04 April 2025

Get In Touch

Waspada Potensi Bencana Hidrometeorologi, Pemkot Batu Tetapkan Status Siaga

Pj Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai.(foto:ist/dok. Prokopim Kota Batu)
Pj Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai.(foto:ist/dok. Prokopim Kota Batu)

BATU (Lenteratoday) - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menetapkan status siaga bencana, sejak 1 November 2024 hingga 30 April 2025. Guna menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, yang kerap terjadi diwilayahnya.

Pj Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh pihak dengan lima arahan utama, terkait potensi terjadinya bencana di wilayah Kota Batu diantaranya tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, letusan gunung berapi, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan.

"Siaga bencana ini tentunya dengan memperhatikan enam potensi bencana utama di Kota Batu, oleh karena itu berdasarkan Surat keputusan (SK) Wali Kota status siaga bencana di Kota Batu ditetapkan mulai 1 November 2024 hingga 30 April 2025," ujar Aries, Selasa(12/11/2024).

Disebutkannya berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, tercatat sebanyak 206 bencana terjadi sepanjang tahun 2023 lalu. Dimana sebanyak 72 persen dari bencana tersebut merupakan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir, sedangkan bencana geologi mencapai 17 persen, dan 11 persen lainnya disebabkan oleh faktor manusia.

"Sementara di tahun 2024 hingga bulan Oktober 2024 kemarin, telah terjadi setidaknya 88 kejadian bencana alam, yakni tanah longsor mendominasi sebanyak 41 persen, banjir 16 persen, angin kencang 31 persen dan kebakaran hutan 12 persen," jelasnya.

Adapun 5 arahan strategis yang ditekankan Aries untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat, yakni pertama evaluasi kesiapsiagaan bersama, dengan memastikan sarana dan prasarana bencana di Kota Batu siap digunakan.

Kedua, Aries menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan pelatihan berkala, khususnya untuk pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penanganan bencana.

"Ketiga, pengurangan risiko bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi semua pihak harus memiliki pemahaman yang sama untuk mengurangi dampaknya," tegas Aries.

Keempat, Aries juga memfokuskan pentingnya penguatan komunikasi di tingkat desa dan kelurahan.

"Arahan kelima adalah peningkatan kerja sama lintas sektoral, yang berarti setiap instansi dan elemen masyarakat harus bersinergi dalam menghadapi kemungkinan bencana," tuturnya.

Tidak hanya masyarakat umum, Aries juga mengimbau pihak sekolah untuk memperhatikan kesiapan fasilitas mereka.

"Karena sangat penting bagi kita untuk menjaga keselamatan siswa dalam proses belajar mengajar yang tertib dan aman," tukasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho menambahkan Kecamatan Bumiaji, termasuk wilayah Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, Sumbergondo, Gunungsari, Punten, dan Bulukerto, merupakan daerah yang paling rawan bencana di Kota Batu.

Sedangkan untuk ancaman banjir genangan, lanjut Gatot umumnya terjadi di wilayah perkotaan dan beberapa bagian Kecamatan Junrejo yang letaknya berada di dataran rendah.

"Tentu bencana hidrometeorologi ini siklus yang selalu kami antisipasi setiap musim hujan, khususnya di empat curah yang ada. Yakni di Jurang Susuh, Sengonan, Pusung Lading, dan Krecek yang semuanya berada di wilayah Kecamatan Bumiaji," tegasnya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.