03 April 2025

Get In Touch

ISPA Mendominasi Penyakit Selama Musim Kemarau, Dinkes Kota Malang Catat 39 Kasus Per Hari

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lenteratoday)
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lenteratoday)

MALANG (Lenteratoday) – Selama musim kemarau tahun ini, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mendominasi kasus penyakit yang terjadi di Kota Malang. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat rata-rata terdapat 39 kasus ISPA per hari, seperti yang terjadi di Puskesmas Janti, Kecamatan Sukun.

"Kasus ISPA saat ini mendominasi penyakit di musim kemarau, rata-rata kasus ISPA per hari di Puskesmas Janti misalnya 39 kasus. Ini tidak sama di setiap puskesmas," ujar Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, Sabtu(21/9/2024).

Husnul menjelaskan ISPA umumnya dapat menyerang siapa saja, tetapi kelompok paling rentan terkena ISPA menurutnya yakni balita, lansia, dan anak sekolah.

"Karena daya tahan tubuh mereka lebih lemah, dibandingkan kelompok usia lainnya," tambahnya.

Menurut Husnul penyebab ISPA dapat berasal dari faktor eksternal maupun internal, sisi eksternal Husnul menyebut kondisi lingkungan, aktivitas individu, dan cuaca sebagai penyebab utama. Namun, dari sisi internal, daya tahan tubuh atau imunitas juga memegang peranan penting dalam mencegah penyakit ini.

"Tapi yang pengaruhnya banyak, itu kan biasanya dari luar, dari lingkungannya, di keluarganya misalnya atau tempat kerja," jelasnya.

ISPA sendiri, lanjut Husnul merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Dijelaskannya ISPA dapat mengganggu seluruh bagian saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga ke tenggorokan. Itu sebabnya, sambung Husnul, gejala ISPA dapat bervariasi, dari batuk, pilek, hingga sesak napas.

Lebih lanjut, dalam hal pengobatan, rata-rata penderita ISPA di Kota Malang memerlukan waktu 2 hingga 3 hari untuk sembuh dengan perawatan di puskesmas. Namun, untuk kasus yang lebih parah atau jika ISPA disertai penyakit lain, waktu pengobatan dikatakan oleh Husnul, dapat mencapai satu minggu.

Tak hanya itu, penggunaan antibiotik untuk pengobatan ISPA, kata Husnul juga tidak selalu diperlukan.

"Tergantung kasusnya itu tadi. Kalau cuma gangguan pernafasan biasa, tanpa disertai antibiotik, bisa," terangnya.

Menanggapi anggapan bahwa cuaca kering dan kebiasaan minum air es dapat memicu ISPA, Husnul menegaskan hal tersebut tergantung pada kondisi masing-masing individu.

"Ada yang sering minum es tapi tidak masalah. Tapi, untuk amannya, sebaiknya konsumsi air mineral biasa atau air hangat," sarannya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.