04 April 2025

Get In Touch

Objek Wisata di Australia Terancam Risiko Perubahan Iklim

Ilustrasi: Pariwisata di Australia (Ant)
Ilustrasi: Pariwisata di Australia (Ant)

SYDNEY (Lenteratoday) - Hingga 68 persen objek wisata di Australia akan menghadapi risiko besar akibat perubahan iklim, menurut sebuah laporan pada Senin (9/9/2024).

Index Risiko Iklim pertama untuk industri pariwisata Australia, yang diterbitkan oleh Zurich Financial Services Australia dan perusahaan konsultan ekonomi Mandala Partners, menemukan bahwa separuh dari aset pariwisata Australia, termasuk taman-taman nasional, museum, bandara, dan pantai, saat ini rentan terhadap bahaya iklim seperti kebakaran hutan, badai, dan kekeringan.

Proporsi tempat-tempat wisata yang rentan akan meningkat menjadi antara 55 hingga 68 persen seiring dengan pemanasan global yang terus berlanjut, kata laporan itu.

Di bawah skenario pemanasan global ekstrem dengan kenaikan suhu rata-rata 3 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, indeks tersebut memperkirakan bahwa 80 persen objek wisata di Australia akan mengalami peningkatan risiko.

"Analisis ini, yang dilakukan melalui kemitraan dengan Mandala, berfungsi untuk menyoroti pentingnya meningkatkan ketahanan di seluruh aset pariwisata kami, baik untuk memastikan keberlanjutan dan umur panjang tempat-tempat ini serta guna meminimalkan dampak ekonomi hilir terhadap lapangan kerja, pembentukan bisnis, konsumsi, dan investasi, terutama di wilayah regional," ujar Justin Delaney, CEO Zurich Australia dan Selandia Baru, dalam sebuah rilis media.

Menurut laporan tersebut, seluruh 31 bandara tersibuk di Australia termasuk dalam dua kategori risiko iklim tertinggi, dengan 94 persen di antaranya berada dalam kategori risiko yang paling ekstrem, karena lokasinya yang rentan terpapar badai dan angin kencang.

Sejumlah daerah lain yang dianggap berisiko tinggi termasuk Pantai Bondi yang ikonis di Sydney dan Great Ocean Road di Victoria.

Di Negara Bagian Queensland, daerah timur laut Australia, 79 persen objek wisata menghadapi risiko iklim yang lebih tinggi dan 52 persennya termasuk dalam kategori risiko tertinggi.

Perth catat rekor

Sebelumnya diberiatakan, suhu di Perth mencapai 42,3 derajat Celsius, menjadikan jumlah hari di atas 40 derajat Celsius pada bulan ini menjadi tujuh hari. Hal ini melampaui rekor sebelumnya yang mencapai empat hari, yang ditetapkan pada Februari 2016.

Sementara itu, suhu di Geraldton melampaui prediksi dan mencapai suhu tertinggi 47,7 derajat Celsius pada sore hari.

Negara bagian ini telah mengalami gelombang panas yang parah selama tiga pekan, dengan Biro Meteorologi (BoM) mengeluarkan peringatan gelombang panas ekstrem pada Jumat dan memperpanjangnya hingga hari Rabu. Bagian barat dan utara Australia Barat juga terkena dampak terparah.

Cuaca panas telah memicu peringatan kebakaran hutan di sepanjang pantai barat daya Australia. Sekolah dasar Cervantes dan sekolah menengah Distrik Jurien Bay juga terpaksa ditutup pada Senin, lantaran meningkatnya risiko kebakaran hutan.

Namun menurut Departemen Pemadam Kebakaran dan Layanan Darurat, tidak ada kebakaran hutan besar yang terjadi hingga Senin pagi.

Pola cuaca El Nino, perubahan iklim, dan dipol Samudra Hindia (IOD), semuanya berperan dalam gelombang panas di Australia.

Cuaca yang memecahkan rekor dari panas terik hingga curah hujan ekstrem di seluruh Australia disebabkan oleh 'perfect strom', menurut para ilmuwan iklim.

Sementara itu, suhu tertinggi yang pernah tercatat di Australia pada bulan Februari adalah 50,5 derajat Celsius di Mardie pada 19 Februari 1998.

Lingard mengatakan suhu interior negara bagian itu akan melebihi 50 derajat Celsius, namun data tersebut dibatasi oleh lokasi stasiun pencatatan.

Peringatan badai telah dikeluarkan di wilayah Ord River dengan prakiraan cuaca buruk di beberapa bagian Kimberley (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.