
SURABAYA (Lenteratoday) — Tiga delegasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengikuti konferensi internasional The Council of University Presidents of Thailand-The Council of Rector of Indonesian State University (CUPT-CRISU) ke-15 yang berlangsung di Thailand.
Ketiga delegasi tersebut diantaranya Direktur Transformasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran, Fida Rachmadiarti, Kepala Badan Penjaminan Mutu, Widowati Budijastuti, dan Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah, Nadi Suprapto.
Konferensi yang diselenggarakan oleh Prince of Songkla University (PSU), di bawah naungan Dewan Presiden Universitas Thailand (CUPT) di Arnoma Grand Hotel Bangkok, Thailand ini mengusung tema “Charting the Path to Sustainable Universities: A Holistic Approach to Environmental-Social-Governance (ESG) Integration”.
Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah, Nadi Suprapto mengatakan, ESG yang menjadi sorotan dalam agenda ini merupakan sebuah konsep yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2004. Saat itu, konsep didasarkan sebagian besar pada profitabilitas lembaga, yang dievaluasi berdasarkan kinerja keuangan.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap isu-isu lingkungan, sosial, dan tata kelola, kebutuhan untuk mengevaluasi komitmen lembaga dalam mengatasi masalah tersebut pun meningkat.
Kegiatan tersebut dibuka Niwat Keawpradub, Vice Chair of the Council of University Presidents of Thailand (CUPT), sekaligus Presiden, Prince of Songkla University (PSU). Secara bergantian para pemimpin universitas dari Thailand dan Indonesia menawarkan ide-idenya sesuai tema.
"Salah satu wakil dari Indonesia, Eduart Wolok sebagai Acting Chairman, Council of Rector of Indonesian State University (CRISU) yang sekaligus Rektor Universitas Negeri Gorontalo juga memberikan sambutan," ucapnya, Selasa (15/10/2024).
Sementara itu, Guru besar Unesa Fida Rachmadiarti menambahkan bahwa, isu-isu lingkungan seperti carbon footprint, waste management, deforestation atau reforestation, resource conservation, dan climate change harus menjadi perhatian universitas atau lembaga untuk mendukung konsep yang digaungkan PBB tersebut.
"Isu ini menjadi tantangan bagi tatanan masyarakat global, sehingga harus menjadi perhatian bersama dan mampu diterjemahkan dalam bentuk program-program praktis di masing-masing institusi dan lembaga," tuturnya.
Widowati menambahkan, selain isu lingkungan dan perubahan iklim tersebut, isu lain seperti diversity, equity, inclusion, sexual harassment prevention, working conditions, dan product safety juga harus diperhatikan sebagai isu sosial yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
"Ini menjadi isu global, karena itu misalnya seperti bagaimana mengatasi kekerasan seksual sampai bullying misalnya perlu komitmen dan kolaborasi antar lembaga. Dengan pertemuan ini artinya ada komitmen bersama untuk memberikan perhatian lebih terhadap isu yang dibahas," tambah Widowati.
Dalam aspek good governance, Widowati mengatakan, jika hal itu juga penting untuk menggarisbawahi lobbying, tata kelola lembaga yang baik, komite audit yang tepat untuk sebuah universitas yang sehat.
Selain menyoroti isu dan tantangan mutakhir, forum ini juga menyepakati bahwa CUPT-CRISU tahun 2025 akan diselenggarakan di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), sekaligus memperkenalkan IKN kepada civitas akademika luar negeri, khususnya Thailand.(*)
Reporter: Amanah/ADV | Editor : Lutfiyu Handi