04 April 2025

Get In Touch

Keluarga Korban Meninggal Dunia Pengeroyokan Oknum PSHT Minta Keadilan

Nanang (42) Ayah Korban meninggal dunia usai dikeroyok oknum anggota PSHT di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. (dok. istimewa)
Nanang (42) Ayah Korban meninggal dunia usai dikeroyok oknum anggota PSHT di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. (dok. istimewa)

MALANG (Lenteratoday) - Keluarga ASA (17), korban pengeroyokan yang mengakibatkan kematian, mendesak pihak kepolisian agar kasus ini diusut secara menyeluruh dan transparan. Ayah ASA, Anang (42) mengatakan anaknya meninggal karena mengalami luka parah di bagian kepala, usai dikeroyok oleh oknum anggota PSHT di wilayah Kecamatan Karangploso, Jumat (6/9/2024) lalu.

"Sejak saya ketemu anak saya, mulai dirujuk di RS Prasetya Husada sampai akhirnya saya rujuk ke RST Soepraoen, itu kondisinya koma, sampai hari ini dinyatakan meninggal dunia, gak bisa melihat dan gak bergerak sama sekali," ujar Nanang, Kamis (12/9/2024).

Menurut Nanang, hasil CT scan menunjukkan jaringan otak ASA telah putus akibat benturan benda keras. "Dari hasil CT scan, saya dikasih tahu dokter itu jaringan otak di kepala anak saya sudah putus. Otaknya kena benturan benda keras, kalau hanya (dihajar) dengan tangan saja kemungkinan masih memar," jelas Nanang.

Hingga kini, Nanang menegaskan, barang bukti berupa benda keras yang diduga turut digunakan dalam pengeroyokan ASA belum ditemukan. Ia pun meminta agar pihak kepolisian dapat mengungkap kebenaran melalui penyelidikan dari terduga pelaku.

"Kalau dari kepolisian, yang diduga pelaku ada 9 orang. (dari PSHT) belum ada klarifikasi juga, sejak anak saya dirawat di rumah sakit, dari PSHT atau rayonnya belum ada ke sini," paparnya.

Diakhir, Nanang kembali mengharap agar pelaku dapat dihukum seberat-beratnya dan proses hukum dilakukan secara adil serta transparan. Ia juga meminta pihak kepolisian untuk segera mengklarifikasi seluruh pihak yang terlibat tanpa adanya penyembunyian informasi.

Sebelumnya diketahui, Kapolsek Karangploso, AKP Moch Shocib, menjelaskan bahwa pengeroyokan bermula dari unggahan ASA yang mengenakan pakaian PSHT.

Dari unggahan tersebut, salah satu terduga pelaku merasa tersinggung dan mengajak korban bertemu untuk latihan, yang akhirnya berujung pada pengeroyokan.
"Kalau satu sekolah saya gak tahu, tapi memang ada (terduga pelaku) yang kenal sama korban," paparnya. (*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.