Pakar Adminsitrasi Negara UB Sebut Swing Voters Rentan Terjebak Janji Instan di Pilkada Kota Malang

MALANG (Lenteratoday) - Pakar Administrasi Negara sekaligus Ketua Tim Peneliti Perilaku Pemilih di Era Digital dari Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin menyoroti potensi risiko yang dihadapi swing voters dalam Pilkada 2024 Kota Malang.
Menurut Andhyka, swing voters yang seringkali menunggu hingga menit terakhir untuk menentukan pilihan mereka, cenderung lebih rentan terhadap janji instan dan iming-iming dari calon.
"Nah untuk swing voters, kalau edukasi politik di Kota Malang ini berjalan dengan baik. Maka mereka akan masuk ke dalam pemilih rasional. Karena swing voters ini kebanyakan menunggu sampai akhir, siapa calon yang dilihat paling berpotensi," ujar Andhyka, dalam acara Bincang dan Obrolan Santai (Bonsai) UB, Kamis(12/9/2024).
Ia menambahkan pada momen-momen mendekati Pilkada, calon sering kali menawarkan berbagai janji untuk menarik perhatian swing voters. Meskipun terkadang janji-janji tersebut, tidak selalu mencerminkan rencana yang realistis.
"Tapi, ada juga swing voters yang tidak terpengaruh pragmatisme. Jadi mereka ini kadang menunggu seberapa rasionalkah janji janji paslon untuk direalisasikan," tambahnya.
Menurut Andhyka untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang lebih besar dalam edukasi politik bagi masyarakat. Menurut Andhyka, jika proses edukasi politik dilakukan secara masif dan efektif, maka proporsi pemilih rasional bisa meningkat signifikan.
"Saat ini, proporsi pemilih rasional dan pragmatis masih seimbang sekitar 50:50. Namun, dengan adanya edukasi yang tepat, pemilih rasional dapat meningkat menjadi 60 persen,” katanya.
“Ini akan membuat politik uang semakin tidak efektif, dan calon-calon yang menawarkan program serta visi yang jelas akan lebih diperhitungkan," lanjutnya.
Lebih jauh Andhyka juga mengingatkan parpol seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan politik lima tahunan, tetapi juga sebagai wadah edukasi dan aspirasi masyarakat.
“Partai politik harus berperan dalam mendidik masyarakat dan menyeleksi calon yang berkualitas. Jika parpol menjalankan fungsi ini dengan baik, maka akan menghasilkan pemimpin yang benar-benar mampu memajukan daerah dan negara," tukasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais