya lebih rendah, sering kali tidak mendapatkan kesempatan untuk maju.
"Namanya kan kontestasi politik, ya mereka harus berani mengusung kadernya sendiri untuk dikontestasikan dan dilawankan dengan parpol lain. Sehingga (saat ini) parpol di Kota Malang khususnya, terkesan hanya dijadikan sebagai perahu saja. Sebagai kendaraan politik saja," jelasnya.
Lebih jauh, Hady juga menyoroti kegagalan ini bukan hanya merupakan masalah lokal di Kota Malang, melainkan juga merupakan fenomena yang dapat ditemukan di tingkat pusat. Ia mencontohkan kasus Anies Baswedan yang diusung oleh partai-partai seperti PKS dan Nasdem pada Pilpres, meskipun Anies bukan kader partai tersebut.
"Harusnya, parpol itu ya mendorong kadernya untuk maju. Masalah menang atau kalah, itu kan persoalan biasa," tegasnya.
Hady juga mengingatkan kegagalan dalam kaderisasi ini, dapat berdampak pada lemahnya ikatan ideologis partai. Menurutnya, dengan mengusung calon yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang ideologi partai, berpotensi untuk mengurangi konsistensi dalam memperjuangkan visi misi partai pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais