04 April 2025

Get In Touch

Soal Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Akademisi UNAIR: Pertimbangkan Aspek Lain

Akademisi Universitas Airlangga (Unair), Moordiati (Dok. Pribadi)
Akademisi Universitas Airlangga (Unair), Moordiati (Dok. Pribadi)

SURABAYA (Lenteratoday) -Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Timur beulm lama ini mengusulkan nama Presiden RI ke-2, Jenderal Besar TNI (Pur) Soeharto mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. 

Menanggapi hal itu, Akademisi Universitas Airlangga (Unair), Moordiati, mengungkapkan, jika usulan ini sah secara politis karena Golkar ingin memberikan legitimasi terhadap kontribusi Soeharto dalam membesarkan partai.

"Pak Harto adalah tokoh pertama yang membawa Golkar menjadi besar. Jika usulan ini muncul dari Partai Golkar, tentu tidak ada masalah,” ungkap dosen Fakultas ilmu budaya program studi ilmu sejarah ini, Jumat (1/11/2024).

Meski demikian perlu ada mempertimbangkan aspek lain dalam pengusulan tersebut. 

Menurutnya, meskipun Soeharto berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada beras dan dikenal dengan berbagai pembangunan fisik, ada sisi lain yang perlu diperhitungkan. 

“Dalam pandangan akademisi, ada berbagai nilai yang perlu diperhatikan sebelum menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Selain jasa, perlu melihat konteks yang lebih luas tentang kontribusi dan dampak kepemimpinannya,” tuturnya.

Moordiati menyebut, meski banyak pengikutnya yang merindukan era Soeharto, terdapat kekhawatiran akan relevansi simbol-simbol budaya yang Soeharto representasikan.

“Bagi sebagian orang, Pak Harto memang merepresentasikan simbol ke-Jawa-an yang kental. Dia berhasil menampilkan budaya Jawa dalam lingkup nasional, yang bisa jadi dianggap sebagai jawasentris. Namun, ini menjadi pertimbangan apakah kehadiran simbol budaya itu bisa diterima secara luas dalam kerangka Pahlawan Nasional,” jelasnya.

Ia menilai bahwa kontribusi Soeharto bisa lebih kontekstual jika dinilai dalam lingkup “pahlawan pembangunan,” bukan sebagai “bapak bangsa.”

“Contoh real zamannya Pak Harto yang berkuasa selama 32 tahun itu, tidak ada satupun anaknya yang diusulkan masuk dijalur birokrat. Artinya pak Soeharto tidak pernah melanggar aturan demokratis. Nah itu yang kemudian memorehkan sejarah buat orang-orang pengikut soeharto,” tambahnya.

Untuk itu, Ia menyatakan perlu dilihat kembali apa yang menjadi warisan pembangunan Soeharto saat ini dan apakah itu masih relevan dengan pembangunan zaman sekarang. 

"Tentunya usulan ini akan menjadi bahan diskusi yang panjang di kalangan masyarakat, akademisi, dan politisi, terutama mengingat perjalanan sejarah dan kontribusi Soeharto selama 32 tahun memimpin Indonesia," tukasnya.

Sementara itu, Dosen fakultas ilmu Kebijakan Publik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Alim Basa Tualeka mengatakan bahwa pengusulan nama Soeharto oleh Golkar sebagai sebuah ungkapan terimakasih dari partai Golkar atas kiprah Soeharto.

Ia menilai kiprah Soeharto yang selalu memegang teguh administrasi negara menjadi legacy bagi Soeharto untuk bisa diusulkan menjadi pahlawan selain sebagai bapak pembangunan.

“Dalam kacamata saya pengusulan nama soeharto ini bisa dilihat dari kebijakan-kebijakan pak Soeharto yang selalu melangkah mengutamakan kebijakan negara,” tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.