04 April 2025

Get In Touch

Kejar Ketertinggalan Skor PISA, Ini Strategi Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Tempo/Martin Yogi Pardamean
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Tempo/Martin Yogi Pardamean

JAKARTA (Lenteratoday) - Ketertinggalan skor Programme for International Student Assessment (PISA) membuat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti berusaha mengejarnya. Strategi yang digunakan diantaranya dengan meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran sains dan teknologi, khususnya di bidang numerasi.

Strategi tersebut diterapakan lantara kemampuan berhitung dan memahami angka atau numerasi masyarakat Indonesia dari kalangan peserta didik hingga dewasa terbilang masih rendah. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap pelajaran matematika sebagai momok.

“Numerasi kita kan masih rendah selain literasi kita juga masih rendah, bahkan sekarang di kalangan sebagian pelajar itu matematika menjadi momok karena dibilang matematika ini buat kita mati-matian. Jadi kami mau buat matematika nantinya menyenangkan dan dapat diajarkan secara mudah,” kata Mu'ti usai Peresmian Pameran Bulan Bahasa di Kantor Kemendikdasmen di Jakarta Pusat pada Senin (28/10/2024).

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menilai kemampuan bidang numerasi sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan termasuk pada aspek kegiatan beragama, seperti untuk menghitung arah kiblat yang menggunakan logika sudut matematika.

Oleh karena itu, pihaknya akan bergerak cepat guna mewujudkan pesan Presiden Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan angka pelatihan guru matematika, khususnya untuk mengenalkan konsep dasar matematika kepada peserta didik di satuan pendidikan dasar.

“Karena itu Pak Prabowo juga menekankan angka pelatihan guru matematika yang kami sedang susun programnya. Mudah-mudahan bisa kami laksanakan di tahun 2025, terutama untuk matematika dari TK dan SD, tapi memang bukan matematika yang serius ngitung, lebih sebagai pengenalan konsep-konsep dasar matematika,” imbuhnya.

Ia berharap hasil dari program penguatan minat dan kemampuan siswa pada bidang numerasi dasar tersebut dapat dilihat hasilnya dalam beberapa tahun mendatang, yang pada gilirannya dapat menguatkan kemampuan peserta didik pada bidang numerasi lanjutan.

Untuk diketahui, PISA adalah program evaluasi sistem pendidikan di berbagai negara dan membandingkan kinerja siswa dalam bidang membaca, matematika, dan sains. Program ini diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan diselenggarakan setiap tiga tahun.

Program PISA di Indonesia melibatkan siswa kelas VIII SMP dan kelas X SMA/SMK yang berusia 15 tahun. Pada tahun 2022, Indonesia menempati peringkat ke-66 dari 81 negara yang mengikuti PISA.

Namun, Skor PISA Indonesia dalam literasi membaca turun 12 poin dari 371 di 2018 Menjadi 359 di 2022. Sementara itu, skor literasi matematika turun dari 379 di tahun 2018 menjadi 366 di tahun 2022. Pada literasi sains, skor PISA juga mengalami penurunan. Terdapat penurunan 12 poin dari tahun 2018 dari 396 menjadi 359 di 2022. (*)

Sumber : Tempo | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.