Produksi Susu Capai 140 Juta Kg, Pemkab Malang Dorong Peningkatan Kualitas dan Diversifikasi Olahan

MALANG (Lenteratoday) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan kualitas susu dan diversifikasi olahan produk susu di wilayahnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Kabupaten Malang tercatat sebagai penghasil susu terbesar di wilayah tersebut dengan produksi susu mencapai lebih dari 140 juta Kg di sepanjang tahun 2023.
"Iya, tentunya hal ini harus selalu didorong pengoptimalan produksinya melalui Dinas Peternakan. Agar dinas yang terkait ini terus melakukan pendampingan terhadap para peternak yang ada, termasuk terhadap daerah persebarannya," ujar Plt Bupati Malang, Didik Gatot Subroto, Senin (11/11/2024).
Saat ini, beberapa kecamatan seperti Pujon, Ngantang, Kasembon, Gedangan, dan Kalipare, menjadi penyumbang terbesar dalam produksi susu perah di Kabupaten Malang. Didik berharap agar kecamatan lain juga dapat menjadi daerah penghasil susu perah yang unggul.
Untuk mencapai hal tersebut, menurutnya Pemkab Malang berencana mengoptimalkan edukasi kepada para peternak sapi perah di seluruh wilayah, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu.
Lebih lanjut, Didik juga menyampaikan upaya Pemkab Malang dalam mengembangkan produk olahan susu sebagai cara untuk meningkatkan nilai tambah dari produksi susu yang melimpah.
Salah satunya dengan mendukung peningkatan kapasitas produksi keju Gouda yang dihasilkan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan dan Pengolahan Hasil Ternak Malang. "Jika permintaan pasar terhadap keju meningkat, tidak ada salahnya untuk meningkatkan kapasitas produksi keju di UPT ini," kata Didik.
Peningkatan kapasitas produksi keju ini diharapkan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi pendapatan peternak, tetapi juga bagi perekonomian Kabupaten Malang secara keseluruhan.
"Kami akan terus mendorong agar produk susu yang dihasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk susu cair murni, tetapi juga dalam bentuk produk olahan seperti keju yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," imbuhnya.
Namun, di tengah upaya Pemkab Malang mendukung peningkatan produktivitas susu perah, Didik mengakui pengelolaan limbah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sektor peternakan sapi perah di Kabupaten Malang.
Menurutnya, masih ada beberapa wilayah yang belum optimal dalam mengelola limbah kotoran sapi, yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar. Didik pun meminta agar edukasi tentang pengelolaan limbah yang ramah lingkungan menjadi salah satu fokus utama yang harus digencarkan oleh Dinas Peternakan.
"Sanitasi dan pembuangan limbah sapi ini penting. Kami ingin agar sektor peternakan ini tidak hanya meningkatkan perekonomian, tetapi juga tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat di sekitar peternakan," tutupnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi