04 April 2025

Get In Touch

Menakar Peluang Paslon di Pilkada Kota Malang, Akademisi UB: Undecided Voters Bisa Jadi Kunci Penentu

Dosen Fisip UB, Wawan Sobari, Ph.D. (dok. FISIP UB)
Dosen Fisip UB, Wawan Sobari, Ph.D. (dok. FISIP UB)

MALANG (Lenteratoday) - Menjelang Pilkada Kota Malang 2024, ketiga calon Wali Kota Malang, yakni Mochamad Anton, Wahyu Hidayat, dan Heri Cahyono, tengah bersaing ketat untuk merebut dukungan pemilih.

Namun, menurut analisis dosen Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya, Wawan Sobari, Ph.D., pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) dapat menjadi faktor penentu dalam kontestasi ini.

Meskipun Abah Anton memimpin dalam survei elektabilitas, Wawan menekankan jumlah undecided voters yang besar, yakni mencapai 39-44 persen, akan menjadi tantangan tersendiri bagi para kandidat.

"Kunci kemenangan di Pilkada ini akan sangat bergantung pada kemampuan kandidat untuk menarik pemilih yang masih ragu. Perlu ada strategi komunikasi khusus untuk menjangkau kelompok pemilih ini," ujar Wawan, Jumat (22/11/2024).

Wawan menjelaskan, Abah Anton, yang mendominasi dukungan di hampir semua demografi pemilih, menghadapi risiko pemilih yang masih labil dan dapat beralih pilihan tergantung isu yang muncul menjelang pemungutan suara.

"Tingginya jumlah pemilih undecided dan pemilih lemah menjadi tantangan utama. Anton perlu mempertahankan momentum dan mengurangi sentimen negatif melalui kampanye positif," jelasnya.

Sementara itu, untuk Wahyu Hidayat yang menempati posisi kedua dalam survei, menurut Wawan menunjukkan peluang untuk memperkecil selisih dengan Anton.

Wawan menambahkan, dari beberapa data lembaga survei, elektabilitas Wahyu berkisar antara 10-36 persen, menunjukkan ia memiliki potensi besar untuk meraih lebih banyak suara, terutama dari kalangan pemilih muda dan kelas menengah.

"Wahyu memiliki peluang signifikan untuk memanfaatkan undecided voters dengan fokus pada program konkret dan komunikasi intensif dengan pemilih muda," tambahnya. Namun, Wawan juga mengingatkan Wahyu untuk memperkuat jangkauan pemilih berusia 50 tahun ke atas, yang cenderung lebih loyal kepada paslon nomor urut 3, Abah Anton-Dimyati Ayatulloh.

Di sisi lain, Wawan menyampaikan, Heri Cahyono berada di posisi ketiga dengan elektabilitas yang lebih rendah, yakni sekitar 9-17 persen. Meskipun didukung oleh partai PDIP, sambungnya, Sam HC masih harus menghadapi kesulitan untuk menarik pemilih yang lebih luas. Basis pendukung utamanya yakni pemilih muda, namun cakupannya masih terbatas.

“Strateginya harus menggaet pemilih yang menginginkan perubahan. Dukungan dari PDIP dapat dioptimalkan jika sinkron dengan program yang menarik," kata Wawan.

Sobari mengingatkan, undecided voters cenderung dapat dipengaruhi oleh isu-isu terbaru dan program-program yang relevan dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, penting bagi kandidat untuk fokus pada komunikasi yang tepat dan dapat diterima oleh kelompok ini.

"Komunikasinya bisa dengan narasi yang konsisten. Misalnya, untuk Mochamad Anton, usung narasi dengan menyoroti hasil kerja nyata. Untuk Wahyu Hidayat, narasikan inovasi dan komitmen terhadap perbaikan. Kemudian untuk Heri Cahyono, tonjolkan diri sebagai wajah perubahan yang membawa angin segar bagi Kota Malang," tukasnya. (*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.