04 April 2025

Get In Touch

Aliansi Relawan Surabaya Berkomitmen Menangkan Kotak Kosong di Pilwali 2024

Ratusan warga Surabaya dari berbagai aliansi melakukan aksi menangkan kotak kosong di depan Gedung DPRD Surabaya. (Amanah/Lenteratoday)
Ratusan warga Surabaya dari berbagai aliansi melakukan aksi menangkan kotak kosong di depan Gedung DPRD Surabaya. (Amanah/Lenteratoday)

SURABAYA (Lenteratoday) - Ratusan masyarakat dari berbagai aliansi melakukan aksi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (17/9/2024). Mereka menyuarakan Gerakan Coblos Kotak Kosong dalam Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Surabaya pada 27 November 2024 mendatang.

Selain itu, gerakan ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap kepemimpinan Eri Cahyadi-Armuji yang merupakan calon incumbent atau petahan dalam Pilwali 2024.

Perwakilan Aliansi Relawan Surabaya Maju, Rudy Gaol, memastikan pihaknya memperjuangkan 55 persen suara warga Surabaya memilih kotak kosong. 

Bahkan, pihaknya juga telah menyiapkan relawan, juru kampanye, hingga alat peraga yang akan disebarkan ke masyarakat. 

"Yang saya siapkan itu ada 5.200 data yang sudah masuk dan siap menjadi saksi di TPS. Saya juga siapkan juru-juru kampanye untuk melakukan sosialisasi ke warga," kata Rudy ketika ditemui di lokasi, Selasa (17/9/2024).

Rudy menjelaskan, jika kotak kosong menang akan bermanfaat bagi warga Surabaya. Pertama, ketika petahana atau calon tunggal itu kalah, maka pemerintah pusat melalui Kemendagri akan menunjuk PJ selama satu tahun, dan kemudian akan digelar Pemilu ulang.

"Pada saat itu, Eri Cahyadi tidak boleh mencalonkan sebagai kepala daerah dan akan muncul calon-calon lain sebagai kepala daerah di kota Surabaya yang bisa dipilih warga Surabaya secara langsung," jelasnya.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada warga Surabaya agar memilih kotak kosong dalam Pilwali tahun ini.  "Kita sudah melihat sejak periode 2021 sampai hari ini, ternyata Eri Cahyadi tidak dapat memberikan troboson atau kemampuan yang signifikan bagi warga Surabaya. Surabaya dengan PAD terbesar di Indonesia tidak mampu menghadirkan atau memberikan bekal kepada anak-anak muda Surabaya untuk menghadapi dunia digital. Artinya, Eri Cahyadi tidak paham tantangan zaman, dia hanya mau melegalkan kekuasaannya saja," tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator umum kegiatan Hariono menargetkan menang 70 persen, melawan petahan. 

"Sesuai survei kita enggak muluk-muluk, yang penting kotok kosong menang. 50+1 pun sudah cukup. Dan wali kota akan ditunjuk sama Kemendagri. Dan wali kota yang dipilih sekarang sudah tidak diinginkan warga Surabaya," tutupnya. (*)

Reporter: Amanah | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.